
| Rabu, 14 Mei 2003 | Sala |
Kenapa Tak Meniru Yogya?KARANGASEM - Beragam pendapat dilontarkan sejumlah wakil rakyat, dalam menilai pelaksanaan Sekaten di Alun-alun Lor Keraton Surakarta. Sekretaris Komisi B (Bidang Pariwisata), Bambang Rusiantono, dan anggota Komisi D (Bidang Perhubungan), Zaenal Arifin, memandang, penyelenggaraan tiap tahun Sekaten di Solo, selalu kental dengan suasana kesemrawutan. ''Setiap pelaksanaan Sekaten, selalu terjadi persoalan parkir, penataan pedagang, dan perjudian. Karena itu, sebaiknya Pemkot segera berinisiatif mengadakan koordinasi dengan Parentah Keraton, untuk mengemas acara Sekaten menjadi lebih baik,'' kata Bambang, di Gedung Dewan setempat, kemarin. Dengan demikian, diharapkan keramaian pasar rakyat di seputar Alun-alun Lor dan Pagelaran Keraton Surakarta, tidak mengganggu acara ritual Sekaten yang merupakan acara inti peringatan Maulud Nabi Muhammad, versi keraton. Sebab, lanjut dia, bisa saja wisatawan yang ingin menikmati ritual tersebut akhirnya enggan karena melihat situasi lalu lintas di seputar arena Sekaten tersendat-sendat. Sementara Zaenal menyarankan, pelaksanaan Sekaten di Solo sebaiknya meniru penyelenggaraan Sekaten di Yogyakarta. Menurutnya, acara Sekaten dan keramaian pasar rakyat di Yogya, lebih teratur dan tertata, karena terjadi koordinasi yang baik antara Pemda dan keraton setempat. ''Kalau penyelenggaraan Sekaten di sana lebih baik, kenapa kita tidak meniru Yogya saja? Kontribusi bagi keraton dan pemdanya juga lebih transparan,'' katanya. Wajar Sementara itu, Bandung Joko Suryono, Sekretaris Komisi D lebih menyoroti masalah lalu lintas seputar arena Sekaten. Dia mengungkapkan, sebenarnya para petugas Polri sudah serius mengatur kendaraan di Gladak dan ruas-ruas sekitar Keraton. Tetapi karena saat kegiatan Sekaten jumlah pengunjung luar biasa banyaknya, wajar kalau terjadi kesemrawutan. ''Pedagang yang menggelar dagangan di jalan dekat Gapura Gladag, saya rasa juga wajar, karena lingkup itu masih cakupan keraton, dan mereka cari untung dengan menggunakan tempat strategis,'' ujarnya. Sementara anggota Komisi C, RM Kus Raharjo yang tinggal di kampung Carikan kesemrawutan terjadi karena masyarakatnya memang tidak tertib. ''Saya maklum atas keramaian selama Sekaten, karena hal itu memang dikehendaki masyarakat bawah, meski konsekuensinya semrawut. Kalau puluhan tahun lalu, memang tak semrawut karena kendaraan sedikit. Pengunjung naik andong, lalu jalan kaki,'' tuturnya. Tetapi karena sekarang jumlah kendaraan semakin banyak, sementara lokasi-lokasi parkir juga mendekati arena Sekaten, terjadi kesemrawutan. ''Kalau disepakati, lokasi-lokasi parkir itu ya ditempatkan di area yang lebih jauh, misalnya di daerah Pasar Gede atau Gading. Tapi Pemkot dan Panitia Sekaten juga harus tegas,'' tandasnya.(D11-51) |