
| Sabtu, 3 Mei 2003 | Tajuk Rencana |
Demo dan Efektivitas Mencapai Sasaran- Hari Buruh Se-Dunia yang jatuh pada setiap 1 Mei, kembali diperingati di negeri ini. Ciri khas peringatan itu adalah turun ke jalan. Puluhan ribu buruh berunjuk rasa di jalan-jalan berbagai kota besar serta menggelar orasi di tempat-tempat strategis. Misalnya di halaman gedung legislatif, halaman kantor pemerintahan, dan lain-lain. Di Jakarta, demo dan orasi juga berlangsung di depan Istana Negara. Orasi dan spanduk-spanduk yang dibawa mengungkapkan beragam pesan. Ada yang menyangkut kepentingan buruh, terutama tuntutan perbaikan kesejahteraan, ada yang mengumandangkan tuntutan politik. Di Jakarta, buruh yang berorasi di seputar bundaran HI menyampaian tuntutan agar Presiden dan Wakil Presiden mundur. -- Setelah masuk era reformasi, negara ini nyaris tak pernah sepi dari unjuk rasa. Di kota-kota besar dan kecil, peristiwa itu menjadi pemandangan sehari-hari. Yang berunjuk rasa sangat beragam, mulai dari mahasiswa, buruh, pelajar, petani, nelayan, pedagang hingga pegiat LSM. Bahkan kelompok yang selama ini dipandang ''tabu'' untuk berunjuk rasa karena dinilai tidak etis pun turun ke jalan. Yaitu kaum guru. Ada juga demo dari kalangan perguruan tinggi yang langsung dipimpin oleh rektor. Yang menjadi sasaran juga sangat beragam. Mulai dari masalah praktis seperti kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, politik uang, korupsi sampai masalah politik seperti serbuan AS ke Irak, Presiden dan Wapres mundur dan lain-lain. - Di tengah-tengah kemerebakan demo buruh yang membawa beragam tema, dalam sebuah diskusi interaktif muncul sederet pertanyaan tentang demo mana yang sebenarnya penting bagi buruh sekarang dan juga bagi kepentingan bangsa secara keseluruhan. Pertanyaan lain lagi, efektifkah penyelenggaraan demo itu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pertanyaan itu muncul karena dari satu kelompok masyarakat saja bisa muncul beragam tuntutan. Dari yang menyangkut kepentingan buruh sampai masalah-masalah yang lebih luas, malah jauh di luar kepentingan buruh. Dipertanyakan, perlukah bagi buruh dalam demo menyinggung masalah-masalah bukan kepentingannya, terutama dalam situasi seperti sekarang. - Pertanyaan itu mungkin muncul dengan latar belakang situasi industri dan perburuhan di Tanah Air yang sangat suram. Akibat krisis ekonomi dan berbagai faktor lain, banyak industri PMDN dan PMA gulung tikar. Ribuan orang mendadak kehilangan mata pencaharian. Yang lebih menyakitkan, banyak industri PMA yang mengalihkan usaha ke negara-negara tetangga sesama anggota ASEAN. Disebut-sebut pula tentang investor asing yang batal menanamkan modal setelah melihat situasi di sini. Atau rencana PMA yang sudah disetujui, kemudian batal setelah pemilik modal mempelajari situasi perburuhan, keamanan, dan jaminan kemantapan usaha yang dirasa masih kurang. Mereka kemudian memilih berinvestasi di negara lain. - Unjuk rasa, mogok, dan memperlambat kerja adalah senjata esensial kaum buruh untuk memperkuat dukungan. Karena itu, tidak boleh diatur-atur apalagi dihambat atau dilarang. Kadang-kadang dengan cara itu dapat mencapai sasaran. Namun sebaliknya juga pernah terjadi. Tuntutan buruh dibalas oleh pengusaha dengan menutup usaha. Hal itu pernah terjadi di Semarang. Dalam suatu diskusi interaktif, ada seorang pengusaha yang mengimbau, dalam situasi sulit sekarang rasanya lebih bijak bila unjuk rasa tidak ditempuh. Untuk memecahkan persoalan, lebih baik mengedepankan dialog antara pengusaha dan wakil-wakil buruh. Namun harus dicatat, dialog membutuhkan kemauan baik kedua pihak. Karena itu, tidak ada posisi tawar buruh yang lemah. - Pada hemat kita, perlu dipikirkan senjata buruh itu digunakan dengan bijak. Pertimbangkan baik-baik pendapat pengusaha tersebut. Sebaliknya, pengusaha juga harus komunikatif dengan buruh. Bangsa ini sangat terpuruk akibat krisis ekonomi yang kemudian diperparah oleh berbagai peristiwa. Mulai dari peledakan bom di Bali, invasi AS ke Irak, dan terakhir meluasnya penyakit SARS. Hal itu terlepas dari hilangnya sense of crisis elite politik. Masalah-masalah tersebut ditambah kemerebakan demo, bom di sana-sini dan berbagai faktor lain telah menyebabkan investor yang ada hengkang yang mau masuk batal. Namun yang paling ditakuti, konon adalah unjuk rasa buruh yang kebetulan belakangan ini sangat merebak. Apalagi ada yang disertai perusakan dan pembakaran. |