
| Selasa, 6 Mei 2003 | Berita Utama |
Kerja Sama Indonesia - RusiaPemerintah RealistisJAKARTA - Kerja sama teknologi antara Indonesia dan Rusia tengah dijajaki. Namun pemerintah RI tetap bersikap realistis dalam berbagai aspek yang menyertai kerja sama tersebut. Demikian dikatakan Menristek M Hatta Radjasa, kemarin. ''Pada prinsipnya pemerintah tetap mendasari kerja sama tersebut secara realistis. Kalau nantinya kerja sama itu menguntungkan industri dalam negeri kita, mengapa tidak,'' kata Hatta dalam konferensi pers Rakornas Ristek 2003 di kantor Menristek-BPPT, kemarin. Namun di bagian lain Hatta mengatakan bahwa untuk bisa langsung menggolkan kerja sama tersebut tidak bisa begitu saja karena masih ada pertimbangan realistis lainnya. Untuk realistis yang kedua Hatta tidak memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya memberi gambaran dalam hal teknologi ruang angkasa. ''Presiden Putin bertemu langsung dengan kami dan menawarkan kerja sama dalam hal nuklir dan ruang angkasa. Indonesia punya potensi alam terletak di garis khatulistiwa yang sangat menunjang teknologi luar angkasa. Karena untuk meluncurkan satelit, tidak perlu lagi diluncurkan dari bumi. Roket dan satelitnya bisa dibawa dengan pesawat dan diluncurkan di ketinggian tertentu, puluhan ribu feet. Tapi kita realistis mempertimbangkan keuntungan itu, karena satelit kita yang sebelumnya bukan dari Rusia,'' katanya. Joint Production Dalam pertemuan dengan Putin tersebut, tidak semata-mata membicarakan masalah pembelian Sukhoi. Namun juga membicarakan kemungkinan joint production dalam hal teknologi pertahanan. '' Kita bicara masalah pembuatan suku cadang dan persenjataan aircraft, warship dan sebagainya. Prinsip kita kalau kerja sama ini, sekali lagi menguntungkan kita dalam hal alih teknologi dan menggerakkan industri dalam negeri, ya harus kita pikirkan secara serius untuk bisa direalisasikan,'' katanya. (F4-16) |