
| Selasa, 6 Mei 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Ratusan Hektare Hutan di Batang Selatan GundulBATANG- Ratusan hektare hutan di wilayah Kabupaten Batang selatan mendesak untuk direboisasi. Sebab, di beberapa tempat sudah berubah menjadi areal pertanian dan sebagian lagi gundul. Apabila tidak segera ditangani akan berdampak pada tanah longsor. Selain itu, juga banjir di daerah hilir. ''Salah satu cara penanganan hutan itu adalah bekerja sama dengan rakyat untuk merehabilitasi lahan. Hal itu dilaksanakan dengan asas konservasi tanah,'' ujar Kepala Kantor Kehutanan Batang Ir Hj Eko Sugiastuti MM didampingi Kasi Penyuluhan H Eko Suriadji dan Kasi Rehabilitasi Lahan dan Perlindungan Hutan Nasori SH. Kegiatan itu meliputi penanaman pohon tegakan dan pembuatan terasering, penanaman pohon tahunan yang kemudian di bawahnya ada tanaman empon-empon atau apotek hidup dan rerumputan untuk pakan ternak. Selain itu juga ada tindakan sipil teknis, seperti pembangunan dam atau bendungan untuk mencegah longsor serta penanaman pohon vegetatif. ''Pihaknya sudah mengajukan proposal ke Departemen Kehutanan untuk merehabilitasi lahan di kawasan Batang selatan itu. Karena untuk penanganan hutan ini, semua komponen harus dilibatkan seperti Bappeda, Dinas Pertanian, dan Lingkungan Hidup,'' jelas dia. Nasori SH mengemukakan, dalam menangani masalah hutan perlu ada pengertian dari masyarakat sekitar hutan. Mereka menggantungkan sebagian hasil hutan untuk kepentingan perut. ''Misalnya kegunaan pohon jati, tidak hanya batangnya saja tapi akarnya pun bermanfaat untuk tangkapan air. Masyarakat belum banyak yang tahu sampai sejauh ini. Karena itu, mereka perlu sosialisasi dalam bentuk penyuluhan,'' paparnya. Dia mengemukakan, bencana alam banjir yang ditangani tidak hanya bagian hilir. Namun, bagian hulu justru yang penting untuk diperhatikan. ''Jika di hilir dibuat tanggul, di hulu pun perlu ditangani. Misalnya tetap terjaga hutan secara alami. Di sinilah pentingnya penyuluhan, sehingga warga sekitar hutan akan ikut melestarikan hutan.'' Sementara itu H Eko Suriadji mengungkapkan, berdasarkan hasil peninjauan di lapangan kerusakan hutan baik milik rakyat maupun yang dikelola Perhutani yang mendesak untuk dihutankan kembali sebagian berada di daerah yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Dieng. Antara lain 112 ha di hutan Pranten, Kecamatan Bawang dan 80 ha hutan di Mojotengah, Reban. Bahkan yang parah di Desa Gerlang, Kecamatan Blado mencapai 225 ha yang sebagian telah berubah menjadi areal tanaman kentang, di samping hutan rakyat di Keteleng dan Kalitengah. Demikian juga kerusakan hutan rakyat di Desa Tombo (Bandar) dan Silurah (Wonotunggal) perlu perhatian bersama.(ar-20j) |