logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 14 Mei 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Pondok Penampung Korban Kerusuhan

SENIN (12/5) siang sekitar pukul 10.30. Sebanyak 57 anak-anak berusia antara 13 dan 16 tahun, terlihat tekun belajar di dua buah ruang kelas di Pondok Yatim Piatu ''Darma Lestari'' Pulutan Sidorejo Kota Salatiga.

Melihat bentuk fisik dan rambutnya, di antara mereka dipastikan ada yang berasal dari luar Jawa. Sebab, dari bentuk rambut dan kulitnya, terlihat berbeda. Sebagian di antara rambut mereka berambut keriting dan berkulit hitam.

''Memang, dari sebanyak 57 anak-anak yang sedang belajar di pondok ini, ada yang berasal dari daerah Indonesia timur,'' kata pimpinan pondok, Usman Mansyur kepada Suara Merdeka.

Kata dia yang didampingi pengelola lainnya, Harmanto, sebagian dari anak-anak di pondok ini ternyata menjadi korban kerusuhan di Poso dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebagian lagi para mualaf dan anak yatim piatu.

Namun sebagian besar dari mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 19 anak, Poso (11), Aceh (1), Kalimantan Timur (1), Indramayu (8), Jatim (3), sisanya berasal dari Jateng.

Latar belakang pendidikan mereka di daerah asalnya, bervariasi mulai dari SD hingga SMP. Hanya saja, saat sepuluh bulan yang lalu mereka mulai berlajar di pondok milik H Darmo Supono (pengusaha Jakarta) itu, semuanya disamakan duduk di kelas I SMP.

Kurikulum yang diajarkan sama persis dengan kurikulum yang diajarkan di pondok-pondok terkenal di Tanah Air. Mereka mendapatkan mata pelajaran nasional, agama, dan lokal. Harap makhlum sebagian pangasuhnya adalah alumnus Pondok Gontor Ponorogo dan IAIN.

Agar kelak mereka menjadi manusia yang berkualitas, jadwal mereka selama mengikuti pendidikan setiap harinya cukup padat. Mereka harus bangun pukul 03.45 dan langsung mempersiapkan diri untuk salat subuh berjamaah di masjid setempat.

Sejak pukul 07.00 mereka sudah harus masuk ke ruang kelas hingga berakhir pukul 21.30. Sudah barang tentu, mereka mendapatkan waktu untuk makan, menjalankan salat dan mengaji pada jam-jam tertentu. Khusus mengaji, dilaksanakan di dalam bangunan lain yang cukup megah di kompleks itu.

Saat-saat awal mendidik mereka, lanjut Harmanto, sudah barang tentu diwarnai berbagai bentuk kenakalan anak-anak. Harap makhlum, mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda suku dan adat istiadatnya.

''Pada saat awal, sebanyak tiga anak sempat hilang. Tahu-tahu kami mendapatkan kabar mereka pulang ke rumahnya di NTT,'' tambah Harmanto. Dalam waktu dekat, pondok tersebut mendapatkan tambahan 30 anak lagi.

Selain mendapatkan pelajaran, mereka juga memperoleh tambahan keterampilan berupa bercocok tanam dan memelihara ikan. Keterampilan itu dapat mereka laksanakan karena areal yang masih tersisa di pondok itu masih cukup luas. Secara keseluruhan luas pondok sekitar 10 hektare.

Tanaman yang ditanam mereka berupa pohon salak ada sekitar 5.000 batang. Kemudian tanaman kacang, kedelai, dan pisang. Dari tanaman itu, yang sudah dipanen hanya kedelai saja.

Para pengelola pondok yang belum diresmikan tersebut berharap kepada Allah SWT bahwa dengan bekal yang diberikan kepada mereka, kelak akan mampu menatap masa depannya masing-masing dengan penuh percaya diri.

Dengan demikian, mereka pun dapat hidup di tengah-tengah masyarakat secara damai tanpa dihantui rasa ketakutan dan kekurangan. (Dwi Pamuji Sulistyanto-76)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA