logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 14 Mei 2003 Ekonomi  
Line

Persaingan Bisnis Seluler Mulai Tak Sehat

SEMARANG- Persaingan bisnis telepon seluler (ponsel) di Indonesia saat ini dinilai sudah menjurus pada persaingan yang tidak sehat. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Niaga PT Satelindo Wimbo S Hardjito di sela-sela acara Mentari Bikers Party di Jl Pahlawan Semarang ,Senin malam.

Menurutnya, persaingan yang tidak sehat tersebut terutama dipicu dengan diluncurkanya TelkomFlexi (telepon rumah dengan teknologi selular CDMA), dan telah dioperasikan di wilayah Jakarta sekitarnya. ''Masalahnya dalam penetapan tarifnya, TelkomFlexi ini saya anggap tidak sehat. Karena selain tidak dikenakan biaya airtime, juga tarif interkoneksinya lebih murah dari yang ditetapkan operator ponsel,'' katanya didampingi General Manager (GM) Marketingnya Charles Sitorus dan Kepala Cabang Satelindo Semarang Apid Buchori.

Ia menambahkan, biaya airtime yang dikenakan operator seluler saat ini sekitar Rp 425 dan tarif interkoneksi untuk seluler Rp 240, sementara TelkomFlexi hanya Rp 190. ''Ini jelas persaingan yang tidak sehat, karena tentunya kami tidak akan bisa bersaing dengan mereka,'' tegasnya.

Oleh sebab itu, ia menilai dalam masalah ini pemerintah dirasakan tidak fair karena memberikan izin kepada operator lain untuk mengembangkan telepon rumah berteknologi seluler dengan tarif telepon biasa (fixed phone). ''Karena itu, kami dari Satelindo dan Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) telah mengajukan keberatan dan meminta agar pemerintah meninjau kembali pentarifan TelkomFlexi.''

Tahun Pelayanan

Sementara itu, menyingung rencana bisnis Satelindo sendiri, Wimbo mengatakan, pihaknya telah mencanangkan tahun ini sebagai tahun peningkatan kualitas pelayanan. Untuk mendukung komitmen tersebut, Satelindo akan meningkatkan kualitas jangkauan dengan memperbanyak jumlah base transceiver station (BTS). Kemudian menambah kantor pelayanan dan kantor cabang.

''Tahun ini rencananya kami akan menambah 1.000 BTS di seluruh Indonesia yang terbagi 50% dikembangkan di wilayah Pulau Jawa, dan 50% lainnya untuk wilayah Luar Jawa. Sementara Jateng dan DIY sendiri akan kami tambah 96 BTS di beberapa lokasi yang memang dinilai membutuhkan,'' jelasnya. (G2-69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA