
| Rabu, 14 Mei 2003 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Bangunan SD Runtuh saat Siswa BelajarSEJARAH buruk bagi dunia pendidikan terjadi di wilayah Purworejo. Ruang kelas I/II Sekolah Dasar (SD) Negeri Kunir, Kecamatan Butuh, runtuh saat murid kelas II mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika itu, Jumat (9/5), 25 murid kelas II sedang mendapat tugas menulis. Sementara ibu gurunya, Sukarti Kuatiasih, tengah menengok ruang sebelahnya karena dia juga bertugas mengawasi kelas VI yang tengah mengikuti ulangan umum semester 2 atau penjajakan ujian akhir nasional (UAN). Tanpa diduga, muncul suara gemuruh di ruang kelas II. Tak urung semua guru dan orang tua murid yang menunggu di halaman sekolah berteriak histeris. Apalagi setelah melihat bangunan atap ruang kelas tersebut runtuh total ke dalam kelas. Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika didekati ternyata hanya ada seorang murid yang terlihat, sementara 24 lainnya di bawah reruntuhan. Kepala Sekolah, Sukardjan, sempat kebingungan karena hanya melihat seorang murid bernama Tiara Andamsari berdiri di sela-sela reruntuhan bangunan. Anak itu menjerit-jerit kesakitan. Setelah diangkat dari tempat itu, terlihat ada luka di kepala bagian belakang. Selain itu, di beberapa bagian tubuhnya terlihat bentol-bentol. Ternyata saat bangunan roboh, rumah lebah yang semula menempel ikut hancur dan penghuninya marah. Kebingungan para guru dan sejumlah orang tua murid kelas II semakin menjadi-jadi karena 24 orang murid lainnya tidak terlihat di bawah reruntuhan. Tetapi rasa waswas itu terobati setelah mereka bermunculan lewat ruang lain. Ternyata 24 murid lainnya bisa selamat. Bisa demikian karena sesaat setelah bangunan sekolah roboh, mereka merangkak melalui bawah meja dan kursi. Lantas keluar melalui pintu sebelah barat belakang. Di ruang kelas itu, memang ada dua pintu, satu di dekat meja guru dan satu pintu lagi di sebelah barat. ''Yang membuat kami bingung karena setelah berhasil keluar dari reruntuhan mereka tidak menampakkan diri, tetapi bergabung dengan murid-murid lainnya. Mungkin mereka bingung dan ketakutan,'' imbuh Sukardjan. Hancur Akibat peristiwa yang terjadi pukul 08.15 itu, beberapa peralatan sekolah di ruang itu hancur. Barang-barang yang rusak terdiri atas sebuah rak buku, dua buah almari buku, satu stel meja kursi guru, 13 meja murid, dan 26 kursi murid. Menurut kepala sekolah, SD tersebut dibangun awal tahun 1983. Seluruhnya ada enam lokal termasuk untuk ruang kantor guru. Beberapa tahun lalu SD mendapat bantuan kepada sekolah (BKS) dari pemerintah sebesar Rp 40 juta. Namun ketika diterapkan, dana itu hanya mampu digunakan untuk merehab lima lokal. Satu-satunya lokal/ruang yang belum terjamah perbaikan adalah ruang kelas I/II yang roboh itu. Menurut Sukardjan, dia sudah berusaha mencari dana dengan cara menyisihkan dana bantuan sekolah (DBS) dan menunggu uluran tangan para perantau asal Desa Kunir. Sambil menunggu datangnya bantuan, belum lama ini dia sudah meminta tolong tukang kayu untuk mengecek kekuatan kerangka bangunan atap ruang kelas I/II. ''Sudah dua kali dicek dokter kayu (tukang kayu-Red), katanya masih kuat. Memang waktu mengecek yang dilihat hanya bagian baratnya,'' tutur dia. Setelah roboh, baru ketahuan ternyata gunungan atap bangunan itu tidak dilengkapi kolom besi. Kebetulan Kamis malam (8/5) hujan yang tidak begitu lebat mengguyur daerah itu cukup lama. ''Waktu itu saya di ruang kantor dan mendengar suara gemuruh seperti helikopter,'' imbuh Sukardjan. Sejak kejadian itu kegiatan belajar dan mengajar (KBM) murid kelas I dan II dilakukan di tempat parkir sepeda. Dia bersyukur karena tidak ada murid yang mengalami cedera serius. Walau beberapa saat setelah kejadian murid kelas II tidak bisa diajak bicara, sekarang mereka sudah bisa mengikuti pelajaran sebagaimana biasa. Kabag Pembangunan Pemkab Purworejo, Doddy Budi Santoso, ketika diminta tanggapan soal SD yang roboh itu kemarin belum bisa menjawab perbaikannya akan dilakukan secepatnya atau tidak. Sebab, saat ini Dinas Pendidikan sudah membuat SK tentang SD mana saja yang akan diperbaiki. Diakui, dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat sebesar Rp 4,8 miliar sudah turun. Malah dana itu akan ditambah dana pendamping dari Pemkab sebesar 10% hingga mencapai jumlah total Rp 5.280.000.000. Rencananya dana itu akan digunakan untuk merehab total/rehab berat sebanyak 68 buah SD dan 5 MI. (Eko Priyono-74) |