
| Selasa, 6 Mei 2003 | Berita Utama |
Pemerintahan Sementara Irak Mungkin Terbentuk Bulan IniMOSUL - Amerika Serikat (AS), Senin kemarin, mengatakan Irak seharusnya sudah memiliki pemerintahan sementara pada pertengahan Mei ini, ketika kota terbesar ketiga Irak, Mosul, mengadakan pemungutan suara pertama sejak Saddam Hussein terguling. ''Pada pertengahan bulan ini, Anda benar-benar melihat awal dari inti pemerintahan (baru) dipimpin oleh orang Irak yang berunding dengan koalisi,'' kata Jay Garner, seorang jenderal purnawirawan AS yang bertugas melakukan rekonstruksi pascaperang di Irak. Berbicara kepada wartawan di Bagdad, Garner mengatakan dia berharap sembilan tokoh Irak membentuk kelompok kepemimpinan sementara yang akan menjadi titik penghubung bagi orang-orang Amerika. Kelompok itu akan dipilih oleh rakyat Irak dan mungkin terdiri atas beberapa orang yang telah kembali dari pengasingan dan sebagian tokoh setempat Irak, yang mewakili keberagaman etnis dan agama. Dia mengatakan kepemimpinan yang akan terbentuk itu mungkin meliputi Masoud Barzani, pemimpin Partai Demokratis Kurdi, Ahmad Chalabi dari Kongres Nasional Irak, Jalal Talabani dari Uni Patriotik Kurdi, Ayad Allawi dari Kesepakatan Nasional Irak, dan Abdel-Aziz al-Hakim yang merupakan adik ketua Dewan Agung Revolusi Islam di Irak. Kelompok itu mungkin akan diperluas meliputi seorang tokoh Kristen dan tokoh Sunni lainnya, kata Garner. Pilih Dewan Sementara Warga Irak mengecam kemacetan layanan keamanan dan publik selama lebih dari enam pekan sejak AS memimpin invasi ke Irak untuk menggulingkan Saddam. Para ulama Irak Jumat lalu menuntut agar AS membentuk suatu pemerintahan untuk memulihkan ketertiban, setelah Presiden AS George W Bush menyatakan perang secara efektif telah berakhir. Dalam voting pertama di Irak sejak Saddam tersingkir, kelompok-kelompok etnis yang saling bersaing berkumpul di Mosul untuk memilih dewan sementara. Di tengah kuatnya keamanan militer AS, sekitar 250 delegasi mendengarkan pidato pejabat puncak militer AS di wilayah itu sebelum membentuk dewan beranggotakan 24 wakil, yang akan memilih wali kota dari tiga kandidat independen. ''Dengan berada di sini pada saat ini Anda sedang berpartisipasi dalam kelahiran proses demokratis di Irak,'' kata Jenderal David Petraeus, yang berdiri di bawah bendera Irak, kepada peserta pertemuan tersebut. Penduduk Mosul sebagian besar keturunan Arab, dengan minoritas Kurdi, serta orang-orang Turki, Assiriya, dan kelompok-kelompok suku lain. Keberagaman suku itu menyulut kekhawatiran peperangan antargolongan setelah gelombang penjarahan dan kekerasan bulan lalu. Tetapi para pejabat militer kini membentuknya sebagai ''kota percontohan'', menyebutkan kemajuan berarti dalam memulihkan ketertiban yang dicapai kota itu. Para pejabat militer AS mengatakan, mungkin perlu waktu dua tahun sebelum pemilu reguler diselenggarakan di Irak, berdasarkan pengalaman di negara-negara lain di dunia. Garner mengatakan rekonstruksi Irak tidak sesulit yang dia duga, terutama karena perang hanya menyebabkan sedikit kerusakan infrastruktur dan sangat sedikit pengungsi daripada perkiraan semula. ''Kita mulai dengan kekuatan lebih dari separo yang kita perkirakan,'' kata Garner kepada wartawan sebelum meninggalkan Mosul untuk memulai perjalanan dua hari ke Basrah. Dalam perkembangan lain, pasukan AS menahan sekitar 30 penjarah, termasuk anak-anak, setelah baku tembak di sebuah rumah Uday, putra sulung Presiden Saddam. Tidak ada yang cedera dalam insiden itu. Partai Demokratik Kurdistan kabarnya telah menyiagakan pasukan AS untuk menghadapi penjarahan itu karena mereka ingin menggunakan vila itu untuk markas besar partai tersebut di Bagdad. Sementara itu Ketua Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Jakob Kellenberger, mengunjungi Bagdad untuk melihat langsung kerja organisasi itu, kata ICRC, kemarin.(rtr-ben-46) |