
| Selasa, 6 Mei 2003 | Tajuk Rencana |
MU - Arsenal dan Cermin Survivalitas Hidup- Inilah persaingan survivalitas yang luar biasa. Dari angka ke angka, gol ke gol, kelengahan ke kelengahan, pernyataan ke pernyataan, hingga menjelang pertandingan paling akhir. Saling mengejar, melewati, dan terlewati! Minggu malam lalu, Liga Utama Sepakbola Inggris akhirnya menuntaskan teka-teki musim 2002-2003 setelah Arsenal dikalahkan Leeds United 2-3 di Stadion Highbury. Manchester United untuk kali kedelapan dalam 11 musim terakhir menjadi yang terbaik. Betapa dramatis dan kompetitif: ada momen-momen MU memimpin, Arsenal menyalip, giliran MU di posisi teratas. Walaupun Arsenal menyisakan dua pertandingan dan MU hanya satu partai, Setan Merahlah yang berhak menggaungkan heroisme We are the Champion dalam pertandingan melawan Everton di Goodison Park, Minggu mendatang. - Ketegangan saraf kompetisi di Premier League ini bahkan menyeret-nyeret persaingan yang bersifat figuritas antara dua arsitek terkemuka: Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Psy war yang dibangun oleh media massa Inggris menempatkan keduanya sebagai seteru yang sering berperang kembang. '"Si bangsawan" dan "sang profesor" memainkan watak-watak melalui karakter tim yang mereka tukangi untuk bertarung memperebutkan takhta terhormat. Fergie dan Wenger acap terpancing dalam perang pernyataan yang menambah kedalaman rivalitas kedua tim. Urusan sepakbola ini menjadi persoalan kehormatan krusial bagi dua tokoh yang sedang merajut nama sebagai legenda di Liga Inggris. Eksistensi Fergie dan pasukan Manchesternya adalah usikan serius bagi Wenger yang mentransformasi "Revolusi Prancis" ke Arsenal. - Perjuangan eksistensial MU dan Arsenal menjadi cermin betapa klub-klub sekarang membutuhkan fokus di tengah-tengah konsentrasi yang tercabang-cabang. Perhatian yang diberikan harus sama besar ke sejumlah level kompetisi: dari liga, FA hingga ke Liga Champions dan kejuaraan-kejuaraan lain. Klub harus pandai-pandai membagi kekuatan sehingga tidak terjadi keterforsiran baik tenaga maupun psikologis pemain. Kalau tidak memiliki cukup "amunisi", dukungan infrastuktur, dan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai, apakah mungkin fokus-fokus itu bisa dihadapi? Arsenal yang menyediakan SDM dengan rotasi pemain yang cukup pun diganggu cedera sejumlah pilar justru di ujung kompetisi; situasi yang juga pernah dihadapi MU pada musim 1995-1996. Padahal, banyaknya kompetisi jelas menuntut tingkat kebugaran yang sama. - Dalam wataknya yang memburu survivalitas, kompetisi sepakbola seperti cermin sebuah "negara mini". Liga-liga Eropa, dalam ilustrasi di ujung Premier League musim ini, menjadi pelajaran menarik bagaimana orang dengan segala elemen eksistensialisasinya harus bertahan dan berjuang pada era kapitalisme global. Kita harus memiliki fokus, arah, tujuan, yang tercakup dalam visi. Karena itu, butuh topangan infrastruktur organisasi yang tangguh, SDM yang kuat dalam kualitas dan cukup secara kuantitatif. Di luar kesiapan-kesiapan yang bersifat modal, tidak jarang kita dipaksa untuk menghadapi dinamika-dinamika hidup itu dalam krisis, ketegangan-ketegangan, yang terkadang juga harus diwarnai perang dingin atau diplomasi. Kita tak hanya harus siap "dilemahkan", tetapi bagaimana membuktikan bisa keluar dari situasi semacam itu. - Sebuah tim sepakbola mengajarkan filosofi bekerja sama untuk secara konsisten menjaga keseimbangan. Dalam komposisi tim, orkestrasi akan berjalan rancak jika didukung sikap saling mengisi dan saling percaya. Dua sikap kunci tersebut hanya bisa dipenuhi kalau tim itu memiliki pilar-pilar pada setiap posisi per lini. Orkestrasi membutuhkan kesamaan visi, karena aba-aba dari seorang dirigen harus secara tepat diterjemahkan bersama-sama sebagai irama, kesatuan gerak tanpa harus kehilangan kreativitas keterampilan individual. Artinya, tim itu bergantung pada sang arsitek dan mereka yang menerjemahkan konsep-konsep sang arsitek. Filosofi bekerja sama akan terasa kegunaannya ketika tim menghadapi saat-saat krisis, mendapat tekanan luar biasa, karena bakal muncul sikap melawan sebagai satu unit, satu kesatuan. - Kompetisi meraih survivalitas disikapi dengan selalu menanam kewaspadaan, antara lain menyiapkan generasi pengganti, kreatif menyusun langkah dan rencana-rencana. Sebuah tim sepakbola yang punya manajemen rapi seperti MU dan Arsenal menyajikan semua sisi yang layak dicontoh oleh organisasi apa pun, termasuk negara dalam upaya meraih kemaslahatan untuk bangsanya. Memang persoalannya tidak sesederhana lika-liku tim sepakbola dalam mengarungi kompetisi, tetapi tentulah tidak sedikit pelajaran yang bisa dipetik: bagaimana kita dipaksa berjuang hingga detik terakhir, bagaimana merumuskan pencapaian target, bekerja secara kolektif sehebat apa pun potensi-potensi individu yang dimiliki. Seperti tim sepakbola, kita juga butuh arsitek-arsitek yang mampu menanamkan karakter dan kebanggaan, sebagai bangsa. |