logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Mei 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Ny Sri Hartati

Mengubah Gelas/Botol Plastik Bekas Jadi Bunga

BANJARNEGARA - Gelas/botol plastik air minum dalam kemasan, minyak goreng atau minuman ringan bersoda bekas pakai, jangan dibuang. Di tangan Ny Sri Hartati (49), limbah itu ternyata bisa dibuat menjadi rangkaian bunga menarik.

Menbuatnya mudah. Setelah dicuci bersih, gelas/botol itu digunting berbentuk kelopak bunga. Potongan itu dirangkai, selanjutnya diberi warNa sesuai warna/jenis bunga yang asli.

Istri Sutrisno (50), staf Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga itu menekuni keterampilan itu sejak 1989. Sebelumnya, sebagai penjual berbagai kerajinan di Gua Lawa, sambil mengikuti suami yang kala itu di Dinas Pariwisata Purbalingga.

''Ada sepatu, sandal, topi dan tas dari Tasikmalaya-Jabar, tempurung kelapa, anyaman bambu dan sebagainya,'' ujar warga Ngelos Kelurahan Kutabanjarnegara Kecamatan Kota itu.

Ketika krisis moneter melanda negara ini, dia juga terkena dampak. Kerajinan yang dijajakan di kios ukuran 3x2 meter dekat taman wisata itu tak didekati pembeli, karena pengunjung taman hiburan itu cenderung menurun. ''Kami akhirnya memutuskan menutup kios itu dan pulang ke Banjarnegara. Suami tetap bertugas di Purbalingga dengan dilajo,'' ujarnya.

Muncul Ide

Sambil mengisi waktu luang, ibu rumah tangga itu membuat bunga imitasi dari bahan dari pita jepang, kain wool, atau dari kain stocking. Pembuatan kerajinan itu akhirnya mandeg karena bahan baku relatif mahal.

Suatu ketika dia melihat berbagai bunga plastik buatan pabrik di toko swalayan. Dari situ muncul ide membuat bunga imitasi dari botol/gelas plastik bekas.

Alat yang digunakan sederhana, berupa gunting dan pisau. Membuat kelopak bunga tampak 'keriting' digunakan tlepok. Lampu itu untuk menggarang guntingan botol/gelas plastik gagar berlekuk-lekuk seperti bunga asli.

Pewarna bunga menggunakan cat semprot kaleng. Dia mengaku masih perlu belajar lagi soal pewarna bunga agar tampak seperti bunga asli, karena cara perwarnaan sekarang belum menggunakan gradasi.

Di siang hari, dia punya banyak waktu luang karena dua dari tiga putranya kuliah di luar kota. Sedangkan putra sulungnya sudah bersuami dan kini bekerja sebagai dosen PTS di Semarang.

Harga bervariasi. Seikat berisi 15 tangkai bunga seharga Rp 30 ribu. Seikat berisi 10 tangkai seharga Rp 20 ribu dan seikat berisi 5 tangkai seharga Rp 10 ribu, belum termasuk vas. ''Alhamdulillah, dari hasil kerajinan itu bisa untuk nambah uang kuliah anak-anak, sedangkan gaji bapak untuk makan sehari-hari,' ujarnya.

Ny Sri Hartati kadang dipanggil untuk memberikan kursus keterampilan pada ibu Dharma Wanita dan PKK. Seusai memberikan keterampilan itu, para peserta bukannya makin trampil, tapi sebaliknya wanita itu justru banyak menerima pesanan. ''Kelihatannya mudah, tapi tak semua orang telaten membuatnya. Semua itu butuh keterampilan, ketekunan dan sedikit sentuhan seni,'' katanya. (Tjeffi Hidayat-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA