
| Rabu, 14 Mei 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Telepon Umum Kini DitinggalkanSEMARANG -Mangkrak. Itulah nasib beberapa telepon umum di pinggir jalan yang tak terawat dan tak bisa dipakai lagi. Kerusakan itu dikarenakan tangan-tangan tak bertanggung jawab. ''Ada fandalisme. Telepon umum itu dirusak orang karena dulu menggunakan uang. Dan uang itulah yang menarik orang,'' ujar Senior Manajer Komunikasi Pemasaran Kantor Unit KSO Divre IV PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Murwanto, kapada Suara Merdeka, (12/5) di kantornya. Telepon umum itu, kata Murwanto, adalah layanan sosial PT Telkom bagi masyarakat dengan tarif yang sangat murah. Sayangnya, kini mulai ditinggalkan. Orang lebih tertarik dengan menggunakan short massage service (SMS) dibandingkan menggunakan telepon umum. Penurunan itu, lanjutnya, tidak hanya menimpa telepon umum saja tetapi telepon tetap di rumah juga mengalami penurunan penggunaan. Nasib serupa juga dialami warung telekomunikasi (wartel). Sepanjang Jalan Mgr Sugijopranoto, misalnya, ada empat buah telepon umum baik kartu maupun koin tidak bisa digunakan. Ahmad Rusdi, Bagian Konstruksi GHEA Advertising mengatakan, selaku pihak ketiga PT Telkom setiap enam bulan sekali melakukan pengecatan di 11 shelter telepon umum. Keengganan menggunakan telepon umum itu diungkapkan siswa SMK Negeri 7 Semarang Sugiarto. Menurutnya, menggunakan telepon umum itu tidak nyaman, bising dan kurang jelas suaranya. (ars-76) |