
| Jumat, 25 April 2003 | Tajuk Rencana |
Tahun Investasi Masih Memberi Harapan- Setelah pencanangan tahun 2003 sebagai tahun investasi, apa saja yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha? Begitulah pertanyaan yang sering muncul. Pencanangan tahun investasi jangan cuma seremoni belaka dan tidak ada makna apa pun. Pertanyaan belum terjawab, namun yang membuat kita lega, dalam tiga bulan pertama tahun ini terjadi peningkatan signifikan dalam persetujuan proyek PMA (penanaman modal asing) dan PMDN (penanaman modal dalam negeri ). Berdasarkan data yang dihimpun dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), selama Januari hingga Maret 2003 telah terjadi peningkatan persetujuan PMA sebesar 47,3 persen dan PMDN 90,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Berarti tahun investasi masih memberi harapan setelah tiga bulan pertama menjadi awal yang baik.
- Persetujuan PMA mencapai 239 proyek senilai 2,4 juta dolar AS, sedangkan PMDN sebanyak 25 buah dengan nilai Rp 2,2 triliun lebih. Memang ini baru nilai persetujuan sementara realisasinya seringkali jauh dari yang diperkirakan. Meskipun demikian, angka-angka itu cukup menunjukkan masih tingginya minat berinvestasi di sini. Pada saat dunia sedang dilanda guncangan akibat Perang Teluk II atau wabah penyakit SARS (secure acute respiratory syndrome), sebenarnya kondisinya membuat pesimistis. Karena itulah, angka-angka tersebut cukup memberikan harapan dan ini akan menjadi cerminan citra positif khususnya kepada dunia luar. Tinggal bagaimana pemerintah berupaya agar angka realisasinya tidak terlalu jauh dari yang sudah disetujui. Juga tidak ada lagi pengusaha asing yang hengkang dari sini.
- Iklim investasi ditentukan banyak hal, tetapi yang lebih dominan adalah kestabilan politik dan keamanan. Setidak-tidaknya perlu ada jaminan tidak akan muncul lagi gejolak sosial yang besar, baik yang diakibatkan oleh unjuk rasa pekerja atau unjuk rasa elemen masyarakat terhadap pemerintahnya sendiri. Sentimen perang Irak dan AS pernah dikhawatirkan memicu instabilitas baru, namun kenyataan relatif masih aman-aman saja, kendati demo merebak di mana-mana. Syukurlah perang pun lebih cepat selesai dari yang diperkirakan sebelumnya. Sementara itu, pemerintahan sekarang kendati belum memuaskan relatif bisa menjaga stabilitas. Dinamika politik masih dalam koridor sehingga tidak sampai mengganggu situasi makro. Pertanyaannya, apakah ini bisa dipertahankan sampai akhir tahun? - Itulah persoalannya. Pemilu makin dekat dan proses ke arah itu sudah mulai menampakkan dinamikanya. Untuk kali pertama presiden dan wakil presiden akan dipilih langsung sehingga dikhawatirkan akan muncul konflik-konflik baru yang lebih bersifat horisontal. Di luar aspek politik, kestabilan ekonomi makro tetaplah menjadi indikator penting. Beruntunglah tidak terlalu ada guncangan atau fluktuasi yang tajam. Nilai tukar rupiah, laju inflasi, tingkat suku bunga, dan lain-lain relatif stabil. Inilah yang mampu menumbuhkan kepercayaan di kalangan investor baik domestik maupun internasional. Beberapa propaganda buruk yang sempat merisaukan kita pada tahun 2002 ternyata tak terlalu berdampak, sehingga kita masih bisa berharap investasi dan penyerapan tenaga kerja pada tahun ini meningkat.
- Di samping faktor kestabilan makro, ada baiknya pemerintah terus memperbaiki berbagai faktor yang sekarang banyak dikeluhkan dunia usaha. Antara lain masih banyaknya peraturan, terutama di daerah-daerah, yang memberatkan dunia usaha. Kalaupun pungutan liar sebagai persoalan klasik dan membudaya belum bisa dihilangkan, setidak-tidaknya jangan ditambah lagi dengan peraturan-peraturan formal yang tidak bersahabat. Intinya pengusaha perlu dibantu agar makin efisien, karena hanya dengan itulah mereka dapat meningkatkan daya saing. Termasuk peraturan dalam perpajakan, kepabeanan, perizinan, dan lain-lain. Kita mesti ingat, justru hal-hal itulah yang besar pengaruhnya karena penanam modal asing makin memiliki banyak alternatif tujuan investasi.
- Sangatlah tepat usulan yang pernah dikemukakan Ketua Umum Kadin Ir Aburizal Bakrie tentang perlunya perubahan sikap mental birokat agar lebih bisa memahami dan menyelami dunia bisnis. Istilah yang dikembangkan adalah apa yang dinamakan enterprenerual government. Pengertian yang paling sederhana yakni sebuah pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang baik kepada dunia usaha karena telah memiliki visi bisnis. Bukan sebaliknya pemerintahan yang masih memegang paradigma lama sebagai penguasa yang justru sering minta dilayani. Perubahan paradigmatik ini perlu terus didorong kendati akan memerlukan waktu yang cukup lama. Dengan demikian, sekaligus akan tercipta clean and good governance dan pada ujung-ujungnya akan mampu menekan ekonomi biaya tinggi. |