logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 28 April 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Ngisor Asem

Berburu Benda ''Keramat'' di Pasar Johar!

MELINTAS di salah satu sudut lantai dua Pasar Johar siang itu, terasa lengang. Deretan penjual benda-benda ''keramat'' sepi pengunjung. Beberapa pedagang yang menggelar keris berbagai ukuran, batu akik dan batu mulia, kitab istambul, serta tasbih berbahan kayu cendana bercengkerama di antara dasaran.

''Sekarang ini penggemar batu lagi sepi,'' kata Sarju Wibisono (48), penjual batu akik di sana.

Ia tidak bisa menjelaskan secara rinci lesunya pasar batu akik dan batu mulia itu. Yang pasti, dia menyebutkan sejak krisis ekonomi melilit negeri ini lima tahun lalu pasaran batu akik sedang jeblok.

''Mengandalkan penjualan batu-batu ini sangat kecil pendapatannya. Makanya, saya juga menerima order sepuhan, patri, atau reparasi mban-mbanan.''

Sejumlah penjual kemasan juga mengungkapkan saat ini pasar sedang tidak bergairah. Meskipun penggemar dan kolektor batu-batu itu kian bertambah, transaksinya sepi.

Satu-dua orang tampak mendekati ke seorang pedagang untuk menyepuhkan mban-mbanan batu akik. Yang lain, mencari minyak misik yang harganya sekitar Rp 2.000/botol kecil.

''Belum ada yang mencari batu. Lumayan masih ada dagangan lain yang bisa dijual,'' kata Ny Hj Suharti (64), pedagang lain asal Sompok, Wonodri, Semarang Selatan.

Selain batu akik, penjual yang sudah menempati dasaran sejak 1980-an itu juga menyediakan minyak misik dan cendana untuk membersihkan keris. Adapula kitab istambul, kayu kastigi yang konon bisa sebagai sarana mengobati orang yang disengat binatang berbisa, serta kemenyan putih.

Lengkapnya benda-benda ''keramat'' yang tersedia di lantai dua Pasar Johar itu menjadikan Semarang sebagai salah satu pusat buruan para kolektor batu. Tak jarang pembeli asal luar kota seperti Surabaya, Cirebon, Jakarta, dan bahkan dari manca negara yang menuju ke lokasi itu. Belasan pedagang kemasan menawarkan aneka batu-batu imitasi hingga yang paling diburu sekalipun.

Sebut saja batu safir, topas, kalimaya, jamrud, giok, siyem, kecubung, sulaiman, badar besi, dan merah burma. Bila beruntung, penjual juga menyimpan batu merah rubi delima, salah satu batu yang dikenal oleh masyarakat karena cerita dibalik batu itu.

Misalnya, ketika batu merah rubi itu dicelupkan ke dalam air putih segelas, air itu akan turut berwarna merah. Bahkan, sepuluh gelas air putih yang didekatkan akan berwarna merah pula.

Akan tetapi, seorang penjual kemasan yang mengaku menekuni dunia itu sejak 1932 menganggap cerita itu hanya sebagai strategi dagang. Biar dagang cepat laku, muncullah cerita-cerita ajaib soal batu merah rubi.

''Jangan lekas percaya, itu bagian dari taktik berdagang. Daya tarik batu itu justru berasal dari kesenangan pribadi,'' ungkap Suhardi (76), pedagang lain.

Faktor kesenangan itu pula yang membuat harga batu-batu itu menjadi melambung hingga jutaan rupiah. Dia mengisahkan mendapat batu seharga Rp 300 ribu. Kini batu itu pernah ditawar hingga mencapai Rp 3 juta, tapi belum diberikan. Bicara harga, tidak bisa memastikan . (Agus Toto W-71)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA