logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 14 Mei 2003 Karangan Khas  
Line

Buddhis, Theravada, dan Mahayana

Oleh: Budi Santosa Darmaji

DALAM sebuah dialog yang ditayangkan TVRI Maret 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid mengatakan, bahwa agama Buddha yang diwakili agamawannya yaitu KASI layak diakui sebagai wakil umat Buddha. KASI atau Konferensi Agung Sangha Indonesia terdiri atas biksu-biksu Theravada dan biksu-biksu Mahayana. Jadi, KASI juga mencakup dua aliran utama Buddhis (Tantrayana juga bisa dimasukkan dalam Mahayana).

Tentu orang awam akan bingung apa itu Theravada Buddhis dan Mahayana Buddhis.

Pada zaman Hyang Buddha masih hidup, tidak ada istilah Thevavada atau Mahayana. Ajaran Buddha hanya satu, yaitu Dhamma yang dibabarkan oleh Hyang Buddha selama 40 tahun. Sejak Hyang Buddha mencapai parinirvana/wafat, mulailah terjadi perbedaan persepsi di antara para pengikutnya, karena Hyang Buddha tidak menunjuk penggantinya, tapi hanya menunjuk Dharma sebagai penuntun umat/pewarisnya, seperti dikatakannya, "Biarlah Dhamma menjadi penuntunmu, wahai para biksu."

Tiga bulan setelah Hyang Buddha wafat diadakanlah Konsili I di Rajagraha di bawah perlindungan Raja Ajatasatu. Konsili ini diikuti kurang lebih 500 biksu yang dipimpin oleh Kassapa.

Dalam konsili ini dibacakan Vinaya yang diungkapkan oleh Bhikkhu Upali, sedangkan Sutta-sutta Pitaka dibacakan oleh Bhikkhu Ananda. Abidhamma dibacakan oleh Bhikkhu Kassapa.

Dalam konsili ini ada sekelompok biksu yang dipimpin oleh Purana yang kembali dari India Selatan dan menolak hasil konsili I tersebut. Dia hanya meyakini apa yang didengarnya dari Hyang Budda. Ini merupakan awal Mahayana.

Konsili II diadakan di kota Vaisali kira-kira 137 tahun setelah Konsili I, di bawah perlindungan Raja Kalasoka. Konsili ini diadakan karena ada perbedaan penafsiran Sthavirada. Mahasangika kelak menjadi cikal bakal Mahayana, sedangkan Sthavirada kelak menjadi Theravada.

Golongan Sthavirada lebih menekankan pada perbedaan-perbedaan vinaya, sedangkan golongan Mahasangika lebih pada penafsiran-penafsiran ajaran.

Timbul Aliran

Setelah Konsili II tersebut sampai kira-kira abad I Masehi, timbullah aliran-aliran baru dalam Buddhis.

Konsili II diadakan di Pataliputha di bawah perlindungan Raja Asoka pada tahun 247 M, hal yang mendasari diadakannya konsili ini adalah adanya sekelompok biksu yang memisahkan diri dari golongan Sthavirada, Golongan ini dinamakan Sarvastivada yang lebih mengutamakan Abhidhamma ketimbang Sthavirada yang lebih mengutamakan Sutta Pitaka. Konsili ini dipimpin oleh Moggaliputta Tissa.

Dalam konsili ini lengkaplah kitab suci Tripitaka yang berbahasa Pali yang terdiri atas Vinaya Pitana, Sutta Pitaka, dan Abidhamma Pitaka.

Konsili IV diadakan di Jelandar/Purusapura, Kashmir di bawah perlindungan Raja Kanishka. Konsili ini dipimpin Vasumitra dan Asvaghosa. Konsili tidak dihadiri oleh golongan Sthavirada. Dalam konsili ini lengkaplah Tripitaka berbahasa Sansekerta, yang kelak diterjemahkan dalam bahasa Mandarin. Konsili ini terjadi kira-kira abad pertama Masehi (78 M).

Dari Konsili I sampai IV secara gratis besar terpecahlah aliran Buddha menjadi empat aliran besar, yaitu Sthavirada, Mahasangika, Sarvastivada, dan Sammitiya.

Sthavirada menjadi aliran yang sekarang bernama Theravada Buddhis, sedangkan Mahasangika dan Sarvastivada kelak menjadi aliran Mahayana Buddhis. Sammitya yang merupakan pecahan Sthavirada sudah punah.

Theravada Buddhis berkembang di India semasa Raja Asoka dan dibawa oleh Putra Raja Asoka yang bernama Mahinda ke Srilanka dan kelak dari Sri Lanka menyebarlah Buddha Theravada ke Asia Tenggara pada abad ke-11.

Mahayana Buddhis berkembang di India sebagai rbukti adanya perguruan Buddhis Nalanda sampai seribu tahun, sampai dihancurkannya oleh pendatang dari Persia. Mahayana mendapat warna dan bentuk sebagai sistim filsafat Buddhis oleh guru besar yang dikenal sebagai pendiri dua sekte Mahayana, yaitu Nagarjuna abad II Masehi, yang mendirikan sistem madyamika dengan karyanya yang terkenal Mulamadyamaka-karika dan Asanga abad IV Masehi yang mendirikan Sistem Yogacara-vijnanavada dengan karya terkenalnya Yogacarabhumi-sastra.

Dari India menyebarlah agama Buddha Mahayana ke timur, yaitu Cina, Korea, Jepang, dan ke Utara Tibet dan Nepal yang kelak menjadi Tantrayana Buddhis.

Meski terjadi perbedaan-perbedaan antara Theravada Buddhis dan Mahayana Buddis, tidak pernah hal itu sekalipun diselesaikan dengan kekerasan, karena Buddha mengajarkan "kebencian tidak akan pernah hilang bila dibalas dengan kebencian, kebencian akan hilang bila dibalas dengan cinta kasih, itulah hukum yang abadi", sehingga perbedaan yang ada selalu diselesaikan dengan dialog.

Perbedaan Theravada Buddhis dan Mahayana Buddhis adalah sebagai berikut. Pertama, Mahayana menganggap Buddha Gotama/Sakyamuni sebagai makhluk gaib/bukan manusia biasa (lokutara), sedangkan Theravada menganggap Buddha sebagai manusia biasa (lokia) yang telah mencapai penerangan sempurna.

Kedua, Mahayana lebih menekankan apa yang tersirat dalam ajaran Hyang Buddha, sedangkan Theravada lebih menekankan pada apa yang tersurat dari ajaran Hyang Buddha.

Ketiga, ajaran Mahayana lebih menekankan bakti, sedangkan ajaran Theravada lebih menitikberatkan logika. Keempat, Mahayana menempatkan Buddha Gotama/Sakyamuni di antara para Buddha dan para Bodhisattva (makhluk suci yang dapat menolong manusia), sedangkan Theravada pemujaan hanya terhadap Buddha Gotama. Kelima, ritual Mahayana berasal dari bahasa Sansekerta, yang kelak diterjemahkan dalam bahasa Mandarin dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan khotbah Hyang Buddha, "Wahai para Bhikkhu, Anda diperkenankan mencatat sabda-sabda Hyang Buddha dengan bahasa kalian sendiri-sendiri." Adapun Theravada ritualnya berbahasa Pali untuk menjaga keutuhan ajaran Buddha.

Keenam, Mahayana mengajarkan umatnya untuk bercita-cita menjadi Boddhisattva sedangkan Theravada mengajarkan umatnya mencapai arahat. Ketujuh, Nirvana adalah tujuan akhir semua umat Buddha, sedangkan aliran sukkhavati, salah satu (sub aliran Mahayana) mengajarkan terlahir di sukkhavati.

Kedelapan, jubah para biksu Theravada hanyalah selembar kain kuning kecokelatan yang dipakaikan dengan model selempang kemudian dilipat-lipat (diwiru-wiru), sedangkan jubah Mahayana berkostum model dinasti Tang pada abad VII, dengan selendang merah tua (ada lagi jubah aliran Tantrayana yang berwarna merah hati).

Kesembilan, kaum Mahayana menyebut Hyang Buddha dengan Buddha Sakyamuni, sedangkan kaum Theravada menyebutnya Buddha Gotama.

Namun di samping adanya perbedaan, kedua aliran utama ini memiliki kesamaan yang dapat diuraikan sebagai berikut.

Baik Theravada maupun Mahayana Buddhis mempunyai prinsip dasar yang sama. Boleh dikatakan, tidak ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya. Pertama, aanya Triratna atau tiga permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Ini merupakan sendi dasar ajaran Buddha yang fundamental, tempat dimana umat melakukan perlindungan terhadap tiga permata tersebut berlindung d isini, berarti kita memercayai kebenaran ajaran ini, bukan berlindung pada pribadi.

Kedua, adanya empat kesunyataan mulia (caturarya saccani) dan jalan tengah beruas delapan (asthaarya marga). Ini merupakan pokok ajaran Buddha yang terdiri atas pernyataan dukkha, sebab dukkha, berhentinya dukkha, jalan berhentinya dukkha yang terdiri atas pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

Ketiga, adanya trilaksana atau tiga corak umum dari alasan fenomena, yaitu anicca (pali)/anitya (Sansekerta): semua yang berkondisi tidak kekal dukkha: semua yang berkondisi tidak sempurna anatta/anatman: semua yang berkondisi tanpa inti/aku.

Keempat, hukum pratityasamudpada/hukum sebab musabab yang bergantungan. Hukum ini menjelaskan dengan cukup detail tentang asal usul dan proses dari lingkaran kelahiran manusia yang terdiri atas 12 faktor, yaitu kebodohan, tindakan, rupadan nama, indra, kontak, sensasi, keinginan, kemelekatan, kejadian, lahir, usia tua sakit, dan mati. Kelima, hukum karma dan purnabhava/kelahiran kembali.

Merujukkan Utama Buddhis

Tak dapat dimungkiri, dalam era modern ini, baik Theravada Buddhis maupun Mahayana Buddhis tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersatu dalam mengembangkan Buddha Dharma sesuai dengan pesan Hyang Buddha, "Wahai para biku, menyebarlah engkau ke empat penjuru dan kabarkanlah dhamma ini kepada setiap orang yang membutuhkan" dan dhamma adalah satu, yang berasal dari Hyang Buddha, yang mempunyai tujuan akhir yang sama, seperti dikatakan oleh Mahabhiksu Sangharakshita, "Jauh dari saling lepas, semua aliran dalam agama Buddha, meskipun sangat berbeda satu sama lain, memiliki landasan yang sama. Dengan demikian mendapatkan kebenaran dari yang satu hingga tingkat tertentu, paling tidak adalah memahami arti dan makna yang lebih dalam dari ajaran lain. Pada akhirnya semua mengarah pada pencapaian pencerahan."

Adalah bijaksana jika orang mengingat bahwa tidak terdapat Theravada, Mahayana, ataupun Tantrayana di zaman Hyang Buddha. Label-label itu diperkenalkan pada masa belakangan oleh umat Buddha sebagai suatu sudut yang memudahkan dari mana orang memandang kedalaman dan totalitas dari Hyang Buddha dan ajarannya. Karena itu, orang tidak pernah bermimpi untuk menyebut Hyang Buddha sebagai seorang Theravada atau Mahayana dan sebenarnya Hyang Buddha tidak pernah menyebut dirinya Buddhis.

Dalam skala internasional upaya-upaya untuk bersatunya atau minimal mencapai suatu pengertian bersama kedua aliran utama dalam melangkah ke depan yang sama, telah diprakarsai di Colombo Srilanka tahun 1950 dalam Kongres Persaudaraan Umat Buddha Dunia (World Fellowship of Buddhis/WFB) yang melahirkan kesepakatan antara lain:

1. Waisak sebagai peringatan atas kelahiran, pencapaian penerangan sempurna dan wafatnya Buddha Gotama. Sakyamuni pada saat Bulan Purnama penuh di bulan Vesakkha, disebut juga hari Trisuci Waisak,

2. Patokan tahun Buddhis dipakai versi selatan/Theravada, yaitu tahun dimana Buddha mencapai parinirvana tahun 543 SM.

3. Bendera Buddhis disepakati terdiri atas pancawarna dan campuran dari warna itu, yaitu biru lambang bakti, kuning lambang kebijaksanaan, merah lambang belas kasih, putih lambang suci, jingga lambang semangat. (18c)

-Ir Budi Santoso Darmaji , Ketua LSM LUMBINI


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA