logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Mei 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Harus Jual Perahu, Akhirnya Buss...

JALAN di depan tempat pelelangan ikan (TPI) Tambaklorok mulai padat sore kemarin. Hasil tangkapan ikan nelayan mulai dikerumuni calon pembeli. Berbagai jenis ikan laut segar dijual di atas tampah yang berjejeran di tepi jalan beraspal hasil proyek penunjukan Pemkot Semarang itu.

Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kecuali yang dirasakan Muntahar, bukan nama asli, yang kelihatan masih tenger-tenger merenungi nasibnya.

Sekitar sebulan lalu nelayan Tambaklorok, Tanjung Emas, Semarang Utara itu telah menjual perahu motornya. Harganya sangat murah agar cepat laku. Perahu berikut arat, motor, dan atap itu hanya laku Rp 3 juta atau separo dari harga belinya dulu.

Nelayan lain juga rela menggadaikan sepeda motor, menjual barang-barang elektronik, serta utang kepada rentenir. Semuanya demi mendapat uang Rp 1,5 juta untuk menutup biaya bekerja sebagai TKI ke Malaysia sebesar Rp 3 juta. Sisa biaya itu ditanggung oleh Pemkot Semarang.

Keinginan Muntahar saat itu sudah bulat. Merantau ke negeri orang supaya taraf hidupnya bisa meningkat. Sebagai bekal, uang hasil penjualan perahu motor itu separo untuk ongkos bertolak ke Malaysia bersama 90-an tetangganya melalui PT Ipwikon Jasindo. Sisanya ditambah ''jasa baik'' rentenir untuk membiayai anak dan istrinya selama ditinggal.

''Penghasilan sebagai nelayan tidak bisa diharapkan lagi. Tangkapan makin sedikit. Makanya saya memutuskan untuk berangkat ke Malaysia bareng dengan yang lain,'' ungkapnya dalam bahasa Jawa.

Namun, sebulan kemudian bukan keberuntungan yang diperoleh. Kebuntungan justru didapat. Nelayan beranak dua orang memilih pulang ke kampung nelayan itu dari Malaysia sebelum bekerja genap sebulan dari dua tahun masa kontrak.

''Baru dua minggu bekerja rasanya sudah tidak betah,'' ungkapnya kesal. Betapa tidak jika pendapatan yang diperoleh di Malaysia di luar bayangannya. Semula dia berpikir bisa mengantongi duit Rp 3 juta / bulan.

Ternyata, setiap hari dia malah tekor. ''Penghasilan saya tidak mesti genap 15 ringgit (seringgit Rp 2.250-Red) setiap hari karena kerja hanya dihitung jam-jaman. Itu saja masih dipotong tabungan, untuk uang makan, dan beli tetek bengek untuk bisa mandi.''

Alim, juga bukan nama sebenarnya, TKI lain yang turut pulang kampung lebih awal mengisahkan di tempat penampungan di Malaysia harus hidup seperti bandeng yang ditumpuk-tumpuk. Satu rumah harus ditempati 25 orang tanpa disediakan alas.

Soal makan, mereka harus membayar lebih dulu daripada ditelikung. ''Pemilik kantin saya kasih tahu, saya makan dua ringgit saja terserah lauknya. Kalau tidak saya harus membayar tiga ringgit,'' ungkapnya menceritakan cara penghematan.

Tidak ada air minum gratis di sana. Biar hemat lagi mereka terpaksa memburu tanki air yang dikirim keliling perumahan untuk diminum.

Nasib mereka selama itu tidak mendapat perhatian yang baik dari penyalur. ''Kami tidak tahu ke mana perginya penyalur itu. Kami dibiarkan telantar dan bekerja tidak seperti yang dijanjikan,'' ujar TKI lain yang juga keberatan ditulis namanya.

Maka, prinsip mereka adalah daripada sengsara di negeri orang lebih baik sengsara di negeri sendiri. ''Keputusan kami setelah sering kumpul-kumpul, secepatnya harus pulang kampung.''

Dan, Kamis (1/5) sebanyak 90-an TKI ramai-ramai pulang kampung. Sebagian besar berasal dari Tambaklorok. Namun, Muntahar masih gamang. Rentenir yang setiap saat bisa datang membawa catatan utang terus membayang.

Kembali sebagai nelayan terasa sulit. Perahunya sudah telanjur dijual. Keinginannya untuk bisa bekerja di Malaysia untuk saat ini seolah sirna. Janji muluk berpenghasilan tinggi dengan bekerja di negeri orang tinggal janji belaka, buss... (Agus Toto W-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA