logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Mei 2003 Olahraga  
Line

Torino dan Juve, Tetangga Bernasib Beda

ROMA- Juventus melaju di jalan menuju juara liga ke-27 dan melirik satu tempat di final Liga Champions musim ini, tetapi kota tempat tinggal mereka, Turin menyembunyikan cerita menyedihkan tentang sepakbola. Pesaing lokal Juve, Torino mengalami musim yang buruk. Tiga pelatih - Giancarlo Camolese, Renzo Ulivieri dan Renato Zaccarelli - gagal membawa klub itu naik dari posisi paling bawah Seri A.

Kekerasan yang dilakukan para pendukung Torino di Stadion Delle Alpi -yang juga menjadi kandang Juventus- memaksa pertandingan kandang dipindahkan ke sebuah lapangan netral. Dengan tertinggal sebelas poin dari titik aman degradasi dan sisa empat pertandingan, menyebabkan tim itu memerlukan keajaiban untuk menghindari degradasi.

Pernah menjadi salah satu tim besar Italia, Torino kini menjadi sebuah klub yo-yo, yang lemah dan lebih banyak menghabiskan waktu di Seri B. Pada 1940-an, Il Toro mendominasi klub papan atas Italia. Antara 1942 dan 1949 - dengan istirahat dua tahun sehubungan dengan terjadinya Perang Dunia II - "Great Torino" memenangi lima kompetisi secara beruntun.

Selama musim 1947-1948, di bawah peraturan lama "satu poin" untuk hasil seri, dan dua poin untuk menang, tim tersebut meraih juara dengan 16 poin, dengan mencetak 125 gol selama proses tersebut. Namun, tampaknya itu kejuaraan terakhir yang dinikmati para pemain Il Toro.

Tragedi Nasional

Pada 4 Mei 1949, sebuah pesawat yang membawa tim itu pulang dari pertandingan persahabatan melawan tim Portugal, Benfica, menabrak gereja Superga yang terletak di sebuah bukit di atas Turin. Seluruh 31 penumpang tewas. Demikian juga dengan para pelatih Torino, Egri Erbstein asal Hungaria, Leslie Lievesley asal Inggris, dan seluruh tim nasional Italia, termasuk para pemain terbaik Italia, seperti Valentino Mazzola yang bermain di lini tengah kiri.

Itu merupakan tragedi nasional dan sebuah bencana bagi klub tersebut. Hanya satu dari pemain Great Torino - striker kelahiran Prancis, Emilio Bongiorni - yang bukan orang Italia. Selama akhir 1940-an, tim itu menjadi simbol kebanggaan nasional di sebuah negara yang masih dalam proses pembangunan kembali akibat perang.

Saat Italia mengalahkan Hungaria 3-2 pada 1947, sebanyak 10 pemain berasal dari Torino. Klub itu membentuk tim inti Italia yang akan dimanfaatkan untuk mempertahankan Piala Dunia pada 1950.

Setelah kecelakaaan itu, mantan pelatih tim nasional Vittorio Pozzo dipanggil untuk mengidentifikasi mayat. FIGC (PSSI-nya Italia) memberikan gelar liga untuk kelima kali secara beruntun kepada Torino dengan anumerta. Sebagai tanda penghormatan, klub-klub lawan menurunkan tim junior untuk sisa pertandingan musim itu. Kecelakaan Superga itu mengisyaratkan perubahan dalam kekuatan sepakbola di Turin.

Pada November 1949, enam bulan setelah tragedi itu, Torino kehilangan rekor enam tahun tak terkalahkan di kandang sendiri dengan kekalahan di Stadion Filadelfia oleh Juventus, yang meraih juara pada 1950.

Il Toro mencoba untuk pulih. Pada awal 1960-an klub itu mengontrak Denis Law dari Manchester City dan Joe Baker dari Hibernian tetapi satu-satunya gelar Seri A pasca tragedi Superga yang diraih pada 1976 sangat jauh bila dibandingkan dengan 18 gelar yang diraih Juve selama periode yang sama.

Musim ini perbedaan kelas kedua klub itu tampak nyata dalam dua pertandingan derby. Kekalahan 0-4 yang dialami Torino dalam pertandingan derby pertama dan 0-2 dalam derby kedua menjadi bukti makin lemahnya kekuatan klub itu.

Pertandingan Sabtu (3/5) ini akan menjadi sejarah baru bagi kedua tim Turin tersebut. Meskipun Juventus dapat meraih gelar ke-27 dengan menundukkan Lazio di Roma (jika pesaingnya Inter Milan tidak menang saat melawan Atalanta), Torino akan degradasi jika mereka gagal memperoleh tiga poin saat melawan tim peringkat tujuh, Udinese.(rtr,F3-77)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA