
| Selasa, 6 Mei 2003 | Berita Utama |
Ditemukan 27 Granat Rakitan
BANDA ACEH - Setelah pertemuan Joint Council antara Pemerintah Indonesia dan GAM gagal, suasana keamanan di wilayah Aceh semakin mencekam. Wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf yang berada di Banda Aceh semalam melaporkan, aparat keamanan Minggu dini hari lalu sekitar pukul 01.00 menemukan 27 buah granat rakitan di kawasan Tanjung Slamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, sekitar 15 km dari Kota Banda Aceh. Benda-benda berbahaya tersebut, menurut Kepala Bidang Humas Polda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) AKBP Sayed Hoesayni, sengaja ditanam oleh pelakunya di dalam tanah. "Untung masyarakat segera melaporkan, sehingga tidak sempat meledak," kata Sayed. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti oleh tim yustisi Serse Polda. Barang bukti itu kini diamankan di Mapolda Aceh. Kemarin pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, kembali terjadi kontak senjata antara pasukan GAM beranggotakan 15 orang dengan pasukan perintis BKO. Akibat kontak senjata di Desa Pantee Piyeu Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireun, dua anggota GAM tewas seketika. Dua orang itu adalah Arnia Azhar (23) dan Fadli Abdullah (24), warga desa setempat. Awal mula kejadian, menurut Kabag Ops Polres Persiapan Bireun AKP Adi Marwan, pasukan perintis BKO melakukan patroli. Di pos Peusangan, mereka disambut tembakan yang diperkirakan dari sekitar 15 orang. Terjadi tembak-menembak sekitar 30 menit. Setelah tembak-menembak mereda, Tim Gegana Polri dipimpin Ipda Ronny Faisal menemukan dua orang yang menurut mereka anggota GAM itu tergeletak. Dari tempat kejadian, aparat mengamankan barang bukti sebuah pesawat HT. Keterangan itu dibantah oleh Juru Bicara GAM Wilayah Batee Iliek, Bireun, Tengku Zarkata. Menurut Zarkata, korban tewas bukan anggota GAM tetapi rakyat sipil biasa Aksi Kekerasan Kapolda NAD Irjen Pol Drs Bahrumsyah mengatakan, akibat pertemuan Joint Council yang dijadwalkan 25 April batal, aksi kekerasan di Aceh cenderung meningkat. Aksi kekerasan itu berupa penculikan, pemerasan, pengadangan dan penyerangan yang mengakibatkan warga sipil menjadi korban. "Aksi kelompok GAM itu jelas menunjukkan mereka tidak memiliki iktikad baik untuk memenuhi kesepakatan penghentian permusuhan (Cessation of Hostilities Agreement/CoHA)," katanya. Bukti lain, penyitaan sejumlah senjata api dan amunisi yang akan dimasukkan ke NAD. Menurut Kapolda, aksi gerakan itu menunjukkan pembangkangan terhadap keinginan seluruh rakyat Indonesia, khususnya rakyat Aceh yang menghendaki wilayah aman dan damai. Di sisi lain, dalam situasi seperti itu ada yang memanfaatkan untuk menikmati konflik dan mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan menghalalkan segala cara. (B13-29k) |