logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Haul Ki Ageng Cukil Diharapkan Bisa ''Dijual''

SURUH - Masyarakat Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang akhir pekan lalu melakukan tradisi Saparan. Itu berkait dengan haul Ki Ageng Cukil Wanakusuma yang jatuh pada bulan Safar. Ki Ageng Cukil adalah salah seorang penyebar agama Islam pada abad ke-18 di Desa Cukilan. Makamnya berada di desa itu.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Suhirsan, tradisi itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Namun, baru tiga tahun belakangan ini dikemas ke dalam sebuah prosesi, sehingga diharapkan mampu ''dijual''.

Dengan begitu, pada tahun-tahun mendatang akan makin banyak warga luar Desa Cukilan yang menyaksikan jalannya peringatan tradisi tersebut.

Tradisi Saparan dimulai dari perjalanan usung-usungan dhondhang dari jarak sekitar 1 km menuju ke kompleks Makam Ki Ageng Cukil. Barisan paling depan adalah sepuluh warga yang berpakaian seperti prajurit Wonokusuman.

Selama perjalanan, jumlah dhondhang makin bertambah banyak. Sebab, warga setempat langsung bergabung begitu iring-iringan persis di depan rumahnya.

Dhondhang adalah sebuah tempat berbentuk empat persegi panjang dari kayu. Di atasnya diberi penutup dengan hiasan tertentu. Di dalamnya berisi aneka makanan khas masyarakat setempat.

Salah satu makanan yang tak pernah ketinggalan adalah ingkung (ayam yang dimasak untuk selamatan).

Dulu, bentuk dhondhang tak empat persegi panjang, namun cukup dhunak (sebuah wadah yang terbuat dari bambu).

Tokoh agama setempat menyampaikan doa, sebelum semua makanan yang terdapat di dalam dhondhang dan dhunak tersebut dimakan. Selama prosesi itu semua dhondhang dan dhunak ditempatkan di sekitar lokasi makam.

Begitu tokoh agama selesai memanjatkan doa, masyarakat pun membawa pulang perangkat itu.

Ketika menunggu jalannya prosesi, masyarakat dihibur aneka hiburan. Mulai tari prajuritan hingga solo organ. Juga tari reog dan rebana. Masyarakat antusias menyaksikan aneka hiburan sekali setahun itu.

Suhirsan menambahkan, selama tiga hari sebelum puncak tradisi Saparan, masyarakat dari luar daerah berdatangan ke Makam Ki Ageng Cukil.

''Selama tiga hari itu, ribuan warga dari berbagai daerah berziarah ke Makam Ki Ageng Cukil. Mereka datang dengan berbagai tujuan,'' tuturnya.

Bila tradisi tersebut akan ''dijual'', Kepala Desa Cukilan Maksum HN mengharapkan Pemkab membantu pemugaran kompleks makam tersebut. Sebab, untuk menampung jumlah peziarah yang dari tahun ke tahun makin banyak, diperlukan sebuah bangunan yang representatif.

Menurut rencana, halaman depan kompleks pekuburan akan dilebarkan. Dengan demikian, akan menampung jumlah peziarah yang selalu membeludak itu. Termasuk untuk menampung kendaraan dan mobil yang dibawa peziarah. (A2-73k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA