
| Selasa, 6 Mei 2003 | Internasional |
Tanpa Sepengetahuan Arafat, Abbas-Burns BerundingRAMALLAH - Seorang utusan senior AS Senin kemarin mengadakan pembicaraan dengan PM Palestina Mahmud Abbas dalam perundingan tingkat tinggi tentang perdamaian di wilayah Timur Tengah. Pembicaraan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Presiden Yasser Arafat. Asisten Menlu AS, Williams Burns, sedang mengadakan persiapan di Palestina, menjelang kunjungan pekan ini oleh Menlu Colin Powell, untuk melakukan pembicaraan damai bersama di wilayah itu sejak pertemuan yang diperantarai AS gagal pada pertengahan 2000. "Peta jalan" dukungan AS yang merencanakan diakhirinya 31 bulan intifada dan pembentukan negara Palestina pada 2005 menjadi agenda pembicaraan antara Burns dan Abbas di Kota Ramallah, Tepi Barat. Perundingan Burns itu berlangsung sehari setelah keputusan mengejutkan jenderal purnawirawan Amram Mitzna untuk mengundurkan diri sebagai pemimpin oposisi Israel, membuat partai pendukung perdamaian itu berada dalam kekacauan. Keputusan tersebut muncul lima bulan setelah Mitzna menyebabkan Partai Buruh mengalami kekalahan pemilu yang paling buruk. Tolak Tawaran Suriah Upaya-upaya perdamaian Timur Tengah oleh Burns itu juga bersamaan dengan berita bahwa Israel menolak tawaran perdamaian dari Suriah, yang menginginkan Israel mengembalikan Dataran Tinggi Golan yang direbut dalam perang 1967, sebelum awal invasi pimpinan AS ke Irak bulan Maret lalu. Harian Israel Maariv melaporkan usulan Suriah untuk melanjutkan perundingan damai dalam pertemuan-pertemuan rahasia di Yordania antara pengusaha Israel dan saudara Presiden Suriah Bashar al-Assad. "Diputuskan, pembahasan masalah itu akan ditunda sampai situasi internasional dan wilayah Suriah menjadi jelas berkaitan dengan perang Irak," kata sumber di kantor PM Israel Ariel Sharon. Maariv mengatakan Sharon saat itu merasa Suriah hanya melakukan langkah taktis yang bertujuan membujuk Washington menjelang konflik di Irak. Juru bicara kementerian luar negeri Suriah tidak mau berkomentar mengenai laporan tersebut. Perundingan damai Israel-Suriah gagal pada Januari 2000 mengenai masa depan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Pelantikan Abbas pekan lalu, menjelang pembentukan kabinet yang bertekad melakukan reformasi keamanan dan demokratisasi di Otoritas Palestina yang penuh korupsi, membuka jalan AS untuk memperkenalkan "peta jalan" yang telah lama ditunggu-tunggu. Presiden AS George W Bush dan PM Sharon menolak berunding dengan Arafat, yang mereka tuduh menimbulkan kekacauan. Namun, Arafat selalu membantah tuduhan tersebut. Arafat, ikon nasional bagi Palestina selama berpuluh tahun, mengatakan Minggu lalu Otoritas Palestina menerima rencana perdamaian, meski otoritas tersebut punya "semacam wewenang pengawasan" terhadap para mediator. Burns, yang bertemu Sharon Minggu lalu, menyerukan Israel untuk mengurangi pengawasan militer di Palestina guna mengendalikan kaum militan penyebab kekerasan yang menewaskan sedikitnya 2.036 warga Palestina dan 737 Israel. Tetapi Israel yang mengajukan 15 syarat mengenai "peta jalan" itu, mengatakan Abbas terlebih dulu harus bertekad melakukan "perang melawan terorisme". (rtr-ben-46) |