
| Selasa, 6 Mei 2003 | Olahraga |
Melongok Persiapan Tuan Rumah PON XVI - 2004 (2)Banyak Venues yang Masih Berupa GambarJIKA pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak berubah dari rencana semula, berarti hanya tinggal 16 bulan lagi pelaksanaan pesta olahraga empat tahunan itu akan berlangsung. Sesuai dengan keputusan musornas tahun 2000, PON XVI akan dilaksanakan 9 - 21 September 2004. Seharusnya, dengan waktu yang sudah sangat mepet, semua sarana dan prasarana sudah siap. Dengan demikian, beberapa pertandingan babak kualifikasi bisa dilakukan di tempat calon lokasi pertandingan sebenarnya. Atau, jika ada tim yang akan melakukan uji coba, bisa memakai tempat yang nanti akan dipergunakan sebagai ajang resmi. Namun, jangan berharap terlalu banyak jika sekarang ini melihat calon lokasi pertandingan di Kota Palembang dan sekitarnya. Praktis belum ada bangunan baru - yang benar-benar baru - yang bisa dipamerkan kepada siapa saja yang meninjau bakal tuan rumah PON ini. Rombongan pengurus KONI Jateng pun harus puas dengan hanya melihat proyek pembangunan. Maksud hati melihat seperti apa venues yang nanti akan dipakai sebagai tempat penyelenggaraan PON. Namun, ketika rombongan meninjau lokasi, yang terjadi bak rombongan pejabat atau anggota DPR yang sedang meninjau suatu proyek pembangunan yang sedang dikerjakan. Yang ditemui bukan lapangan yang siap pakai, melainkan para pekerja yang sedang sibuk melakukan pekerjaan bangunan. Fakta tersebut tak bisa dimungkiri. Itulah kenyataan yang kini harus dihadapi. PON sudah tinggal 16 bulan, tetapi banyak venues yang belum siap. Bahkan, jumlah venues yang hanya berupa gambar atau maket tidak sedikit. Di kompleks olahraga Jakabaring, yang nanti akan menjadi pusat kegiatan PON, belum ada satu pun fasilitas olahraga yang bisa dipakai. Bahkan bentuknya nanti seperti apa, masih sulit dibayangkan. Yang bisa dilihat, sesuai dengan maket, kompleks ini sangatlah ideal. Karena di sana, selain lingkungan ditata asri, juga lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga. Stadion Utama Gelora Pembangunan, yang nanti akan dipakai sebagai tempat upacara pembukaan dan penutupan, kira-kira baru selesai 50%. Memang kalau nanti jadi, stadion ini akan tampak megah. Apalagi stadion ini mempunyai kapasitas 40.000 penonton. Sudah cukup ideal untuk pembukaaan suatu multievents tingkat nasional. Untuk tingkat internasional pun sudah memadai. Bagaimana dengan fasilitas yang lain? Ternyata masih berupa lahan. Namun, pimpinan proyek pembangunan kompleks olahraga ini, Ir H Rizal Abdullah Dipl SE, menyatakan, tiang pancang sudah siap. ''Stadion utama akhir tahun ini sudah siap, sedangkan yang lainnya menjelang PON semua sudah siap,'' janjinya. Perkampungan Atlet Yang juga masih berupa gambar, yaitu perkampungan atlet, yang terletak sekitar satu kilometer dari kompleks olahraga. Ini memang merupakan gagasan brilian dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Bekerja sama dengan pengembang, kini sedang dibangun kompleks perumahan yang direncanakan terdiri atas 1.000 unit rumah. ''Nanti saat PON akan dipakai sebagai perkampungan atlet. Setelah PON selesai, baru ditempati oleh pemiliknya,'' katanya. Pemprov hanya bermodalkan tanah. Mulai pengurukan, karena bekas rawa, sampai pembangunan rumah dilakukan oleh pengembang. Agar bisa cepat laku, harganya murah. Ada tiga tipe yang dibangun. Yang pertama, tipe 50 dengan luas tanah 250 m2 dijual dengan harga Rp 100 juta. Kemudian tipe 70 dengan luas tanah 300 m2 seharga Rp 140 juta. Dan yang terbesar, tipe 100 dengan luas tanah 400 m2 seharga Rp 200 juta. Harga tersebut sudah termasuk perlengkapan mebel, yaitu baik untuk ruang tamu, ruang makan, ruang tidur yang dilengkapi almari. termasuk fasilitas televisi. ''Kini sudah sekitar 500 unit yang laku,'' kata Taufiqurrohman, Ketua Harian KONI Sumsel yang juga Ketua Kadin Sumsel. Kabarnya semua pejabat eselon dua ke atas "dipaksa" untuk membeli. Karena itu, cepat laku. Namun, dari 1.000 unit rumah yang dibagun, baru separonya yang siap. Lainnya, sekali lagi, masih berupa maket atau gambar. "Persiapan mereka yang masih sebatas membangun harus kita antisipasi. Kalau meleset, kita harus sudah siap dulu, sehingga nanti tidak kelabakan yang bisa menyulitkan atlet," kata RM Aning Sunindyo, Ketua Umum KONI Jateng, mengomentari kesiapan tuan rumah. "Ini berarti perhitungan pembiayaan kita harus benar-benar hati-hati, dengan mengantisipasi berbagai hal atas kondisi ini. Sebab, jika perhitungan meleset, atlet kita bisa keleleran nanti,'' tambah Wakil Ketua Bidang Perencanaan Anggaran H Bahrezi Gozali, yang ikut dalam rombongan ini. Wakil rakyat yang juga ikut dalam rombongan ini, Drs H Ahmad Darodji MSi, juga memahami kesulitan yang akan dihadapi oleh KONI dalam menyusun anggaran. "Nanti akan saya jelaskan ke teman-teman (anggota DPRD) mengenai kesulitan di lapangan, yang penting rasional dan transparan,'' ujarnya. Selain itu, venues yang terpencar juga akan memengaruhi transportasi atlet. ''Kita harus benar-benar siap. Jangan sampai hanya masalah transportasi untuk atlet, lalu memengaruhi penampilan mereka di lapangan,'' tambah Sukahar, Ketua Bidang Pembinaan. Terpencar Venues untuk pelaksanaan PON tahun depan memang terpencar-pencar. Yang siap pakai, karena bangunannya sudah ada, hanya di sembilan tempat. Yakni di Stadion Madya Bumi Sriwijaya yang merupakan warisan Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) tahun1971. Kemudian, Kolam Renang Lumban Tirta, serta GOR Sriwiyaya. Semuanya di kompleks kampus, sebutan yang populer untuk lokasi bekas POM ini. Lokasi lain yang siap adalah Auditorium Universitas Sriwijaya, di Inderalaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, untuk pencak silat. Gedung Boling Ramayana, Gedung Serbaguna PT PUsri untuk tinju, Hall Hotel Swarna Dwipa untuk bridge, dal Hall IAIN Raden Fatah untuk anggar. Selain lokasi bekas POM, memang lokasi lain merupakan bangunan yang tidak perlu ada spesifikasi. Untuk cabang dan lokasi lain, ada yang masih dalam proses pengerjaan, namun ada pula yang masih dalam proses akan dikerjakan. Yang sedang dikerjakaan, antara lain yang berada di kompelks Pertamina Plaju dan kompleks PT Pusri. Dua BUMN ini memang bersedia untuk membangun dan merenovasi bangunan miliknya untuk kepentingan PON. Yang masih belum diapa-apakan, banyak. Di antaranya GOR Bulutangkis dan GOR Senam, serta beberapa arena di kompleks olahraga Jakabaring. Apa bisa selesai. Itu yang saat ini masih menjadi pertanyaan. Walau pimpinan proyek menjanjikan, ketika ditinjau kemarin ternyata masih belum apa-apa. Belum lagi soal penginapan atlet dan ofisial. Dengan tempat yang terpencar, praktis posko pun harus tidak di satu tempat. Di Palembang, hanya ada satu hotel bintang empat, dan kabarnya setengah dari jumlah kamar yang ada sudah dipesan oleh Kontingen DKI Jakarta. Kini memang sedang dibangun dua hotel berbintang, yakni Hotel Novotel dan Hotel Sheraton, tetapi itu tentu bukan untuk atlet. Jadi, siap-siaplah berpikir mulai sekarang mengenai apa yang akan terjadi di Palembang nanti. (Wahyurudhanto/bersambung-16k) |