logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Mei 2003 Internasional  
Line

Korut Desak AS Respons Usulan Penting

SEOUL - Korea Utara (Korut) yang komunis Senin kemarin mendesak AS untuk merespons "usulan penting" yang diajukan pada perundingan bulan lalu di Beijing untuk membantu mencairkan enam bulan ketegangan di antara mereka.

Pyongyang mengatakan, negara komunis itu merasa tidak ada perkembangan baru dari Washington.

"Jika AS tidak merespons secara positif usulan penting DPRK, maka Washington bertanggung jawab atas hilangnya segala upaya dialog dan peningkatan ketegangan situasi tersebut," tulis harian Korut Rodong Sinmun, yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris oleh kantor berita KCNA.

DPRK adalah nama resmi Korut, kependekan dari Democratic People's Republic of Korea (Republik Rakyat Demokratis Korea).

"AS mengulangi pernyataan lamanya bahwa DPRK harus membongkar program nuklir sebelum mengadakan dialog, tanpa mengajukan usulan baru pada pembicaraan tersebut," tulis koran itu.

Deplu AS mengatakan Korut mengatakan kepada delegasi AS dalam perundingan di Beijing bahwa Pyongyang mempunyai senjata nuklir.

Korut belum memberikan penjelasan publik mengenai usulannya, sedangkan Washington belum memerinci apa yang diperoleh dari perundingan tersebut.

Koran-koran Korsel melaporkan pekan lalu bahwa Korut mengungkapkan keinginannya untuk membatalkan rencana-rencana nuklirnya, tetapi bersamaan dengan langkah AS.

Bangun Dukungan

Washington menginginkan Pyongyang, yang dicap sebagai "poros kejahatan" bersama Iran dan Irak sebelum perang, melucuti program nuklirnya. AS berjanji mengupayakan solusi diplomatik, meski dalam pertemuan Beijing, Korut telah mengungkapkan punya senjata nuklir.

Dalam suatu perubahan kebijakan Washington tentang Korut, Presiden AS George W Bush berusaha membangun dukungan untuk mencegah Pyongyang menjual bahan baku senjata nuklir, lapor The New York Times, kemarin.

Selama satu dekade, kebijakan AS menyatakan bahwa Korut harus dicegah dengan segala cara agar tidak memproduksi plutonium atau uranium yang diperkaya, tulis harian tersebut.

Setelah Bush bertemu dengan PM Australia John Howard pada akhir pekan lalu, seorang pejabat yang sangat mengetahui pertemuan tersebut mengatakan kepada The New York Times, "Menurut Presiden (Bush), kekhawatiran utama bukanlah apa yang mereka peroleh, melainkan kemana bahan nuklir itu dijual."

"Dia sangat pragmatis mengenai persoalan ini. Dan kenyataan bahwa kita mungkin tidak akan tahu berapa banyak yang mereka (Korut) produksi. Jadi, fokusnya adalah menjaga agar plutonium itu tidak berpindah ke mana-mana," kata pejabat itu.

Menurut laporan itu, pejabat lain yang membahas persoalan nuklir dengan Bush mengatakan dia mengira Korut "berusaha membuat kita senang, mendorong kita mengeluarkan pernyataan-pernyataan".

"Dan jawabannya kepada mereka adalah jika lapar, Anda tidak dapat memakan plutonium."

Sebagai imbalan perlucutan senjata nuklir, Pyongyang diupayakan mendapat minyak, energi, pertukaran ekonomi, dan hubungan diplomatik yang normal dengan Washington.

Lancarkan Retorika

Korut tetap melancarkan retorika berapi-api kemarin, menuding AS melakukan "kampanye fitnah" untuk mengisolasi dan mencekik rezimnya.

Juru bicara kementerian luar negeri Korut mengatakan Washington memperburuk keadaan dengan menyatakan bahwa Pyongyang tidak melakukan langkah penting untuk memerangi terorisme dan tetap menjual teknologi rudal balistik ke negara-negara yang dicurigai AS sebagai pendukung terorisme.

"Kampanye fitnah AS terhadap DPRK hanya akan membuat penyelesaian krisis nuklir menjadi lebih rumit dan memperburuk situasi," kata juru bicara kementerian itu seperti dikutip KCNA.

Krisis nuklir itu pecah Oktober tahun lalu, ketika Washington mengatakan Korut mengaku melakukan program rahasia untuk menghasilkan uranium yang diperkaya guna membuat senjata nuklir. Korut telah membekukan program plutonium berdasarkan kesepakatan 1994 dengan AS.

Ketegangan meningkat setelah Pyongyang menarik diri dari traktat nonproliferasi nuklir internasional.(rtr-ben-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA