logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Tajuk Rencana  
Line

Aceh Benar-benar Suram

- Sidang Joint Council (Dewan Bersama) di Jenewa gagal. Hanya beberapa jam sebelum sidang yang direncanakan Jumat ini dimulai, Henry Dunant Centre mengabarkan bahwa tak bisa menghadirkan wakil-wakil GAM. HDC mengatakan, GAM bersedia berunding pada 27 April. Delegasi Indonesia yang akan bertolak kemarin petang membatalkan keberangkatan. Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono kemarin petang menyatakan, perubahan sikap GAM yang mendadak itu sangat menyinggung kehormatan bangsa. Apakah dengan demikian perang bisa dipastikan akan pecah? Menko Polkam tidak menyatakan hal itu. Sikap selanjutnya masih akan dibahas dalam sidang jajaran Polkam yang akan diselenggarakan pada hari ini.

- Bagaimanapun kita semua berharap perang tidak akan terjadi di Aceh. Kedua pihak, Pemerintah RI dan GAM, bisa menemukan jalan damai untuk memecahkan masalah. Sebab, meskipun ada yang menang, perang pasti akan membawa kerugian jauh lebih besar bagi banyak pihak. Terutama dalam jangka pendek. Bisa dipastikan, rakyat kecillah yang bakal paling sengsara. Harus lebih banyak berkorban. Harta dan terlebih lagi nyawa. Padahal, mereka belum tentu tahu persoalannya. Apalagi, bisa diperkirakan, perang jika pecah, akan berlangsung lama. Aceh adalah medan perang yang sangat luas dan sulit karena bergunung-gunung. Bisa dipastikan pula GAM tidak akan gampang menyerah. Sekarang mereka malah sudah menambah pasukan dan persenjataan.

- Kita baru saja menyaksikan betapa berat derita rakyat Irak akibat invasi AS dan sekutunya. Banyak wanita, anak-anak dan penduduk sipil menjadi korban peluru atau bahkan bom dan peluru kendali nyasar. Padahal, sebelum melancarkan serbuan, para pembesar militer AS sesumbar bahwa perang akan berjalan efektif, rakyat tidak akan jadi korban. Sebab, peluru yang digunakan dalam serbuan adalah senjata mutakhir yang serbaterkendali (guided missile). Bom dan peluru-peluru kendali yang dilontarkan akan bisa tepat mengenai sasaran. Kenyataannya, pemukiman, pasar, hotel, dan banyak bangunan sipil lain diterjang peluru. Bagaimana dengan perang Aceh andaikata pecah, yang jauh dari penggunaan senjata berteknologi modern, yang serbaterkendali?

- Situasi di Aceh belakangan makin panas. Pelanggaran terhadap pesetujuan damai makin banyak. Bahwa GAM makin meningkatkan gerakan, banyak penyebabnya. Misalnya, pembentukan zona damai yang sebenarnya telah disepakati dalam Komisi Keamanan Bersama (JSC). Namun, bisa diduga zona damai sangat merugikan GAM. Zona damai menyebabkan operasi dan pengaruh gerakan separatis tersebut makin sempit. Jika zona damai makin luas, tentu akan makin memperkecil dan mempersempit manuver mereka. Juga akan menutup kesempatan melakukan pungutan-pungutan terhadap warga biasa. Pungutan itu adalah sumber dana kegiatan mereka. Zona damai dalam jangka panjang akan makin memperlemah posisi gerakan tersebut.

- Sebenarnya perjanjian damai yang ditandatangani pada 9 Desember 2002 di Jenewa merupakan pencapaian kemajuan paling besar dibandingkan dengan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya. Di berbagai kota warga mulai bisa menikmati kehidupan normal. Dalam suasana yang terasa lebih aman mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Harus diakui, HDC telah memberi sumbangan sangat konkret bagi pencapaian tersebut. Sebaliknya, di lapangan para petugas lembaga itu memang dihadapkan kepada persoalan yang jauh lebih rumit, rawan, dan eksplosif. Salah satu penyebabnya adalah jurang beda pendapat yang sangat lebar. Meskipun sudah sepakat menghentikan permusuhan (COHA), GAM tetap pada cita-citanya, yaitu Aceh merdeka.

- Di dalam negeri masih terdapat beda pendapat tentang cara menyelesaikan masalah Aceh. Sebagian setuju operasi militer, yang lain tetap mengharapkan penyelesaian dengan cara damai. Kalau kita merunut ke belakang, sebenarnya pemerintah sudah terlalu sabar dan bersedia ''melangkah surut'' dalam menghadapi GAM. Sampai-sampai ada yang menilai, pemerintah lembek dalam menghadapi separatis. Sekarang, pemerintah tampaknya dihadapkan kepada pilihan akhir. Pernyataan Menko Polkam, Menhankam, dan banyak pemimpin lain mengisyaratkan hal itu, meskipun dengan embel-embel jika perundingan damai gagal. Sejak awal toh disadari, makin lama persoalan di sana tak terselesaikan bakal makin sulit dan rumit. Hal itu kita lihat sekarang.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA