logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Mei 2003 Surat Pembaca  
Line

Wanita, Karier dan Keluarga

Wanita dijajah pria sejak dulu/dijadikan perhiasan sangkar madu... Sedikit cuplikan lagu nostalgia yang jadi motivator kaum perempuan untuk bangkit atau setidaknya tidak bernasib demikian. Tidak heran jika kini kian marak kaum ibu yang terjun ke dunia publik bahkan sering terlihat kebablasan.

Mereka yang berkarier, punya jabatan mentereng tidak lagi mengindahkan aturan agama. Lihat saja gaya mereka berpakaian, berdandan dan bergaul. Rasanya waktu 24 jam tidak cukup, semua habis untuk kerja dan karier. Urusan suami, anak dan seabrek pekerjaan rumah tangga... mana sempat?

Asal ada uang semua urusan beres. Namun bagi pejuang perempuan tentu mendukung sekali ide ini. Memang harus demikian. Wanita punya kedudukan sama dengan pria, tidak melulu dapur, sumur dan kasur. Tapi benarkah agama mengajarkan seperti itu?

Ternyata tidak. Islam menempatkan wanita pada posisi pas. Wanita punya hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah. Berpuasa, shalat dan aturan syariat lain yang dibebankan baginya. Namun wanita sesuai kodratnya maka hak dan kewajibannya pun berbeda. Wanita berpotensi hamil, melahirkan dan menyusui sedang laki-laki tidak.

Tugas utama wanita sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Di samping punya kewajiban lain untuk beramar ma'ruf nahi munkar (berdakwah) dan menuntut ilmu. Sedangkan laki-laki berkewajiban mencari nafkah dan menjadi kepala rumah tangga.

Tapi jangan khawatir karena Islam juga membolehkan wanita bekerja, dengan syarat tidak meninggalkan tugas pokoknya. So, silakan saja kaum ibu berkarier, tapi jangan lupakan urusan rumah tangga.

Erni Sri Rejeki SS
Pengajar SMK Ma'arif
Kota Magelang

***

Kebumen Hebat

Majalah Tempo edisi 7-13 April memuat berita pelaksanaan good governance (tata pemerintahan yang bersih) di Kebumen yang dipimpin Bupati Dra Rustriningsih MSi. Jumlahnya 14 halaman, luar biasa. Apalagi isinya menjelaskan hasil 3 tahun pemerintahannya yang begitu konsisten dan tegar dalam menegakkan hukum. Pemerintahan yang bersih bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Di tengah ketidakpercayaan rakyat akhir-akhir ini terhadap oknum pejabat dan anggota DPR/DPRD, termasuk para penegak hukum yang hanya memikirkan kantongnya sendiri serta partainya, ternyata di ujung selatan Jateng, Kebumen saat ini sedang melawan arus.

Mereka menjalankan pemerintahan yang bebas korupsi dengan konsisten dimulai dari proses pilbup yang bebas politik uang. Warga Kebumen pantas berbangga hati punya bupati, wakil bupati, dan jajarannya serta para anggota Dewan yang memikirkan pembangunan daerahnya.

Kepada Bapak Gubernur Mardiyanto, Anda patut berbangga punya wilayah yang dipimpin Bupati Dra Rustriningsih MSi dan wakilnya Bapak M Nashirudin Am serta pimpinan DPRD Bapak H Budi Utomo. Meski usianya di bawah 40 tahun, tapi mereka patut jadi teladan.

Memang menjadi pegawai negeri, bukan tempat mencari kekayaan. Tapi patut direnungkan bila para oknum pejabat, oknum anggota Dewa sampai saat ini masih memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya untuk menumpuk harga yang tidak halal. Bangga dan bahagiakah mereka?

Suhartono
Kompleks Bank Niaga C 12 A
Ngaliyan Semarang

***

Thomas A Edison dan Cahaya Kegelapan

Dalam perjalanan seseorang menuju keberhasilan sering menjumpai banyak kegagalan. Penyebabnya bisa berasal dari dalam diri sendiri atau luar/orang lain. Kegagalan membuat jengkel, frustrasi dan putus asa, pandangan ke depan menjadi gelap gulita. Pengalaman kegagalan akhirnya dapat membuat kita pasif dalam menanggapi persoalan.

Namun di pihak lain problem dan kegagalan yang menerpa sesungguhnya bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Tiada hidup tanpa masalah, tiada hidup tanpa kegagalan. Dia harus ada dan bila ditanggapi serta dikelola baik sisi pengalaman yang pahit kecut itu dapat berubah menjadi berkah.

Contoh kisah hidup Thomas Alfa Edison, penemu lampu pijar. Dia mempunyai nama besar, juga mengalami banyak kegagalan. Dari 1.038 percobaannya yang gagal, yang ke 1.039 baru berhasil yakni terciptanya lampu pijar. Selain kegagalan demi kegagalan, dia juga mengalami cobaan mental yang berat.

Ketika duduk di TK dan SD dia dianggap siswa idiot karena tidak dapat mengerjakan soal yang paling mudah sekalipun. Hal ini membuat ibu Thomas kecil terpukul dan akhirnya mendidik sendiri di rumah. Di rumah pun sikap Thomas aneh. Ia selalu mengamati berjam-jam ayam betina yang sedang mengerami telur-telurnya

Yang menarik dari kisah anak ajaib ini, bagaimana dia memandang kegagalan bukan sebagai sesuatu yang mengecewakan dan membuatnya putus asa. Kegagalan sebagai berkas-berkas cahaya yang membuka dan menerangi langkah selanjutnya.

Dalam catatan hariannya dia menulis:'1.038 percobaan itu adalah cahaya-cahaya kegagalanku". Nah, mampukah kita memandang butir-butir kegagalan sebagai berkas-berkas cahaya?

Y Febrianto Siripuu HNB
Karanganyar Rt 6/Rw 13 Muktiharjo Kidul
Semarang

***

Pelayanan BTN

Saya melihat pihak BTN Semarang masih perlu memperhatikan layanannya, karena sering terjadi antrien panjang. Saya mengantar Ibu berumur 55 tahun ke BTN merasa sedih dan khawatirkan kalau tiba-tiba beliau jatuh karena kelelahan.

Saya minta BTN menggunakan alternatif lain dalam memberikan pelayanan. Misalnya dengan memberi nomor antreian sehingga nasabah bisa menunggu sambil duduk terlebih dulu.

Aroka Aryadeta
Jl Jati Cerah 44, Jati Raya Indah
Banyumanik Semarang

***

Tabrak Lari di Sidabowa

Sangat tidak manusiawi begitu menabrak langsung lari pengemudi Kijang Krista warna biru dengan nomor kendaraan tidak diketahui para saksi saat itu. Kecelakaan hari Jumat 25 April 2003 pukul 12.55 atas seorang kakek Achmad Mustofa (65), Desa Sidabowa RT 4 RW 7 Kecamatan Patikraja Banyumas, tepatnya antara Purwokerto Patikraja.

Begitu tertabrak korban terpental sampai 10 meter dan kaca lampu mobil pecah berantakan. Namun pengemudinya lari dan korban akhirnya meninggal dunia di RSUD Banyumas pada pukul 14.20 WIB hari itu juga.

Pak Mustofa adalah guru ngaji dan buruh pemecah batu kali. Saat itu mau berangkat kerja, namun naas menimpanya sehingga harus meninggalkan seorang istri, anak dan cucu yang kese muanya keluarga kurang mampu.

Saya selaku warga sekitar mengharap pengemudi yang menabrak Pak Mustofa untuk datang baik-baik dengan rasa tanggung jawab dan penuh rasa kekeluargaan, sebagai manusia yang berakhlak dan berwatak satria.

Ketua Muslimat Masjid
Al Fatta Rt 4/ Rw 7 Sidabowa
Dra Suhartiningsih


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA