
| Selasa, 6 Mei 2003 | Berita Utama |
Polisi Sudah Gambar Sketsa Wajah Pengebom BandaraJAKARTA- Kasus peledakan bom di Bandara Soekarno-Hatta pada 27 April lalu makin mencapai titik terang dan tidak mustahil dalam waktu dekat akan segera terungkap tuntas. Hal itu dikemukakan Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar, kemarin. Dia mengungkapkan, polisi telah menggambar sketsa wajah pengebom di bandara tersebut. Hal itu disampaikan Kapolri seusai acara serah terima jabatan 32 perwira tinggi dan perwira menengah jajaran polisi di Mabes Polri. ''Namun sedang kami cari dulu, belum kami publikasikan. Nanti bila sudah waktunya, kami publikasikan,'' ujarnya sambil menekankan, dia khawatir bila sketsa itu dipublikasikan maka para tersangka akan lari. Namun, ujar Kapolri, hingga kini belum ada simpulan tentang siapa tersangka pengeboman bandara tersebut. ''Kami sedang mencocokkan berbagai keterangan dari saksi atau orang-orang yang mengetahui peristiwa itu. Sedang kami kembangkan terus, tapi belum final (siapa tersangkanya),'' jelasnya. Pada kesempatan itu, Da'i juga membantah polisi bersikap tertutup dalam penyidikan kasus ini. Selain itu, polisi sampai sekarang belum menyimpulkan dari kelompok atau jaringan mana para pelaku berasal termasuk apakah dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau Jamaah Islamiyah (JI). ''Pokoknya belum sampai pada simpulan tersangka. Kami masih bekerja keras dan mencocokkan semua keterangan saksi,'' tegasnya. Dua Wajah Dia mengatakan, dalam waktu dekat Polri akan memublikasikan gambar sketsa wajah seorang tersangka pengebom di Bandara Soekarno-Hatta. Selain itu, polisi akan bertindak serupa terhadap tersangka pengebom di Jalan Wahid Hasyim Jakarta, dekat kantor perwakilan PBB. ''Dua gambar sketsa wajah itu kini masih disempurnakan dan akan dipublikasikan untuk meminta bantuan masyarakat yang mengetahui informasi tentang keduanya,'' tutur Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komjen Pol Erwin Mapasseng. Dia mengemukakan, tersangka pengeboman di bandara yang disketsa adalah pelaku yang meletakkan tas hitam berisi bom yang kemudian meledak di Terminal 2 F. Sementara itu, tersangka pengebom di dekat kantor PBB yang disketsa adalah yang berada di tempat itu sesaat sebelum bom meledak. Sketsa ini digambarkan dari keterangan para saksi yang berada di tempat kejadian. Erwin membantah sketsa yang digambarkan bertipe wajah dari Aceh seperti yang sebelumnya disebut-sebut sebagai anggota kelompok GAM. ''Kami tidak melihat dari etnisnya tapi dari prosedur kepolisian, yaitu berdasarkan ciri-ciri seperti alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis,'' jelasnya mencontohkan. Tentang keterkaitannya dengan pengeboman di Medan, ujar Erwin, dari modus dan barang-barang bukti yang ditemukan, peledakan bom bandara, dekat kantor PBB, dan di kantor Wali Kota Medan persis sama. ''Sekarang sedang kami kembangkan semaksimal mungkin agar kasus ini segera terungkap,'' ucapnya. Mengenai penangkapan empat orang yang diduga anggota GAM di Bogor, Jumat (2/5), kata Erwin, telah diselidiki dan dikembangkan. ''Kelompok ini tentu tidak terlepas dari analisis kami, apakah terkait langsung dengan pengeboman atau bagian kelompoknya saja,'' papar Erwin. Saat ini polisi juga masih mencari anggota lain dari kelompok yang ditangkap di Bogor. Cleaning Service Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Andi Chaerudin membenarkan tertangkapnya AS, petugas cleaning service bandara, di Jalan Petak Selatan, Kalideres, Jakarta Barat. Dia mengemukakan, lelaki dari Aceh itu diduga turut membantu peledakan bom di bandara. ''Dia dan istrinya sedang dimintai keterangan oleh penyidik,'' ujarnya sambil menjelaskan, bukan ditangkap melainkan dijemput dari kediamannya. ''Petugas memiliki dinamika tinggi dalam menindak dan menelusuri setiap informasi yang diterima, tapi tidak harus berakhir dengan penangkapan seperti itu,'' ujarnya. Sementara itu berdasarkan informasi, para pengebom di bandara diperkirakan empat orang. Mereka datang ke bandara menggunakan mobil, sekitar pukul 04.30. Setiba di Terminal 2F, mereka menemui AS. Dalam pemeriksaan, AS membenarkan, satu dari empat orang yang menemuinya membeli tiket penerbangan tujuan Samarinda, Kalimantan. Setelah mendapatkan tiket, AS dan keempat orang itu kemudian duduk di kursi tunggu di samping restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) di Terminal 2F. Salah seorang dari mereka membawa tas dan sebuah kotak yang diletakkan di bawah kursi tempat mereka duduk. Tas inilah yang diduga kemudian meledak. Pertemuan antara AS dan empat lelaki tak dikenal itu berakhir setelah satu per satu dari mereka meninggalkan AS. AS pun meninggalkan tempat duduk itu. Namun setengah jam setelah AS meninggalkan kursinya, ledakan menggelegar dari dalam ruang Terminal 2F.(bu-31j) |