logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Sala  
Line

Ki Manteb Punya Tiga Calon

  • Malam Ini Munas Pepadi Dibuka

KOTA- Jumat malam ini (25/4) Musyawarah Nasional (Munas) Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) akan dibuka oleh Ketua I H Solichin. Agenda paling menarik dalam acara ini, selain kehadiran parpol adalah pemilihan ketua umum baru.

''Ada beberapa nama yang sudah mulai dibidik untuk bisa tampil memimpin Pepadi pada periode mendatang. Kami berharap ketua terpilih nanti benar-benar sosok yang mengerti wayang, bisa ngayomi para dalang, dan menciptakan kehidupan bagi para dalang,'' kata Ki Manteb Soedharsono kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dikatakannya, secara pribadi, dia memiliki beberapa kandidat yang selama ini dinilai memiliki komitmen kuat memajukan dunia perwayangan.

Antara lain Sutrisno (tokoh bisnis di Jakarta), Rusman (Ketua Pepadi DKI), Soedarko Prawiroyudo, dan beberapa nama lainya.

''Kalau bisa, salah satu di antara para tokoh itu nantinya berkenan memimpin Pepadi. Kalau itu terwujud, saya yakin Pepadi akan semakin baik di masa depan. Apalagi sudah ada komitmen tegas untuk mandiri dan bebas,'' kata dia.

Ki Anom Suroto pun menginginkan ketua baru adalah sosok yang benar-benar memikirkan kehidupan wayang, dan utamanya para dalang.

Karena itu dibutuhkan sosok yang luwes bergaul, memiliki lobi banyak, dan benar-benar mempunyai waktu banyak untuk memikirkan wayang.

''Saya kira sosok yang disebut-sebut Pak Manteb itu cukup mumpuni. Mudah-mudahan saja mereka nanti bersedia dipilih. Tapi kita memang membebaskan para dalang untuk memilih ketua,'' kata dia.

Pakeliran Padat

Selain beberapa acara seremonial, pembukaan akan dimeriahkan dengan pagelaran pakeliran padat bersama dalang remaja Ki Prasetyo Bayu Aji. Pakeliran itu akan menandai.

Dijelaskan Soedarko Prawiroyudo, Ketua Pengarah Munas, pagelaran wayang kulit selama 1,5 jam yang dilakukan putra Ki Anom Suroto itu terbilang istimewa.

Terutama dalam hal lakon yang akan dipentaskan, yakni ''Lahire Gatutkaca''.

''Kenapa saya bilang istimewa, karena ceritanya kami persiapkan benar. Termasuk di dalamnya masalah sanggit (penggarapan) cerita yang nantinya akan dihubungkan dengan nilai yang akan disampaikan dari pagelaran tersebut,'' paparnya.

Menurut dia, penggarapan cerita tidak hanya dilakukan satu orang, tetapi itu beberapa pakar juga ikut cancut taliwanda memberikan sumbang saran.

''Di antaranya Pak Anom, Pak Manteb, dan pakar-pakar pedalangan dari STSI seperti Bambang Murtiyoso, Sumanto, B Subono, Wahyu Santosa Prabowo dan yang lain-lain,'' ujarnya.

Saat ditanya tentang nilai yang akan disampaikan lewat pakeliran itu, menurut Soedarko, nilai itu berkaitan dengan undangan parpol dalam Munas Pepadi. (Suara Merdeka, 23/4).

''Intinya begini, dari cerita itu diharapkan dapat menyampaikan nilai Pepadi yang sekarang telah mempunyai koridor yang jelas dalam berpolitik praktis,'' ujarnya.

Dia kemudian mencontohkan, saat bayi Gatutkaca dimasukkan ke Kawah Candradimuka, itu bisa saja diartikan masuk ke universitas untuk menggembleng sikap dan perilaku anak dari Bima dan Arimbi itu.

Hingga kemudian membuat Gatutkaca terkenal sebagai satria yang mempunyai pendirian kuat.

''Adeg-adeg kuat seperti pendirian Gatutkaca inilah, yang juga akan dituju Pepadi dalam perjalanannya nanti.'' (G19-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA