logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Sala  
Line

WTS Gunung Pare Pindah ke Kemukus

SRAGEN - Praktik prostistusi di lokasi ziarah Gunung Kemukus Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang semakin merebak. Puluhan warung di tepi jalan menuju kompleks pemakaman Pangeran Samodra, banyak dimanfaatkan mangkal WTS.

Mereka dengan gaya ''berani'' nampang di depan warung atau menemani minum tamu. Bahkan, tidak jarang pekerja seks komersial itu memanggil-manggil pengunjung yang lewat.

''Di antara WTS pendatang, berasal dari Gunung Pare, Kartasura,'' tutur Wardijo (45), peziarah yang sering mengunjungi Kemukus untuk ngalap berkah.

Keterangan yang dihimpun Suara Merdeka menyebutkan, sejak lokalisasi liar Gunung Pare ditutup, penghuninya banyak yang pindah ke Gunung Kemukus. Meningkatnya kupu-kupu malam yang praktik di Kemukus, membuat masyarakat dan para aktivis LSM Waras Sumberlawang prihatin.

Berulang-ulang imbauan untuk diadakan razia, tidak mendapat tanggapan Muspika Sumberlawang. ''Jumlah WTS di Kemukus selama sebulan terakhir meningkat tajam,'' tutur Bambang Haryanto dari LSM Waras.

Meski Kemukus sudah dikenal orang banyak dihuni WTS, dia berharap sebaiknya jumlahnya dibatasi. Keberadaan WTS menurut para pedagang diyakini membuat meriah Kemukus. Namun, di sisi lain membuat risi kalangan agamais serta warga yang menolak kemaksiatan.

Tetapi untuk membatasi jumlah WTS cukup repot. Sebab, banyak WTS datang menyaru sebagai peziarah. Setelah berhasil menggaet peziarah, mereka kencan di bilik kamar yang disediakan sebagian besar pemilik warung di kawasan itu atau mencari penginapan di luar Kemukus. Kalau yang mangkal di warung, sudah dikenali warga setempat.

Diperoleh keterangan, jumlah peziarah Gunung Kemukus mencapai puncak pada tiap malam Jumat Pon dengan pengunjung mencapai 5.000 - 10.000 orang, sedangkan kunjungan di luar malam itu 1.000 - 2.000 pengunjung. Keramaian di objek ziarah dekat perairan Waduk Kedungombo itu dimanfaatkan para WTS, pemilik warung dan bilik kamar, pedagang asongan serta judi dadu kopyok untuk mengais rezeki.

Mereka datang dari Purwodadi, Solo, Boyolali dan Sragen. Bahkan tiap Jumat Pon menjadi kalender tetap bagi pencopet asal Solo dan Purwodadi untuk beraksi di tengah pengunjung yang berdesak-desakan di sekitar kompleks makam.

Menurut pengamatan, tahun lalu pernah muncul wacana agar lokasi Gunung Kemukus yang terletak sekitar 19 km arah utara Kota Solo atau sekitar 30 km arah barat laut Sragen kota dimanfaatkan untuk melokalisasi perjudian. Tetapi sebelum ide itu dimintakan persetujuan DPRD, ditentang keras masyarakat Sragen dan juga warga sekitar Kemukus. (nin-17k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA