
| Jumat, 25 April 2003 | Berita Utama |
Mungkinkah Saddam Jalani Bedah Plastik?
HOUSTON - Mungkinkah orang kebanyakan dengan perut gendut yang duduk di sebelah Anda di bus Sadam Hussein? Secara medis mungkin, kata para ahli bedah plastik. Mantan pemimpin Irak, yang tidak terlihat di muka umum sejak sekitar 9 April lalu itu, bisa jadi baru saja sembuh dari operasi plastik dan wajahnya kini seperti pengusaha berpakaian rapi, versi mudanya yang tanpa kumis, atau orang yang lebih jelek ketimbang dirinya. Dengan waktu penyembuhan lebih lama lagi, dia mungkin mengubah bentuk wajahnya secara dramatis sehingga anggota kalangan dalamnya dan program pengenalan wajah berteknologi tinggi pun tidak akan bisa mengenalinya. "Jika Anda melanjutkan penyamaran dan hanya mengecat rumah Anda, hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk membuat suatu perbedaan," kata Dr Henry Kawamoto, ahli bedah plastik di Universitas California, Los Angeles. "Namun jika Anda ingin mengubah bentuk wajah, perlu waktu agak lama." Tidak ada bukti untuk menyatakan Saddam telah melakukan operasi apa pun. Kenyataannya, seorang ahli pembuat wajah yang mempelajari Saddam, yakin dia tidak mungkin telah mengubah penampilannya, dan barangkali telah tewas.
Namun dalam waktu dekat ini, banyak orang yakin Saddam tampaknya berjuang keras untuk bisa meloloskan diri sehingga punya waktu untuk melakukan operasi. Meski begitu, beberapa ahli bedah plastik yang dihubungi ABCNEWS menawarkan pendapat mereka tentang perubahan wajah Saddam jika dia ingin mengubahnya. Sangat Mudah "Sangat mudah untuk mengubah penampilannya," kata Dr Julius Few, asisten profesor operasi plastik di Sekolah Medis Northwestern di Chicago. "Secara teknis lebih mudah mengubah penampilan seseorang ketimbang memperbaikinya dan mempertahankan karakter yang sama. Dia mungkin berubah wajah dan bisa sembuh dari operasi itu dalam waktu tiga sampai enam pekan." Membuat Saddam tampak seperti orang yang lebih muda dengan kepala botak, Few mungkin akan "menyusutkan batas tumbuh rambut di kepala, mengangkat alis, meratakan kelopak mata bagian atas dan bawah, menambah kemiringan di sudut-sudutnya, melakukan pencangkokan pipi, memperlunak hidungnya, dan memberi dia bedah kecantikan dan pencangkokan dagu, serta mengurangi ukuran telinganya." Bahkan perubahan cepat tanpa operasi seperti pada bagian-bagian seperti kumis, rambut, perubahan rias wajah, mungkin sudah bisa mengelabui para pemburu Saddam yang tidak melihatnya dari jarak sangat dekat, kata Kawamoto, yang mungkin sangat terkenal setelah berhasil memisahkan kembar siam berusia 17 bulan dari Guatemala tahun lalu. "Saya kira Saddam telah melakukan sesuatu selain duduk di depan meja," jelas Kawamoto. "Memang, jika bom-bom dijatuhkan tiada henti, Anda tidak sempat berpikir untuk melakukan operasi plastik." Jika Saddam punya waktu untuk melakukan operasi memperhalus jaringan kulit dan mengubah bentuk wajah, dia mungkin tampak jauh lebih muda, namun barangkali wajahnya tidak begitu berubah sehingga tidak bisa mengelabui orang-orang yang sangat mengenalnya. Untuk melakukan perubahan yang lebih dramatis, Kawamoto menjelaskan para ahli bedah mungkin "mengubah secara fisik posisi lekuk matanya, namun hal itu jarang dilakukan oleh sebagian besar orang." Perubahan semacam itu mungkin menyakitkan, namun bisa mengelabui banyak program pengenalan wajah, jelas Kawamoto. Gambar-gambar rekaan komputer oleh Dr Russell Kridel memperlihatkan bagaimana penampilan Saddam Hussein jika garis batas tumbuh rambut di kepalanya disusutkan, atau tampil seperti pengusaha gaya Eropa. Dr Russell Kridel, dari Asosiasi Bedah Plastik Wajah di Houston, mengatakan kepada stasiun KTRK-TV, ABCNEWS bahwa dia mungkin mengangkat lemak dan kulit dari sekitar mata Saddam, mencukur kumisnya, menjepit dan membentuk kembali bulu matanya, mengubah bentuk wajahnya, mempercantik dagunya, memancungkan hidungnya, dan menyuntik kening dan bagian-bagian lain dengan Botox. Biayanya Rp 180 Juta Proses tersebut akan mencakup operasi selama sembilan jam dan biaya sekitar 20.000 dolar (sekitar Rp 180 juta) di Houston, jelasnya. "Proses perubahan wajah dengan cara ini membutuhkan waktu tiga sampai empat pekan. Jadi, jika Saddam melakukan operasi ketika perang dimulai, dia sudah hampir sembuh," kata Kridel kepada KTRK. "Kini, dia memiliki wajah berbentuk segitiga, bukannya segiempat seperti bentuk wajah aslinya." Dr Gary Brody, dari University of Southern California di Los Angeles, mengatakan mungkin ada cara lain dalam operasi plastik untuk mengelabui para pemburu Saddam. "Saya kira saya akan melakukan hal yang berlawanan dan membuat dia tampak lebih jelek," kata Brody. "Saya bukannya akan memperbaiki bentuk hidungnya, namun merusaknya, memencetnya dan melebarkannya sehingga membuat hidung itu benar-benar tampak sangat jelek. Brody mengatakan jenis perubahan yang dianjurkan Kridel mungkin membuat Saddam tampak lebih muda, namun hal itu tidak benar-benar bisa menyembunyikan identitasnya. "Saya kira jika Anda ingin menggunakan teknik-teknik standar dan berusaha membuat dia tampak tampan dan muda, Anda akan mengalami kesulitan untuk mengubah penampilannya guna mengelabui orang-orang yang mengenalnya," jelas Brody. Brody mungkin menganjurkan agar Saddam memanjangkan rambut dan memberi warna abu-abu, makan dengan rakus dan menjadi lebih gemuk, serta menghentikan penggunaan rias wajah apa pun. Dia mungkin merendahkan batas tumbuh rambut Saddam, memutihkan kulit, menghitamkan giginya, mencangkok dagu dan pipinya sehingga wajah Saddam jadi lebih panjang, dan menambah bekas luka pada wajahnya. Tidak Ekstrem "Akhirnya, saya mungkin mengubah arah pandang matanya dan membuatnya jadi lebih menunduk, menimbulkan kesan seperti bangsa Mongol," kata Brody. "Semua bedah itu saya yakin akan sembuh dengan cepat. Jika semuanya berjalan lancar, dia mungkin sudah bisa tampil ke khayalak dalam waktu sepekan atau 10 hari." Bekas-bekas luka mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, tetapi luka-luka kasar dapat disebabkan oleh luka-luka akibat perang, tambahnya. Namun, meski dimungkinkan Saddam mengubah penampilannya dengan cepat, susunan emosinya tidak mungkin mengubah dirinya, menurut Jerrold Post, mantan pakar profil CIA yang juga direktur program psikologi politik di Universitas George Washington. "Saya kira perubahan itu tidak akan ekstrem," kata Post, penyunting buku The Psychological Assessment of Political Leaders: Psychological Profiles of Saddam Hussein and William Jefferson Clinton. "Dia adalah orang yang punya kaitan kuat dengan citra dirinya," tambah Post.(abcnews-niek-ben-46) | |||||