
| Rabu, 14 Mei 2003 | Semarang & Sekitarnya |
''Indahnya'' Wisuda di GenanganKECERIAAN wisudawan dari Stimik-AKI terpancar jelas, Senin (13/5). Wisudawati-wisudawati bergincu tebal, bermata alis indah, rambut disisir rapi lengkap dengan hiasan konde serta mengenakan jarit dan sepatu berhak tinggi. Dalam polesan itu, lihatlah wajah-wajah yang ayu dan anggun. Sementara para wisudawan lebih simpel. Kendati sama-sama berseragam jas wisuda hitam, mereka tampak tidak terlalu ribet. Namun, begitu memasuki areal Pekan Raya Promosi Pembangunan (PRPP) Jateng, mereka mulai tercengang. Genangan air hingga setinggi betis menutup akses ke gedung Bale Agung Merapi, tempat dilangsungkannya prosesi upacara wisuda. Genangan air itu akibat rob serta air hujan yang turun semalaman. Bagi yang mengendarai mobil tentu bukan persoalan untuk sekadar menyeberang. Tapi bagi calon wisudawan yang mengendarai sepeda motor, harus parkir untuk sampai di pintu gerbang. Padahal wisudawan yang tidak boleh terlambat semenit pun itu harus secepatnya tiba di gedung. Caranya? Mereka diangkut dengan kereta kelinci yang biasanya disewa untuk mengelilingi arena bagi masyarakat umum. ''Bagaimana lagi, yang penting bisa lekas ikut wisuda. Panitia juga sudah menyediakan kereta itu,'' kata Agus Sugiarto, wisudawan S1 Jurusan Manajemen Informatika. Genangan air tak hanya menutup akses menuju gedung wisuda. Seluruh lokasi PRPP itu nyaris tertutup air yang tidak cepat menyusut hingga upacara wisuda usai. Tempat-tempat parkir juga tergenang. Maka, sebagian koridor menuju Bale Agung Merapi dimanfaatkan untuk parkir mobil. Rupanya, mereka tidak ingin terjebak dalam selokan atau lubang yang tertutup air rob itu. Tiba-tiba, dari ujung koridor terdengar jeritan dibarengi dengan gelak tawa. Setelah diusut, ternyata seorang wisudawati nyaris terjengkang karena terpeleset.
Beruntung, rekan-rekan segera menangkap lengan untuk membantunya kembali berdiri tegak. Hingga upacara wisuda selesai, genangan air belum tampak surut. Kesibukan kembali terjadi bagi wisudawan serta keluarganya. Mereka hanya bisa menempuh hingga ujung koridor. Selebihnya, mereka harus memanfaatkan jasa tukang becak atau nekat menyeberang. Wisudawan yang menggulung ujung celana, sepatu basah, hingga terpeleset menjadi riuh suasana. Ada pula yang memanfaatkan genangan air itu sebagai background foto bersama wisudawan. ''Inilah indahnya wisuda di Semarang. Tidak terlepas dari rob dan banjir,'' kata Ardi Kurniawan, sarjana teknik informatika, sembari tertawa bersama rekan-rekannya. Menurut Ketua Panitia Satri Agung, kondisi itu di luar perkiraan. Padahal, Stimik-AKI kali ini mewisuda 922 mahasiswanya mulai dari S2, S1, hingga D3 berbagai jurusan.(Agus Toto-71) |