logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Mei 2003 Tajuk Rencana  
Line

Konida Jateng Butuh Konsentrasi Lebih

- Perjalanan sejumlah pengurus teras Konida Jawa Tengah ke Palembang, Sumatera Selatan, 28 April - 1 Mei lalu, terbukti membawa banyak manfaat dalam konteks intensitas persiapan-persiapan kontingen provinsi ini menuju PON XVI tahun depan. Forum tertinggi olahraga nasional multicabang itu memang baru akan digelar lebih dari setahun ke depan. Tetapi dengan memutuskan advance team cepat berangkat ke Palembang mengamati calon lokasi di semua cabang yang diperkirakan diikuti, akhirnya ditemukan gambaran lebih konkret mengenai apa saja yang harus dipersiapkan di luar hal-hal teknis menyangkut peningkatan kemampuan atlet. Pengenalan medan secara dini, itulah manfaat utama yang didapat rombongan Konida yang tentu bakal terkait dengan berbagai aspek persiapan atlet, terutama nantinya dalam manajemen kontingen.

- Keberangkatan tim yang juga diperkuat oleh Siwo-PWI Jateng itu, awalnya memang diwarnai pro-kontra: sangat mendesakkah? Atau setidak-tidaknya muncul pertanyaan: apakah tidak terlalu cepat mengingat PON baru akan berlangsung - kalau tidak ada penundaan karena jadwal Pemilihan Umum - September tahun depan? Namun, kondisi di Sumsel yang ditemukan pengurus Konida memaparkan fakta-fakta menarik yang memperkuat relevansi keberangkatan tersebut. Langkah Jateng yang mulanya dianggap cepat ini, ternyata masih kalah cepat dari "tim pendahulu" Konida DKI Jakarta dan Jawa Timur. Artinya, Jateng berada di urutan ketiga dalam langkah pengamatan venues dan calon venues di Palembang dan sekitarnya. Maka apa pun pertimbangannya, keputusan untuk cepat berangkat mengamati medan merupakan pilihan yang tepat.

- Oleh-oleh terpenting rombongan Konida adalah dokumentasi venues untuk dipaparkan kepada pengda cabang-cabang olahraga dalam Raparda 24 Mei mendatang, Visualisasi yang akan dipresentasikan nanti menjadi penting, karena akan tergambar mengenai karakteristik lapangan, kondisi lingkungan, termasuk situasi sosialnya, jarak dari perkampungan atlet, jarak dari pusat kota, waktu tempuh, serta model koordinasi yang harus diterapkan. Tak kalah penting, bagaimana nantinya manajemen kontingen Jateng mengelola koordinasi dengan mendirikan posko yang secara efektif bisa menjangkau komunikasi dengan perkampungan atlet, Panitia Besar PON XVI, dan seluruh tempat pertandingan. Juga menjadi bahan pertimbangan: cukupkah dengan satu posko mengingat ketersebaran venues di beberapa titik yang tidak secara cepat bisa diakses.

- Adalah fakta, belum semua tempat pertandingan dan perlombaan benar-benar siap. Ada yang dalam tahap finishing, ada yang dalam proses renovasi, peralihan kegunaan, atau bahkan membangun venues baru. Di antara venues baru adalah yang sedang dikebut di kompleks olahraga paling anyar: kawasan Jakabaring yang semula rawa-rawa di wilayah seberang Jembatan Ampera. Di stadion berkapasitas 40.000 tempat duduk inilah PON XVI bakal dibuka dan ditutup. Stadion yang diproyeksikan menjadi salah satu yang termodern di Indonesia ini, sekarang sedang dalam proses setengah selesai, dan diperkirakan tuntas awal tahun depan. Di seberang stadion ini didirikan 1.000 unit perumahan kelas menengah dari tipe 54 hingga tipe di atas 100 untuk kampus atlet. Kawasan ini kelak diharapkan berkembang menjadi "kota satelit" bagi Palembang.

- Dari fakta-fakta penyiapan fasilitas pertandingan oleh tuan rumah, ada satu kesimpulan yang tampaknya pantas dijadikan komitmen pengurus Konida Jateng, yakni ketidakmungkinan untuk terlalu bergantung pada kesiapan layanan panitia. Mengapa demikian? Ketercurahan perhatian pada penyelesaian penyiapan tempat-tempat pertandingan bisa menyebabkan fokus pelayanan para tamu terabaikan, dan itu boleh jadi menjadi salah satu sindrom bagi Sumsel yang tidak mempunyai pengalaman menjadi tuan rumah multievent, apalagi dengan calon tamu yang diperkirakan lebih dari 6.000 orang. Kita tentu berharap ada upaya-upaya khusus Sumsel untuk menjawab kekawatiran di bidang sumberdaya manusia menyangkut layanan ini, tetapi akan lebih arif kalau Jateng pun menyiapkan koordinasi mandiri dengan pematangan manajemen kontingen.

- Dari hal-hal yang ditemui di Palembang selama empat hari, Konida perlu secepatnya membentuk semacam Posko PON XVI dengan penekanan pada perencanaan manajemen kontingen. Dengan melihat kondisi-kondisi di lapangan, sasaran meraih posisi ketiga di bawah DKI dan Jawa Timur harus didukung dengan pola koordinasi kontingen yang matang. Aspek-aspek manajerial seperti penyiapan menyewa gedung atau rumah penduduk untuk posko, pemesanan fasilitas-fasilitas pendukung mobilitas seperti kendaraan, petugas pemandu, serta konsumsi di luar yang disediakan panitia harus dirancang secara cermat dan dini. Secara prinsip, Konida Jateng tidak bisa bekerja dengan pola yang sama seperti ketika mengkoordinasikan kontingen di PON Jakarta, karena di Sumsel banyak hal yang menuntut konsentrasi manajerial secara khusus.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA