
| Selasa, 6 Mei 2003 | Berita Utama |
Penderita AIDS di RS Dr Kariadi Meninggal
SEMARANG - Seorang pasien yang dipastikan terinveksi HIV (virus penyebab AIDS) dan menjalani perawatan di RS Dr Kariadi Semarang, meninggal dunia. Pasien berinisial Ry (38), warga Salatiga itu meninggal Sabtu lalu (3/5) pukul 19.00 setelah menjalani perawatan selama 1,5 bulan. "Ia masuk rumah sakit, karena penyakit diare. Ia ternyata memiliki riwayat terinveksi HIV. Kekebalan tubuhnya terus melemah dan telah masuk ke stadium lanjut. Setelah diisolasi 45 hari, jiwanya tak tertolong," papar Pjs Direktur Pelayanan RS Dr Kariadi dr Budi Riyanto SpPD, kemarin. Budi menjelaskan, dari empat pasien pengidap HIV yang pernah dirawat di RS itu sejak 1992, Ry yang pertama meninggal. Jenazahnya dimakamkan Minggu (4/5) di Salatiga. Penderita HIV yang berprofesi sebagai pemandu wisata itu ketika masuk RS Dr Kariadi memiliki gejala awal terkena penyakit diare. Ia dirawat di ruang isolasi, agar pasien atau orang lain tidak tertular. Ia terlacak dan teridentifikasi HIV/AIDS setelah ada informasi jaringan antarrumah sakit. Budi Riyanto menjelaskan, pengidap HIV mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebut AIDS. Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh itu, , menyebabkan orang dengan HIV/AIDS (Odha) amat rentan dan mudah terjangkiti bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya makin lama akan menyebabkan pasien sakit parah, bahkan meninggal. "Pasien itu mengalami gejala awal diare. Namun kekebalannya makin menurun, sehingga tidak dapat mengatasi serbuan penyakit lain," ujarnya. Penularan HIV, katanya, bisa melalui hubungan seks bebas, transfusi darah, jarum suntik tato dan narkoba, serta anak yang menyusui ibu yang menderita AIDS. Pengidap HIV bisa terjangkiti virus oportunistik, yaitu infeksi yang tidak lazim. Infeksi itu bisa menyerang dalam paru-paru dan TBC berat, misalnya. Namun, penularan HIV terhadap Ry tidak dijelaskan secara pasti. "Bisa jadi karena profesinya sebagai pemandu wisata itu menuntut berhubungan dengan berbagai orang, termasuk orang asing yang sudah terkena HIV/AIDS," ungkapnya. Perlakuan Khusus Ry juga mengalami perlakuan khusus setelah meninggal. Jenazahnya dimasukkan peti saat di kamar mayat dan tidak boleh dibuka. Setiba di rumah segera dikebumikan. "Kami meningkatkan kewaspadaan terhadap semua pasien HIV/AIDS. Perlakuan khusus itu untuk menghindari adanya cairan yang keluar dari tubuh pasien yang mungkin bisa menular ke orang lain," jelasnya. Jika tidak ada cairan tersebut, tidak perlu dikhawatirkan. Karena itu, dia meminta masyarakat selalu bersikap waspada terhadap semua gejala penyakit. RS tersebut membuka hotline untuk konsultasi masalah HIV/AIDS ke nomor (024) 8441000. Namun, akhir-akhir ini penelepon ke nomor tersebut menurun dibandingkan dengan saat awal dibuka. Dia juga menyarankan masyarakat tidak terlalu berlebihan memperlakukan penderita AIDS. "Pasien HIV/AIDS sama seperti kita pada umumnya. Tidak ada yang perlu dikucilkan dari pergaulan. Sekadar berbicara dengan penderita HIV tidak akan tertular," tuturnya. (G1,D7-31k) | |||||