logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 14 Mei 2003 Berita Utama  
Line

Membelotnya Sang Panglima

''Saya Ingin Menghadap Pak Noerdin...''

MINGGU malam, 11 Mei lalu, satu hari menjelang deadline bagi GAM, di Hotel Kuala Tripa, Banda Aceh, anggota Joint Security Committee dari Indonesia sedang mengemasi barang-barangnya untuk bersiap-siap ke Jakarta. Suasana Banda Aceh sendiri beberapa hari belakangan semakin mencekam.

Saat itu, seorang utusan Pemerintah RI di JSC, Letnan Kolonel Embu Agapitus, juga tengah bersiap-siap. Tiba-tiba sekitar pukul 02.30 Senin (12/5) dini hari, telepon di kamarnya berbunyi. Meski waswas dia tetap mengangkatnya.

Ternyata telepon itu berasal dari sebuah kamar di lantai empat, tempat anggota JSC dari GAM menginap. Dia bersama anggota JSC Indonesia lainnya mendiami lantai dua.

"Pak Embu, saya ingin sekali menghadap Pak Noerdin (Brigjen Marinir Safzen Noerdin, ketua perwakilan Indonesia di JSC)," ujar pemilik suara di seberang yang belakangan diketahui adalah Panglima Operasi GAM di Tiro Tengku Amri bin Abdul Wahab. "Ada apa?" jawab Embu dengan perasaan waswas. "Saya ingin menyerah," kata Tengku yang juga anggota JSC ini.

Tentu saja hal ini membuat Embu kaget, mengingat Amri adalah salah satu petinggi GAM yang cukup berpengaruh dan dominan. Dia meminta waktu untuk membicarakan hal ini kepada Brigjen Safzen Noerdin.

Perasaan kaget juga meliputi perasaan Noerdin setelah dia mendapat kabar mengenai hal itu dari anak buahnya sekitar pukul 02.45 WIB dini hari. Sesaat dia terdiam. Dia tak serta merta mengiyakan permintaan salah satu orang dekat Panglima GAM Muzakir Manaf itu.

"Pada saat itu saya tidak mengatakan ya dan langsung rapat. Kami berpikir, benarkah ini semua ataukah hanya pancingan?," ujarnya dalam keterangan pers di Kantor Menko Polkam, Jakarta, Selasa (13/5) kemarin.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam menanggapi hal itu. Pertama, benarkah dia mau menyerah? Kedua, apakah memang bisa dipercaya? Apakah dia hanya sendirian atau membawa orang lain?

Noerdin juga mengaku kesulitan untuk mengambil keputusan, karena para pejabat setempat seperti Kapolda Aceh dan Pangdam Iskandar Muda tidak bisa dihubungi.

Ingin Menyerah

Akhirnya Noerdin menanyakan kembali kepada Amri, masih melalui telepon. Ketika ditanya apakah dia saja yang bersedia menerima otonomi khusus atau juga dengan teman-teman yang lainnya, Amri menjawab dia sendiri dan tidak tahu-menahu dengan teman-teman lain. "Apa maunya?" tanya Noerdin. "Saya ingin menyerah dan ikut Bapak ke Jakarta," jawab Amri.

Ditanya lagi apakah dia membawa senjata, Amri menjawab, tidak pernah membawa senjata sejak menginap di Kuala Tripa dan barang-barang sudah siap sekarang. Akhirnya para anggota JSC menyimpulkan permintaan itu adalah satu hal yang perlu ditanggapi. Masalah belum juga selesai. Mereka lalu berembuk bagaimana cara mengeluarkannya dari hotel, karena keadaan yang tidak aman bagi keselamatan Amri.

Lalu mereka sepakat dengan cara Amri harus turun lewat lift dari lantai empat ke lantai dua. Juga dia harus bersedia digeledah begitu sampai di bawah. Sementara itu, satu mobil pun telah disiapkan di pintu belakang hotel. Semua dilakukan dengan hati-hati tanpa sepengetahuan petugas hotel.

Saat yang ditentukan pun tiba. Semua anggota diliputi oleh suasana tegang. Suasana semakin bertambah tegang ketika lift yang ditempati Amri ternyata tidak berhenti di lantai dua. "Jangan-jangan Amri melarikan diri. Dari lampu lift, kelihatan angka empat menyala, kemudian ke angka tiga, angka dua. Lo kok tidak berhenti? Malah langsung ke angka satu," tutur Noerdin

Untunglah ketika sampai lantai satu, pintu lift pun terbuka. Dengan santai Amri keluar dan mengatakan dia kebablasan. Kemudian Amri pun digeledah dan diperiksa. Akhirnya Amri kembali dibawa ke lantai dua. "Ini kalau ketahuan akan berbahaya sekali. Kamu merasa terancam nggak?" tanya Noerdin. "Kalau di dalam hotel nggak, kalau di luar saya merasa terancam," ujarnya.

Setelah semuanya beres, Amri dibawa ke mobil yang telah disiapkan sebelumnya. Di sana juga telah menunggu beberapa anggota JSC untuk berjaga-jaga. Perlahan mobil itu pun melaju ke Lanud Blang Bintang dalam keheningan subuh.

Surat Pernyataan

Setelah pesawat Hercules TNI AU datang, bersama dengan anggota JSC dari Indonesia, Thailand, dan Filipina, Amri berangkat ke Jakarta. Atas permintaannya, dia tidak ingin kepergiannya ini diketahui oleh siapa pun. Sesaat sebelum naik pesawat, Amri disuruh membuat surat pernyataan menyerahkan diri dan menandatanganinya

Pernyataan tersebut berbunyi: "Dengan penuh rasa kesadaran dan atas keinginan hati saya serta tanpa tekanan dari pihak mana pun, maka hari ini Senin tanggal dua belas Mei pukul 02.45 WIB telah menyampaikan kepada pihak RI untuk menyerahkan diri. Segala sesuatu dari akibat penyerahan diri saya ini akan saya pertanggungjawabkan dan dengan ini saya nyatakan saya telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa tekanan atau paksaan dan sejujurnya, sekali lagi dengan penuh kesadaran yang tumbuh dari jiwa dan hati nurani sendiri."

Dilindungi

Mengenai keamanan Amri dan keluarganya, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Irjen Pol Bahrumsyah Kasman mengatakan, sudah dilindungi dari berbagai kemungkinan. Dia menjelaskan, sudah lama keluarga Amri berdomisili di Jakarta.

Menurut Bahrumsyah, teman-teman Amri di JSC sudah mengetahui begitu Amri bergerak menuju Bandara Sultan Iskandar Muda dari hotel.

"Di tengah perjalanan, Amri menelepon temannya Amni (Amni bin Ahmad Marzuki-Red). Bahkan secara informal Mayjen Tanongsuk Tuvinun (Koordinator JSC) juga tahu. Mereka berbicara di dalam pesawat," ungkapnya kepada pers di Mapolda NAD, Selasa (13/5).

Jenderal bintang dua yang sudah dua kali menjabat Kapolda NAD ini pun membantah jika utusan senior GAM di JSC, Sofyan Ibrahim Tiba, tidak mengetahui kepergian Amri dari Hotel Kuala Tripa, Banda Aceh.

"Amri itu keluar dari pintu depan hotel bersama Pak Safzen (Brigjen Safzen Noerdin-Red). Jadi, tidak ada itu sepuluh tentara berpakaian loreng yang disebut-sebut menculik Amri," tandas dia.

Tanpa Tekanan

Sesampainya di Jakarta, kemarin, Teungku Amri bin Wahab lengsung mengadakan jumpa pers. "Tanpa ada tekanan dari pihak mana pun, saya menyerahkan diri kepada RI dan mengakui keutuhan NKRI serta menerima otonomi khusus," katanya dengan tenang di depan puluhan wartawan di Kantor Menko Polkam, Jakarta, Selasa (13/5) sore.

Kehadiran salah satu petinggi GAM di kantor itu untuk memberikan keterangan pers sehari setelah penyerahan dirinya memang tidak disangka-sangka. Dengan mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah marun sosoknya jauh dari kesan seorang prajurit GAM. Dia didampingi pengacaranya, Subijakto Sahrudin, dari kantor pengacara Henry Yosodiningrat.

Diceritakannya, dia telah melihat dari berbagai sisi sampai pada satu kesimpulan bahwa mencapai kemerdekaan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Apalagi jika tidak mendapat dukungan dari dunia internasional.

Lalu dia juga menyadari apa yang terlah dilakukan Pemerintah Indonesia dengan memberikan otonomi khusus bagi Aceh adalah langkah yang sangat tepat. Sebab, dengan begitu pemerintah telah memberikan keleluasaan kepada rakyat Aceh.

Di sisi lain, dia juga melihat semakin hari GAM, terutama para petingginya, semakin jauh dari masyarakat Aceh. Dan, apa yang dilakukan GAM semuaya adalah rekayasa belaka. Artinya, jika GAM terus meminta untuk merdeka, maka tidak akan mencapai titik temu dengan keinginan Pemerintah Indonesia.

Lebih jauh dia mengatakan, apa yang dilakukan para pemimpin masyarakat di Aceh merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap rakyatnya.

"Saya memutuskan untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Apa pun yang saya lakukan adalah untuk kepentingan rakyat Aceh, bukan untuk kepentingan pribadi," tambah Amri.

Setelah melakukan langkah itu dia akan mengajak anggota-anggota GAM yang lain guna menyerahkan diri dan bergabung dengan Indonesia. Dia juga akan mengajak mereka mengakui semua kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini.

Menjawab pertanyaan, apakah dirinya tidak taku dianggap berkhianat, Amri mengatakan, dia tidak berkhianat kepada rakyat Aceh. Tetapi diakuinya, wajar jika GAM sebagai suatu organisasi, mengecap dirinya sebagai pengkhianat.

Ketika ditanya apakah tidak takut keluarganya akan diancam oleh GAM, dia menjawab, kembalinya dia kepada Ibu Pertiwi demi rakyat Aceh. Jadi, apa pun yang nanti akan terjadi kepada keluarganya adalah tanggung bersama bangsa Indonesia.

Dapat Amnesti

Terhadap sikap yang dilakukan oleh Amri ini, sesuai dengan yang pernah dijanjikan oleh Pemerintah RI, bagi yang memilih bergabung kembali dengan NKRI kemungkinan akan mendapat amnesti atau pengampunan.

"Sejauh ini yang kita katakan, kalau GAM itu segera sadar maka sudah menjadi komitmen pemerintah untuk memberikan amnesti," ungkap Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto kepada wartawan usai rapat terbatas kabinet di Istana Negara, Jakarta, Selasa (13/5).

Menurut Panglima TNI, saat ini Amri dalam kondisi baik dan mendapat perlindungan aparat di Jakarta. "Dia dalam keadaan bebas bersama kita dan kita lindungi keamanannya. Hari ini (kemarin - Red) dia ketemu David Gorman (salah seorang utusan Henry Dunant Center di Indonesia)," papar Endriartono. (B13,ant-16k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA