logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Karangan Khas  
Line

Dakwah sebagai Proyek Kemanusiaan

Oleh: Moh Afandi

KEBUTUHAN dakwah bagi komunitas muslim di era transformasi yang modern seperti sekarang ini terus memerlukan pembenahan formulasi rancang bangun mulai dari materi maupun target dan sasaran.

Ini menjadi kebutuhan mendesak, ketika umat Islam semakin terisolasi dari kompetisi aktif di tengah riuh rendahnya roman realita. Sebuah problema umat yang berputar silih berganti telah nyata dimengerti sebagai sunatullah yang perlu dihadapkan dengan solusi alternatifnya.

Di sisi lain, transformasi realita tersebut begitu cepat tak seimbang dibanding kehadiran solusi kehadiran Islami yang selalu diharapkan. Hal di atas bisa memberi pengertian betapa banyak 'proyek' kaum muslimin yang harus digarap.

Pertama, derasnya aliran budaya yang disebar kalangan non-muslim dan segelintir muslim sendiri yang jauh melampaui etika Islam bahkan sebagai manusia yang berbudaya. Sungguh memprihatinkan melihat berbagai tindakan kekerasan yang muncul akhir-akhir ini.

Kesadisan, keberingasan dan kebiadaban antarmanusia saat ini tampaknya sudah menjadi nestapa kelam dalam peradaban. Ironisnya, tindakan kekerasan itu muncul di tengah masyarakat yang terkenal religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan akan melahirkan dendam yang berkepanjangan dan akan merusak nilai-nilai kebudayaan.

Penyelesaian masalah dengan cara kekerasan, cenderung akan membuat manusia terperosok pada kebiadaban. Demikian pula secara politis, citra Indonesia di mata dunia internasional menjadi semakin rusak karena maraknya tindak kekerasan. Orang kini tidak lagi sungguh-sungguh menjalankan musyawarah sebagai cara mencari penyelesaian suatu masalah. Karena kekerasan dianggap lebih efektif sebagai mekanisme penyelesaian masalah.

Padahal pengalaman di berbagai negara menunjukkan tindak kekerasan hanya memancing kekerasan baru yang tidak ada habis-habisnya. Segenap komponen bangsa di Tanah Air, mulai dari rakyat jelata hingga penguasa, hendaknya perlu merenung dengan pikiran jernih, mengapa budaya bangsa kita saat ini berubah menjadi budaya kekerasan yang jauh dari norma agama?

Solusi Tepat

Kedua, kemampuan muslim menerjemahkan muatan nash Islam (Alquran dan hadits) sebagai solusi alternatif terus mendesak. Penjabaran tersebut seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan umat sehari-hari. Agama sesungguhnya merupakan solusi yang tepat dalam mencegah tindak kekerasan.

Dalam ajaran setiap agama selalu mencegah terjadinya kekerasan antarsesama umat manusia. Agama justru mengajarkan betapa pentingnya kerukunan dan kasih sayang agar bisa terwujud kedamaian di tengah masyarakat.

Kalau setiap orang memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan baik, maka tidak ada alasan untuk menebar kemarahan dan kekerasan di tengah masyarakat. Namun dalam realitanya, ajaran agama yang begitu luhur itu sering diabaikan karena kuatnya dorongan politik dan hawa nafsu kekuasaan.

Moralitas dan kesadaran etik adalah akar konstruksi budaya yang membentuk tatanan sosial politik dan ekonomi suatu masyarakat lebih kokoh. Keduanya adalah pintu pembuka dan peluang bagi umat dan segala elemen masyarakat terlibat aktif di dalam sistem dan konstruksi sosial, ekonomi dan politik secara kritis.

Karena itu, dakwah Islam merupakan strategi budaya yang mendorong terjadinya proses perubahan sosial secara gradual bertahap. Pokok orientasi dakwah adalah proses budaya di mana keberlakuan hukum merupakan konsekuensi logis.

Dari sini perlunya disadari bahwa dakwah Islam seharusnya lebih merupakan upaya membuat semua orang dan masyarakat semakin mengerti dan menyadari manfaat dan bagusnya Islam.

Kegiatan dakwah dengan demikian bisa menumbuhkan keyakinan manusia dan masyarakat itu bisa berubah dan harus berubah. Dakwah adalah proyeksi perubahan kehidupan manusia sebagai pribadi atau anggota masyarakat dan masyarakat itu sendiri ke realitas kehidupan yang lebih ideal.

Dua hal penting yang perlu diperhatikan, pertama, bagaimana mengembangkan pemahaman bahwa dakwah sebuah kegiatan budaya yang terus berubah, dinamis searah dengan perubahan masyarakat dan sejarah. Masalah penting yang kedua bagaimana mengembangkan dakwah sebagai 'proyek kemanusiaan'.

Untuk maksud seperti itu perlu disadari kembali risalah kenabian Muhammad SAW yang kultural sebagai kekuatan dahsyat spiritualitas dengan daya magnetis luar biasa menyerap seluruh kekuatan tradisi ke dalamnya. Risalah kenabian kultural itu pula yang mampu mengubah perangai jahiliyah ke dalam kesantunan ilahiah sekaligus memuliakan dan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.

Dakwah Islam kemudian merupakan sebuah gerakan pencerahan budaya dan pembaharuan tata sosial, ekonomi dan politik dengan hasil yang mengagumkan di sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

Memformat Dakwah

Menjadi dai, baik bagi diri sendiri maupun sesama, untuk perlu memiliki tsaqofah islamiah (kebudayaan Islam) secara menyeluruh demi menemukan kandungan nilai Islam yang sebenarnya untuk menghadapi realita. Ramah, dermawan, sabar dan sikap terpuji lainnya telah mendapat kesepakatan umum yang perlu diperhatikan.

Umar bin Abdil Aziz pernah menyerukan betapa penting bagi seorang dai untuk membersihkan jiwanya, karena dari sikap ini akan terpancar pada perilaku dhahir-nya. Rasul merupakan uswah dan cerminan bagi setiap perilaku muslim di sepanjagn zaman.

Maka tugas bagi kita sebagai penerus risalahnya, hendaknya mampu menata sistem dakwah seelastis tabiat syariat yang telah dibawa oleh rasul dan telah mendapat jaminan tepat guna di setiap tempat dan waktu.

Etika dasar ini oleh Doktor Mohammad Natsir dinilai sebagai tiang dakwah yang tidak bisa dipisahkan dari medannya. Kesalahan menentukan sikap dapat membubarkan konsentrasi umat dalam memahami Islam secara sadar. Perhatian secara mendasar telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, surat Ali-Imran Ayat 159.

Secara paradigmatik, Allah telah menyerukan kepada setiap pribadi muslim untuk sadar saling tegur sapa pada hal kebaikan dan kesabaran. Hal ini merupakan guide line untuk memenuhi panggilan Allah dalam surat Ali-Imran ayat 104, yang mendorong setiap muslim untuk menjadi umat yang gemar amar ma'ruf nahi munkar.

Namun betapa amar ma'ruf nahi munkar memerlukan pendekatan psikologis yang harus ditakar dengan skala waktu, tempat dan pribadi khalayak, supaya tidak terjadi kenyataan yang berbalik dari harapan. Sikap ini merupakan penyesuaian konkrit dengan hadits rasul yang berbunyi, "Aku diperintah untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan tingkat akalnya." Artinya dai yang dipersiapkan para cerdik cendekia dan para pecinta ilmu pengetahuan harus seorang al-hakim, yaitu mereka yang mampu memaparkan secara rinci perpaduan antara konsep dan realita. Sedangkan, bagi mereka yang berada sebagai posisi awam yang tidak banyak memiliki kemampuan membaca nash serta mudah kagum dengan realita, maka dakwah bagi mereka adalah dengan mauidloh hasanah, artinya bertutur sapa dengan baik.

Selanjutnya menjadi penting untuk diyakini bahwa keuniversalan alquran dan ajaran Tuhan itu menjadikan semua manusia terbuka mengembangkan pemahaman sesuai dengan tahapan kebudayaannya sendiri dan masalah kemanusiaan yang mereka hadapi. Pemahaman seperti ini dasar bagi kemungkinan usaha mengembangkan sebuah model dakwah sesuai dengan model masyarakat yang dihadapi untuk masyarakat desa atau kota, untuk seniman atau mahasiswa, untuk pejabat atau wong cilik dan lainnya.

Di situ pula terletak persoalan bagaimana memerankan Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar di tengah proses perubahan sosial yang semakin cepat dan global.(33)

-Dr H Moh Afandi MS, alumnus UGM Yogyakarta


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA