
| Sabtu, 3 Mei 2003 | Berita Utama |
Wapres Irak DitangkapWASHINGTON - Paling tidak tiga lagi pejabat puncak Irak ditangkap, termasuk mantan kepala kementerian Irak yang bertugas mengembangkan senjata pemusnah massal, kata para pejabat AS, Jumat kemarin. Komando Militer Pusat AS dalam suatu pernyataan mengatakan, Abdul Tawab Mullah Hwaish, menteri perindustrian militer Irak dan nomor 16 dalam daftar "55 orang paling dicari" kini berada dalam tahanan AS. Kementerian Perindustrian Militer dibentuk pada 1980-an untuk mengembangkan senjata. Penahanan itu mungkin membantu para penyidik AS memburu senjata pemusnah massal yang dicurigai Washington dimiliki Bagdad. Wakil Presiden Irak, Taha Mohieddin Ma'rouf, yang menempati nomor 42 dalam daftar AS itu juga ditangkap. Dia juga menjadi anggota Dewan Komando Revolusioner pimpinan Saddam Hussein, kata Komando Militer Pusat AS. Meski menjadi salah seorang dari dua wapres Irak dan anggota dewan komando pimpinan Saddam, Ma'rouf tidak dipandang sebagai bagian dari lingkaran dalam mantan pemimpin Irak itu. Dia juga jarang membuat pernyataan di depan publik. Seorang pejabat AS di Washington mengatakan, mantan Menteri Transportasi Ahmed Murtada Ahmed Khalil juga ditangkap beberapa hari terakhir. Dia tidak termasuk dalam daftar orang paling dicari. Pejabat AS itu tidak memberikan perincian mengenai penangkapannya. ABC News melaporkan, mantan pejabat Irak lain juga ditangkap. Dia adalah Mizban Khadr Hadi, anggota Dewan Komando Revolusioner pimpinan Saddam dan pemimpin penting Partai Baath. Dia berada di urutan 41 dalam daftar paling dicari AS. Para pejabat AS di Washington mengatakan, mereka tidak dapat memberi konfirmasikan tentang penangkapan ini. Pidato Bush Sementara itu, Presiden AS George W Bush kemarin menetapkan berakhirnya operasi tempur utama di Irak. Dia menyebut perang enam pekan itu "kemenangan" bagi kampanye membasmi terorisme. Ditekankannya, perang melawan terorisme masih akan terus berlanjut dan AS bertekad bulat untuk merampungkannya. Berbicara di hadapan pasukan AS di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, Bush mengatakan AS masih terus mengejar tujuan penting di Irak. "Kami mempunyai pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. ...Peralihan dari kediktatoran ke demokrasi akan memakan waktu, namun segala usaha pasti ada nilainya. Koalisi kami akan tetap tinggal di Irak sampai pekerjaan kami selesai," jelas Bush. (rtr-ben-ant-46) |