
| Rabu, 14 Mei 2003 | Ekonomi |
Kudus Gagal Lagi Minta Dana Cukai RokokJAKARTA-Tim Panitia Khusus Cukai DPRD Kudus harus bekerja keras lagi untuk meyakinkan Dirjen Bea dan Cukai bahwa permintaan sebagian dana dari cukai rokok asal pabrik rokok di daerah itu masuk akal dan wajar. Tim tersebut kembali gagal meyakinkan Dirjen Bea dan Cukai dalam pertemuan di Jakarta, Senin lalu (12/5). Mereka diterima Dirjen Bea dan Cukai Abdulrahman, Direktur Bea dan Cukai Erlangga, serta Bagian Urusan Cukai Rokok Sudirman. Mereka diminta memperbarui surat permohonan, karena terjadi salah persepsi, sehingga permintaan Kudus untuk sementara ini belum bisa disetujui. "Intinya, kami tidak keberatan memenuhi permintaan Kudus apabila sudah ada persetujuan dari Badan Analisa Fiskal Departemen Keuangan," kata Erlangga. Erlangga beralasan, kalau permintaan Kudus dikabulkan, dapat berpengaruh terhadap penerimaan cukai yang ditargetkan sekitar Rp 27,6 triliun. Jika target tidak terpenuhi, akan berpengaruh pada penerimaan APBN 2003. Sebenarnya Tim Panitia Khusus Cukai DPRD Kudus sudah mendapat rekomendasi dari Komisi IX DPR RI yang mendesak agar Menteri Keuangan menyerap aspirasi dari Kudus. Selanjutnya, tinggal bagaimana cara pelaksanaannya. Terus Mendesak Sebagaimana diberitakan, tim tersebut tidak kenal lelah dan terus mendesak pemerintah pusat agar membagi kue dari cukai rokok asal pabrik rokok Kudus untuk dikembalikan ke daerah. Meski berkali-kali gagal, tim yang terdiri atas MA Khurnen (Ketua), Jayusman Arief (Sekretaris), H Djamilun (Koordinator), dan H Heris Paryono (Ketua DPRD), terus mendesak lembaga yang berwenang dan terkait dengan cukai. Pada pertemuan Senin lalu, tim didampingi Djoko Hendratmo (Asisten II Sekda), H Pramono (Kepala Dipenda), dan H Moh As'ad (fasilitator) yang Bendahara Umum Pengurus Pusat Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (PP SP RTMM). Tim mendesak Dirjen Bea dan Cukai agar menyetujui permintaan penundaan pembayaran pita cukai sigaret kretek mesin (SKM). "Kalau itu disetujui, paling tidak Kudus akan mendapat tambahan dana sekitar Rp 25 miliar," kata Sekretaris Jayusman Arief. Dana tersebut, tambah Ketua DPRD Heris Paryono, sangat signifikan untuk memacu pembangunan di Kudus yang pendapatan asli daerah (PAD)-nya tidak besar. Dana sebesar itu berdasarkan perkiraan produksi SKM tahun 2001. "Kami belum tahu berapa produksi tahun 2002 dan 2003, apakah terdapat kenaikan atau sebaliknya," ujar Jayusman. Heris Paryono mengatakan sudah kepalang tanggung (telanjur), karena masalah cukai yang diburu sekian lama belum juga berhasil. (P7-53k) |