logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Mei 2003 Berita Utama  
Line

Cak Nur Bisa Jadi Payung Moral Bangsa

JAKARTA- Dukungan terhadap cendekiawan Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur) untuk menjadi presiden periode mendatang terus bergulir. Harapannya, Cak Nur bisa menjadi payung moral bangsa yang saat ini carut-marut.

Yang terpenting, Cak Nur bisa lolos ke putaran kedua dengan menggunakan kendaraan partai atau gabungan yang minimal berperolehan suara 20%. Setelah itu akan dipilih oleh rakyat langsung, tidak lagi tergantung pada peserta pemilu legislatif lagi.

''Negeri ini membutuhkan pemimpin yang bermoral dan memiliki kapabilitas. Cak Nur memenuhi syarat itu,'' ungkap Burhanuddin Napitupulu, pengamat politik yang juga anggota MPR, di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, dukungan terhadap Cak Nur sangat wajar, di saat rakyat sudah kehilangan kepercayaan terhadap elite partai atau elite yang saat ini berkuasa. ''Apalagi, rakyat melihat Cak Nur secara moral lebih baik dari elite-elite itu. Bila kita mau memikirkan kepentingan bangsa ke depan, Cak Nur tepat menjadi presiden.''

Didampingi Agum

Meski demikian untuk membantu tugasnya sehari-hari, katanya, Cak Nur harus didampingi seorang tokoh yang memiliki pengalaman di pemerintahan dan bersikap tegas. ''Saya kira dia tepat bila didampingi tokoh eks TNI seperti Agum Gumelar,'' ujarnya.

Pendapat senada dikemukakan pengamat politik Dr Laode Ida. Dia menilai, kredibilitas Cak Nur untuk memimpin negeri ini tak perlu diragukan. Namun majunya Cak Nur menjadi capres, ucap dia, dapat memecah belah kekuatan-kekuatan ''pasangan'' capres partai yang sudah diumumkan. ''Cak Nur memang memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa ini,'' tandasnya.

Dia mengatakan, ''Sampai hari ini hanya Partai Golkar yang memberi peluang untuk mencalonkannya.''

Persoalannya, ungkap dia, apakah Golkar bisa dengan senang hati menerima Cak Nur, karena mereka juga memiliki sejumlah calon. Namun, bila mau memikirkan nasib bangsa yang saat ini carut-marut, sebaiknya Golkar dan partai lain mempertimbangkan pencalonan Cak Nur.

Laode berpandangan, Golkar saat ini sangat berkepentingan mencalonkan Cak Nur, karena sosok cendekiawan yang sebetulnya cocok menjadi ''guru bangsa'' ini memiliki kedekatan khusus dengan partai tersebut melalui HMI connection-nya.

Dilirik PDI-P

Laode mengemukakan, sampai saat ini memang masih samar. Namun jika melihat nama-nama yang sudah muncul, seperti Megawati - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati - Akbar Tandjung, Megawati - Jusuf Kalla/Agum Gumelar, Cak Nur- SBY/Agum Gumelar/Kalla/Hamzah Haz, Amien Rais - Marwah Daud Ibrahim.

Bila Megawati-SBY dipasangkan, katanya, nama ini sulit terangkat mengingat kegagalan Mega dalam memimpin bangsa selama ini. Sebaiknya, bila Akbar naik dengan siapa pun dia dipasangkan, akan terjadi penolakan bukan saja dari kalangan Golkar, melainkan juga masyarakat luas.

PDI-P konon sedang melirik Cak Nur sebagai cawapres untuk mendampingi Megawati Soekarnoputri sebagai calon satu-satunya dari partai itu sesuai dengan keputusan kongres di Semarang dan rakernas.

''Untuk capres, PDI-P tutup pintu. Sudah jauh hari kami menetapkan calon tunggal sebagai presiden, yakni Ibu Megawati Soekarnoputri, pada kongres yang dikuatkan pada rakernas,'' jelas Sekretaris FPDI-P Tjahjo Kumolo di Jakarta, kemarin.

Tjahjo memprediksi, dalam pemilu mendatang PDI-P tidak akan menguasai seluruh daerah. Partai itu diperkirakan hanya akan memperoleh suara di daerah basis, seperti Bali, sebagian Jawa, NTT, dan Sumatera. Sementara itu, Golkar diprediksi akan menguasai Sulawesi, Irian, dan Kalimantan.

''Hal itu diperkuat dengan posisi Golkar yang memiliki 83% kepala daerah. Melihat realitas itu, wajar bila PDI-P harus berpikir untuk berkoalisi.''

Karena itu, lanjutnya, partai pemenang Pemilu 1999 itu sekarang mencari pasangan untuk cawapres dari partai lain. Tentu calon yang dilirik dari partai yang diperkirakan memiliki suara, bisa Golkar atau PKB. Dia mengakui calon dari Golkar bagus, seperti SBY, Jusuf Kalla, Cak Nur, Agum, dan dari PKB ada Hasyim Muzadi, Gus Dur, juga Cak Nur.

Hal itu merupakan keharusan, ungkapnya, karena PDI-P sangat sulit untuk menjadi mayoritas atau memperoleh 50% plus. Tjahjo mengakui bisa bertahan seperti pemilu lalu saja sudah bagus.

''Syukur jika bisa 40%,'' katanya. Berdasarkan Pemilu 1999, PDI-P perlu berkoalisi dengan partai pemenang kedua dan ketiga. Berkoalisi dengan Golkar diperkirakan 53% suara, dan ditambah dengan PKB bisa 73%. ''Itu baru mayoritas,'' ujarnya.(di-31j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA