
| Rabu, 14 Mei 2003 | Sala |
Sekaten di Alun-alun Lor Semrawut
ALUN-ALUN LOR- Menjelang puncak ritual Sekaten 2003, kawasan Alun-alun Lor Keraton Surakarta, semakin semrawut. Pedagang tiban semakin merebak. Sebagian di antara mereka menggunakan badan jalan untuk berjualan, seperti di simpang tiga dekat Gapura Bathangan, simpang tiga pintu masuk dari Gladag, dan pertigaan sisi utara depan Masjid Agung. Bahkan ruas jalan di Gapura Gladag dipadati dasaran PKL. Padahal, masih ada bagian-bagian di lahan Alun-alun Lor yang kosong. Ruang-ruang kosong itu dimanfaatkan pedagang untuk membuang sampah dan menjemur pakaian, sehingga menimbulkan kekumuhan. ''Pedagang Sekaten dari tahun ke tahun biasanya orang yang sama. Antar mereka, telah ada kesepakatan tertentu, sehingga tempat-tempat itu seakan sudah ada yang punya,'' tutur Daryono, Sekretaris Panitia Pelaksana Sekaten 2003. Salah seorang pedagang makanan, Sabari, membenarkan adanya kesepakatan tak tertulis itu.
Sejak beberapa tahun silam, dia mendirikan stan di tempat yang jaraknya dekat dengan jalan. Seandainya ia belum berjualan pun, tak ada pedagang yang mau menempatinya karena pakewuh. ''Kita ini (para pedagang-Red) cari makan dan ketemu bukan hanya di sini. Kalau bisa menjaga hubungan baik kan tidak ada salahnya,'' tutur pria berusia 45 tahun tersebut. Permak Celana Menurut Daryono, menata stan-stan pedagang, terutama yang berada di Alun-alun Lor, ibarat mempermak celana yang kekecilan. Arealnya terbatas, sementara jumlah pedagangnya terus bertambah. Jadi sangat sulit. Para pemilik stan biasanya lebih dulu datang sebelum acara Sekaten dimulai. Akibatnya, ketika acara puncak ritual peringatan maulud versi Keraton, berlangsung, panitia kesulitan menatanya. Padahal, saat ini tercatat 100 stan dan 100 PKL di Pagelaran, serta ada sekitar 300 stan dan ratusan PKL di Alun-alun. Dia menuturkan, harga sewa stan di Pagelaran Keraton Surakarta dan lahan Alun-alun Lor selama tiga tahun ini tidak mengalami kenaikan. Di Pagelaran, sewanya berkisar Rp 350 ribu-Rp 1,6 juta, tergantung lokasi dan ukuran kios. Misalnya, kios berukuran 3 m x 4 m yang berada di tengah sewanya sekitar Rp 1,1 juta. Sementara kios ukuran 6 m x 4 m, sewanya Rp 1,6 juta. Di Alun-alun Lor, sewa stan Rp 30 ribu-Rp 300 ribu. Seluruh stan di lajur jalan paving yang membelah Alun-alun, sewanya Rp 300 ribu. Sedangkan PKL, dikenai retribusi Rp 30 ribu selama acara berlangsung. ''Meski biaya operasionalnya terus naik, namun ISKS Paku Buwono XII tidak memperkenankan menaikkan harga stan selama panitia masih bisa mengelola. Padahal, untuk biaya listrik saja kenaikannya hampir 100 persen,'' tutur KP Satryo Hadinagoro, Ketua Panitia Sekaten. Tidak naiknya harga stan, menurut dia, juga karena sebagian pedagang sering nunggak pembayaran sewa, dengan alasan dagangannya tidak laku. ''Sewa Rp 25 ribu per bulan saja sering tak dibayar dengan alasan dagangan tak laku. Apa kita mau memaksa?'' Meski tak naik, lanjut dia, penyewa stan di Alun-alun Lor mengalami penurunan yang cukup signifkan dibanding tahun sebelumnya, terutama pedagang makanan. Penurunan jumlah tersebut disebabkan adanya acara tradisonal di lain daerah yang waktunya hampir bersamaan seperti di Sragen dan Karanganyar.
Kata menantu ISKS Paku Buwono XII itu, Sinuhun menginginkan Sekaten jadi hiburan bagi rakyat dan selama rakyat bisa bakda, profit bukan hal utama. Hal itu pula yang menyebabkan Sekaten sulit untuk dikelola pihak swasta. (D11,G18-51) |