
| Sabtu, 3 Mei 2003 | Kolom |
"Inulisasi"Oleh: Adi Ekopriyono KETIKA kita berdiri menghadap ke barat dan berkata "Itulah barat", kemudian berbalik ke arah timur dan berkata "Itulah timur", sebenarnya apa yang menjadi batas antara barat dan timur? Bukankah batas itu adalah diri kita sendiri? Bagitu pula, ketika melihat goyang ngebor Inul Daratista. Kitalah yang menjadi batas antara estetika dan erotika. Kita sendiri yang memba tasi, goyang itu estetik atau erotik, goyang itu seperti kuda lumping atau seperti gerakan yang berkonotasi seksual. Butet Kartarejasa menyebutkan, semua itu tergantung pada otak kita. Kalau otak kita ngeres, maka goyang Inul pun menjadi erotik, porno. Kalau otak kita bersih, maka goyang Inul menjadi estetik. Batas antara estetika dan erotika menjadi sangat tipis. Batas itu berada pada diri kita sendiri. Sangat subjektif, personal, dan relatif. Itulah sebabnya, ketika sesuatu yang subjektif, personal, dan relatif tersebut diabsolutkan, maka yang terjadi adalah pro dan kontra. Pengabsolutan itu, boleh jadi, bertentangan dengan kodrat. Di dunia ini tidak ada yang absolut, karena hanya Tuhanlah yang absolut. Itulah sebabnya, Nurcholish Madjid pernah mengatakan, sebaiknya kita selalu bersedia membuka ada peluang kemungkinan diri kita berbuat keliru dan ada peluang orang lain berbuat benar. * * * Pro-kontra tentang goyang ngebor Inul, dengan klimaks pernyataan "pencekalan" yang dilakukan oleh Rhoma Irama, merupakan persoalan seputar batasan tersebut. Batasan itu berada dalam otak kita masing-masing. Pada saat kita menilai kemudian menginterpretasikan goyang itu estetik atau erotik, maka sebenarnya kita sedang memaknai suatu realitas. Pemaknaan itu sangat tergantung pada persepsi kita masing-masing. Dalam dunia komunikasi, ada gambaran realitas di dalam pikiran kita yang memengaruhi persepsi itu. Gambaran itulah yang disebut event model, yang terbentuk oleh kerangka acuan dan lingkup pengalaman orang per orang. Event model Rhoma Irama tentu berbeda dari event model Inul, Anissa Bahar, Nita Talia, atau Gus Dur, Guruh Soekarnoputra, Anwar Fuady, dan seterusnya. Napoleon Hill mengatakan "Tak ada pembatasan terhadap pikiran, kecuali batasan yang telah kita akui." Batasan itu sangat subjektif, berbeda antara seseorang dan orang lain. Wajar kalau ada orang yang menilai goyang Inul itu sama sekali tidak berkonotasi porno, malah lebih berupa gerakan-gerakan seperti reog atau orang sedang bermain hula hoop. Wajar juga, kalau ada orang yang menilai goyang itu sangat erotis, porno, sehingga harus dicegah, bahkan dicekal. Kalau kita merujuk pada perspektif hiper-realitas Baudrillard, goyang Inul sesungguhnya tidak perlu dirisaukan. Goyang itu hanyalah reproduksi nilai-nilai penampakan, bukan reproduksi nilai-nilai ideologi atau mitologi. Publik hanya menyerap nilai-nilai penampakan (fascination) dan tidak menyerap nilai-nilai transendental; mitologis, ideologis, atau spiritual, yang memang sudah tercabut dari realitas sosial objek yang nyata. Model persepsi mendahulukan keterpesonaan penampakan daripada nilai-nilai transendental. Jadi, dalam konteks hiper-realitas, goyang Inul bukanlah realitas yang harus dirisaukan. Orang hanya akan menikmati keterpesonaan atas jingkrak-jingkrak dan ngegol penyanyi dari Pasuruan itu, tanpa merefleksikannya ke arah hal-hal yang transenden. * * * Anak saya bertanya "Kalau goyang Inul itu porno, apakah berarti lelaki Irian yang pakai koteka dan perempuannya yang tidak pakai beha lebih porno?" Nah! Tergantung kan! Bagaimana kualitas otak kita. Kalau otak kita ngeres, maka kita pun bisa terangsang melihat saudara-saudara kita yang hanya memakai koteka dan tidak mengenakan beha itu. Persis ketika melihat goyang Inul, bisa terangsang bisa tidak, bisa menginterpretasikan itu porno bisa pula tidak. Jadi, tidak perlu ada monopoli interpretasi seperti yang sering dilakukan oleh penguasa pada zaman Orde Baru. Monopoli interpretasi tidak lagi relevan diterapkan pada era demokratisasi ini. Terlebih lagi pencekalan, pemberedelan, atau upaya-upaya lain yang mengarah pada "pembunuhan karakter" (character assassination). Masih banyak persoalan yang lebih besar bangsa ini, lebih urgent, untuk dibicarakan dan dicarikan solusinya. "Inulisasi", begitu istilah yang akhir-akhir ini ngetop, hanyalah bagian kecil dari persoalan bangsa. Persoalan "inulisasi" sangat kecil dibandingkan dengan persoalan narkoba, judi togel, peningkatan angka kriminalitas, premanisme, bom di mana-mana, dan ancaman disintegrasi bangsa. Mengapa kita terjebak pada persoalan yang relatif, tapi mengabaikan persoalan lain yang lebih mendesak. Banyak kecenderungan demoralisasi yang lain, bukan sekadar "inulisasi" (kalau "inulisasi" itu disepakati telah mengancam moral bangsa). Banyak pula penyanyi dangdut lain, yang sudah sejak dulu bergoyang, dan goyangannya itu bisa diinterpretasikan porno, erotik, merangsang birahi. Mengapa baru sekarang kita ribut? Apakah perbedaan goyang Camelia Malik, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto dari goyangan Inul Daratista? Bukankah perbedaan itu hanya dibatasi oleh diri kita sendiri? - Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang |