
| Sabtu, 3 Mei 2003 | Ekonomi |
Produksi Konveksi Turun 70%PEMALANG-Dampak kebakaran pasar grosir Tanah Abang Jakarta beberapa waktu lalu masih dirasakan hingga kini oleh produsen pakaian jadi, termasuk di Pemalang. Hal itu terlihat pada penurunan produksi pakaian jadi atau konveksi di Pemalang hingga 70%. ''Kami bingung mengatasi persoalan itu. Kini sedang dicoba penjajakan pasar di daerah lain untuk mengangkat kembali produksi konveksi,'' kata Ir M Syahroni, Kasubdin Perdagangan Kantor Disperindagkop Pemalang, kemarin. Penurunan produksi itu, lanjut dia, merata terjadi di beberapa sentra industri pakaian jadi. Antara lain, di Desa Rowosari, Samong, Sukorejo, dan Botekan, semua berada di wilayah Kecamatan Ulujami. Selain itu, juga di Kecamatan Comal, Taman, dan Pemalang. Seluruh perajin konveksi di Pemalang, ungkap dia, ada 828 orang. Sebagian besar mereka bekerja berdasarkan pesanan pembeli di Pasar Tanah Abang. Hanya sedikit yang bekerja dengan modal sendiri. Ribuan Kodi Dari desa-desa sentra industri konveksi itu, lanjut dia, dulu setiap pekan dikirim ribuan kodi pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang, baik celana jins, kemeja, maupun pakaian anak-anak. ''Namun, karena sekarang pasar penampung produksi mereka yang terbesar itu tak ada, produksi merosot hingga 70%,'' tuturnya. Untuk meningkatkan produksi pakaian jadi tersebut, pihaknya menjajaki pasar ke tempat lain, termasuk di luar Jawa, seperti Medan, Sumatra Utara. Hal serupa dilakukan pula oleh Kantor Disperindag Jateng. Berdasarkan studi lapangan, kata dia, pasar grosir di Medan memberikan harapan cukup baik. Sebab, dari seluruh barang di sana, 20% adalah pakaian jadi dari Pemalang. Namun, pemasoknya dari Jakarta, bukan dari Pemalang langsung. Melihat peluang tersebut, tambahnya, Disperindag Jateng berupaya membangun kios di Medan khusus untuk menampung produk pakaian jadi dari Jateng, termasuk Pemalang. Jika itu terwujud, diharapkan produksi akan meningkat. ''Di sisi lain, kini peluang perajin pakaian jadi cukup besar karena pemerintah melalui Menperindag telah menutup impor pakaian bekas,'' ujarnya.(sf-53e) |