
| Selasa, 6 Mei 2003 | Internasional |
WHO: Virus SARS Bisa Bertahan LamaWASHINGTON - Virus penyebab penyakit Sindrom Pernapasan Sangat Parah (SARS) bisa bertahan di feces (kotoran manusia) dan urine (air kencing) pasien pengidapnya dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan semula, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, Senin kemarin, berdasarkan temuan dan bukti terkini. Para ilmuwan Hong Kong telah mencurigai virus yang satu keluarga dengan virus penyebab influenza tersebut dapat hidup cukup lama di saluran pembuangan air kotor ataupun got-got besar. Hal itu dapat menjelaskan mengapa penyakit tersebut dapat merebak cepat di kalangan kelompok masyarakat yang hidup dalam satu lingkungan permukiman. Unsur-unsur genetika virus ini telah ditemukan di dalam feces dan urine pasien pengidap SARS dan berdasarkan penyelidikan, virus tersebut dapat hidup dan bertahan hingga beberapa hari dalam kondisi dan lingkungan tersebut. Virus tersebut semula diduga hanya bisa bertahan beberapa jam saja. "Virus SARS dapat hidup dalam feces manusia dan dalam suhu ruang sedikitnya sehari hingga dua hari lamanya," kata WHO dalam taklimatnya. "Virus itu akan bertahan hidup lebih lama pada feces orang yang menderita diare, yaitu hingga enam hari lamanya." Faktor Penting Faktor keasam-basaan ph adalah faktor penting untuk kelangsungan hidup virus tersebut. Pada orang yang terserang diare, feces akan lebih banyak mengandung unsur alkalin (senyawa yang mempunyai derajat keasam-basaan ph lebih dari 7 jadi bersifat basa) merupakan tempat hidup yang sangat cocok bagi virus tersebut. Sedangkan feces bayi yang baru lahir bersifat asam. Dalam kondisi lingkungan seperti ini virus tersebut hanya mampu bertahan paling lama tiga jam. Tetapi larutan pemutih yang sekaligus pembasmi kuman seperti klorin yang lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai kaporit dapat membunuh virus SARS dalam waktu lima menit. SARS yang telah meminta korban nyawa 450 orang dan membuat 6.700 orang terinfeksi di seluruh dunia disebabkan oleh anggota baru keluarga besar virus korona. Dan virus itu masih satu keluarga dengan virus penyebab flu, penyakit gangguan pencernaan, dan penyakit ganguan pernapasan pada hewan. Sejauh ini belum ditemukan panduan baku tindakan kesehatan untuk menangani penyakit itu dan 6 hingga 10 persen pasien menemui ajalnya. Para pelaku perjalanan lewat udara diyakini telah membawa penyakit SARS tersebut dari satu negara ke negara lain bahkan sampai ke benua lain. Selama perjalanan udara virus itu dapat dipindahkan dari seseorang ke orang lainnya melalui percikan batuk atau bersin. Hidup Menempel Namun sebagaimana sifat virus lainnya yang menjadi penyebab penyakit gangguan saluran pernapasan dan pencernaan, virus penyakit SARS itu dapat hidup menempel pada benda-benda atau alat-alat. Apabila seseorang yang sehat menyentuh benda-benda, alat-alat, dan hal lainnya yang telah disentuh oleh si sakit dan ketika orang sehat itu menyentuh hidung, mata, atau mulutnya maka dia dapat tertular. Para dokter WHO seperti dikutip harian The Washington Post juga menemukan virus SARS dapat bertahan hidup di permukaan benda yang terbuat dari plastik untuk 24 jam lamanya. Sementara itu Cina, kemarin, melaporkan sejumlah kasus SARS baru, yang menunjukkan penyakit tersebut masih belum terkendali di negara terpadat penduduknya di dunia itu. Kementerian Kesehatan Cina menyatakan sembilan orang lagi tewas akibat SARS, sehingga jumlah total kematian akibat virus itu menjadi 206. Kementerian itu menambahkan, terdapat 160 kasus baru. Cina kini mencatat 4.280 kasus, jumlah terbanyak di dunia. Ketika pemerintah Cina berjuang untuk menghentikan penyebaran SARS, ada tanda-tanda virus tersebut bisa dikendalikan di negara lain di Asia. Singapura, negara dengan jumlah kematian akibat SARS terbesar ketiga di dunia, telah melewati waktu 48 jam tanpa kasus baru. Kemarin, negara itu membuka kembali pasar-pasar makanan besar di pusat wabah itu. Sedangkan Hong Kong kemarin melaporkan tiga kematian lagi, sehingga totalnya 187, dan delapan kasus baru, jumlah yang sama seperti Minggu lalu dan terendah sejak pertengahan Maret. Semetara itu sepuluh orang pelaut India diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dan dinyatakan bebas dari SARS setelah kapal tanker mereka membuat keputusan untuk singgah secara mendadak di bekas koloni Inggeris itu setelah beberapa awak menunjukkan gejala demam, yang merupakan gejala awal SARS. Beberapa negara telah membatasi mobilitas orang yang mereka duga membawa virus SARS.(rtr-niek-ant-46) |