logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Mei 2003 Jawa Tengah - Muria  
Line

Kempes Koplak, Populer karena ''Ndlodok''

KALAU dangdut-mania di Kota Semarang sangat mengenal suara Drakula Nusantara sebagai maskot Radio POP FM, maka bagi komunitas dangdut di Kota Pati dan sekitarnya, sang ''penguasa udara'' itu tentulah Kempes Koplak.

Para penggemar siaran radio beraliran dangdut tentu tak asing lagi dengan ''kekoplakan'' Kempes. Lewat program Rileks Sejenak yang menjadi mata acara unggulan Radio Harbos FM, suara degleng pria yang satu ini seakan-akan menjadi kekuatan sihir bagi monitor radio bergelombang 107,2 itu.

''Target saya memang menebarkan virus Kempes Koplak di Kota Pati dan sekitarnya,'' kata lelaki bernama asli Rudiyanto itu. Dan, ''virus'' itu memang sudah tertebar lewat popularitas Kempes yang kini banyak dibicarakan wong Pati.

Sebagai maskot radio yang beralamat di Jl Pati - Gabus 1 A itu, kekuatan Kempes terletak pada ''kekoplakannya''. Orang Pati menyebut gaya cuek semacam itu sebagai ndlodok, atau ''kenakalan'' dalam melakukan atau mengucapkan sesuatu secara tanpa beban. ''Mulanya gaya saya itu memang ditanggapi dengan macam-macam reaksi. Ada yang marah, jengkel, gemas, tetapi ternyata lebih banyak yang senang. Sedikit-sedikit saya mencoba menyelami karakteristik itu dengan sikap hidup wong Pati yang sebenarnya juga punya ciri khas ndlodok,'' katanya.

Datang ke Studio

Ketika studio Harbos FM masih di lokasi lama, Jl Kartini, hampir setiap hari Kempes melayani penggemar yang datang karena merasa penasaran dengan ''kekoplakannya''. Kini setelah studio pindah ke alamat baru, penggemar pun masih memburunya. ''Ada-ada saja ulah mereka. Ada yang membawakan makanan kecil, sekadar penasaran ingin melihat saja saya. Dan, tidak sedikit yang mancing-mancing ngajak kawin segala. Ha ha ha...,'' kata pria asli Pati kelahiran 42 tahun lalu itu.

Gara-gara sering didatangi penggemar itulah, dia pernah dilabrak orang yang cemburu karena istrinya mengidolakan Kempes. ''Dikira saya yang adol bagus, padahal ya seperti itulah cara saya melayani penggemar,'' ungkap penyiar yang baru saja bercerai dari istrinya itu.

Di antara 10 penyiar radio tempat dia bekerja, Kempes menjadi bintang karena ke-ndlodok-annya. Dengan nada suara rendah, dia merangkai kalimat-kalimat cuek yang sarat humor, mengerjai monitor radio yang menelepon, kadang-kadang berpura-pura tidur ngorok untuk menyindir penelepon yang terlalu panjang mengirim pesan-pesan, atau nerocos dengan ungkapan-ungkapan nakal dalam slank Pati yang khas. Itulah modal siaran lelaki berwajah mirip pelawak Basuki itu. Maka diam-diam Kempes pun banyak diincar orang yang punya hajar hiburan untuk menjadi pembawa acara (MC). ''Kalau memang nyetel dengan gaya saya, ya oke. Tetapi kalau untuk acara yang resmi-resmi saya tidak sanggup karena tidak bisa ndlodok-ndlodokan,'' katanya.

Dengan konsep apa dia menggeluti dunia radio? ''Saya bekerja dengan naluri murni sebagai penyiar. Artinya, menangkap bagaimana hasrat pendengar, lalu merumuskan dengan cara saya untuk menghibur mereka. Ketika saya memilih gaya koplak, itu bukan tanpa risiko, tetapi setiap penyiar memang harus punya karakter, dan inilah pilihan saya. Kalau suatu ketika pendengar jenuh, berarti selera pasar memang sudah berubah, dan saya juga harus meresponsnya,'' ungkap Kempes.

Tercapaikah obsesi Rudiyanto menebar ''virus Kempes Koplak'' di Kota Pati? Bagi para penggemar setianya, ''virus'' itu tentu sudah dirasakan menyebar ke seluruh tubuh, terutama ketika program dangdutan Rileks Sejenak diudarakan. ''Ya, Koplak di sini....,'' katanya. (C10-80)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA