
| Sabtu, 3 Mei 2003 | Sala |
Petani Sayuran Mengais Batu dan PasirSELAIN sebagai petani sayur-sayuran, warga Desa Klakah dan Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, di lereng Gunung Merapi, kini mempunyai profesi baru. Yakni, penambang batu dan pasir. Profesi baru itu cukup menjanjikan pendapatan lumayan. Batu dan pasir yang membajir dari Gunung Merapi akhir Januari lalu kini masih menumpuk di sepanjang Kali Apu. Warga pun mendapatkan pekerjaan baru. ''Banjir batu dan pasir membawa rezeki,'' kata Jemu (32), warga Desa Klakah, saat menggali batu dan pasir di sepanjang Kali Apu, kemarin. Bersama beberapa warga desa lain, sejak pagi hingga sore Jemu mengais rezeki di sepanjang Kali Apu. Setiap hari dia mengumpulkan batu dan pasir puluhan rit. Harga setiap rit pasir di lokasi Rp 15.000 dan batu Rp 25.000. Rata-rata pembeli adalah warga Selo, 10 km dari lokasi itu. Dalam keadaan sepi setiap hari hanya satu rit pasir atau batu yang laku. Jika ramai laku lima rit. ''Kalau sampai lima rit, keuntungan kotor yang bisa saya bawa pulang Rp 75.000,'' kata Jemu. Kualitas Kualitas batu dan pasir muntahan Gunung Merapi, kata penambang, cukup berkualitas. Para kontraktor atau pekerja bangunan menyukainya. Kendala yang dihadapi para penambang adalah kondisi jalan dari lokasi ke jalan raya. Pagar pengaman jembatan Kali Apu yang menghubungkan Desa Klakah dan Tlogolele, Kecamatan Selo, ambrol sehingga membahayakan pengendara kendaraan umum. Pada musim hujan para pengemudi harus hati-hati agar tak tergelincir ke dasar Kali Apu. Meski sebagian mengais batu dan pasir yang cukup menjajikan, warga lebih menyukai menjadi petani sayur-sayuran. Mereka tak akan meninggalkan pekerjaan itu karena sudah mendarah daging dan turun-temurun. ''Pada saatnya saya akan kembali sebagai petani sayur-sayuran. Saya tak akan mengais batu dan pasir selamanya,'' kata Tarno, warga Desa Tlogolele. Camat Selo, Luwarno, menuturkan sebagian petani beralih sebagai penambang pasir. Namun itu hanya sementara. Sejak dilahirkan mereka sudah menghadapi lahan pertanian, sehingga sampai kapan pun akan mereka geluti. Selain itu tumpukan batu dan material di Kali Apu pada saatnya kelak akan dikeruk. ''Selama itu belum dikeruk, warga memanfaatkannya untuk menambah penghasilan,'' kata dia. (Suti Harjoyo-78g) |