logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 14 Mei 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Penggemarnya Pilih Tempat Sederhana

BAGI warga asli Semarang, makanan tahu pong sudah tidak asing lagi. Makanan khas kota ATLAS ini berasal dari kata tahu kopong (kosong, tidak ada isinya-red), agar mudah mengatakannya, orang kemudian menyingkatnya menjadi tahu pong. Selain lumpia, tahu pong yang sudah terkenal sejak tahun 1940-an juga menjadi makanan khas kota ini.

Dari luar, bentuk tahu pong ini tak jauh berbeda dengan tahu goreng biasa. Hanya saja, dalam penyajiannya dilengkapi dengan telur bebek, gimbal udang dan sambal kecap yang dicampur petis. Tak lupa pula sebagai penyegar masakan diberi acar yang terbuat dari lobak.

Soal rasa, masakan ini memang memiliki ciri khas Semarang, yakni agak manis, sedikit pedas dan tentu saja tahu yang digoreng ini terasa renyah.

Di Semarang ada beberapa kedai dan warung yang menjajakan makanan ini. Salah satunya di Jalan Karangsaru, sekitar 100 meter dari Jalan MT Haryono (Mataram). Warung tahu pong itu memang tampak sederhana, hanya menggunakan tenda dan sejumlah meja kursi. Tetapi warung yang sudah berumur sekitar 50 tahun ini merupakan cikal-bakal makanan tahu pong di Semarang.

Ivan Samuel Thenu, pemilik warung tahu pong Karangsaru mengungkapkan usaha penjualan tahu pong pertama kali dirintis oleh mertuanya Cahyo Samudro pada tahun 1947 dengan membuka warung di Jalan Pringgading, sekitar tahun 1940-an. Ketika itu brand yang digunakan adalah ''Tahu Pong Semarang'' yang akhirnya nama tersebut mengukuhkan bahwa tahu pong merupakan makanan ciri khas Semarang.

''Sekitar tahun 1984 warung pindah ke Jalan Karangsaru yang kemudian usaha ini saya teruskan,'' kata Ivan.

Menurut bapak empat anak ini dalam menjalankan usahanya, ciri khas dan resep masakan dipertahankan seperti yang dirintis oleh mertuanya. Bahkan, warungnya pun dipertahankan tetap sederhana hingga sekarang. ''Sampai kapan pun kondisi seperti ini akan kami pertahankan, karena sudah menjadi ciri khas tahu pong Karangsaru,'' kata dia.

Sebenarnya, berbagai tawaran kerja sama untuk pindah ke tempat yang lebih representatif banyak mengalir. Namun, karena tempat yang sekarang digunakan sudah telanjur banyak dikenal pelanggan baik dari Semarang maupun luar kota, maka ia memilih bertahan.

''Pelanggan justru menyukai tempat yang sederhana, alasannya lebih santai dan Nyemarang,'' kata Ivan.

Jika dilihat dari kendaraan yang parkir di depan warung ini, pelanggan tahu pong Karangsaru yang harga satu porsinya rata-rata Rp 11.000 ini sebagian besar dari kalangan menengah ke atas. ''Pejabat-pejabat di Jakarta yang kebetulan ke Semarang pasti mampir ke sini, apalagi mereka yang asli Semarang,'' kata Ivan sambil menyebutkan nama sejumlah pejabat penting yang pernah makan di warungnya.

Bahkan, orang-orang Belanda yang reuni ke Semarang selalu menyempatkan diri merasakan tahu pong Karangsaru yang mulai buka sekitar pukul 16.00 ini. Tak sedikit di antara mereka ketika tinggal di Semarang menjadi pelanggan. (Arie Widiarto-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA