
| Jumat, 25 April 2003 | Karangan Khas |
Oposisi dan Munas Para DalangOleh: H Sujiwo Tejo DENGAR-DENGAR tanggal 25-27 April ada temu dalang di kalenggahan Mas Anom Suroto di Solo. Saya baru merasa pasti ketika penonton wayang kartinian oleh Bu Suwarni Sabdowati di Indosiar Sabtu lalu. Di pentas tentang Srikandi itu juga disebut akan ada perhelatan dalang. Bu Suwarni, dalang senior yang saya hormati, lewat tokoh Limbuk menyebutnya "Monas", singkatan dari Monumen Nasional di Jakarta. Mungkin tokoh abdi dalem itu secara karikatural memaksudkan munas, atau musyawarah nasional. Munas atau apa pun namanya, yang jelas dalam kumpul-kumpul dalang pada wadah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) itu, saya tidak diundang! Wallahi. Biasanya, kalau undangan tidak sampai di kantor atau di gubuk saya, tokoh-tokoh Pepadi seperti Pak Sudarko Prawiroyudo atau Mas Mas'ud atau Mas Slamet Sukirnanto akan menelepon saya. Begitulah adat lupiya sejak tahun 90-an, yang jamak mengambil tempat acara di Taman Mini Indonesia Indah dan dihadiri pada dalang sejak gagrak Sunda, Banyumasan, Mataraman, Solo, Jawa Timuran, sampai Bali dan Sasak. Sekarang ini, sekarang ini, sekarang ini, halo-halo juga tidak ada. Apalagi ulem-ulem. Yang saya paling khawatir sebenarnya ini: jika yang tak direken tak cuma saya, tetapi juga puluhan dalang-dalang muda lain. Ini baru gawat! Lebih gawat lagi kalau sarasehan "Monas" diselenggarakan, seperti dugaan nakal Bu Suwarni, karena menjelang pemilihan umum. Dan, menurut saya, lebih nggegirisi lagi jika benar bahwa sekarang kekuatan-kekuatan lama rezim kemarin akan kembali bercokol dan sudah mulai. Klop to? Klop: kekuatan orde dulu diam-diam mulai bercokol serta ingin lebih tancap kuku lagi lewat pemilu dan dalang-dalang senior berkumpul tanpa kehadiran yang belia. Oposisi Rezim kemarin bisa bertahan lebih seratus kali umur jagung antara lain lantaran dalang-dalang muda kurang diberi tempat dalam kancah pakeliran. Akibatnya, bagaimana rezim tidak langgeng, wong di benak masyarakat diam-diam ditanamkan secara bawah sadar oleh dalang senior bahwa oposisi itu tidak patut. Kurawa selalu jelek dalam Mahabharata. Sama halnya Rahwana, selalu jelek dalam Ramayana. Untuk mengukur ini gampang. Secara umum, sampai orde kemarin, hampir rumah-rumah orang Jawa tak ada yang pasang wayang Dursasana, Sengkuni, atau bala Kurawa lain. Mereka juga tak pasang Indrajit dan lain-lain gang Alengka pimpinan Rahwana. Ada yang pasang Kumbakarna, dari Alengka juga, memang, tapi itu baru Gus Dur. Masyarakat kebanyakan!!? Padahal masyarakat kebanyakan itulah cagak tuwak demokrasi. Padahal dengan paitan suara masyarakat kebanyakan itulah para elite politik akan menari-nari. Mobil dan rumah magrong yang akan para elite duduki, bergantung pada teraup tidaknya bunyi warga. Jika bawah sadar masyarakat awam tetap dibentuk, dicetak, dicuci, oleh ajaran bahwa oposisi tidak pantas buat Jawa, maka kekuatan-kekuatan mapan akan makin gampang bermuslihat mencari bala. Kekuatan lama dari rezim dahulu, yang kabarnya sudah mulai mengendap-endap numpang di balik kekuatan mapan saat ini, akan makin sledrang-sledreng dan haha-hehe. Jangankan masyarakat awam di pedusunan, masyarakat menengah di perkotaan yang kabarnya lebih banyak dapat informasi dari berbagai sumber selain dalang, juga kecele. Kan belum lama ada geger lagu "Arjuna Mencari Cinta" dari rekan-rekan kelompok musik Dewa. Lagi-lagi Arjuna. Lagi-lagi satria Madukara itu. Arjuna tak akan dibegitukan kalau dunia pedalangan seimbang dalam memberikan ajaran. Semestinya kan tidak melulu Arjuna atau Palguna yang jadi pahlawan. Semestinya Palgunadi, oposannya, satria Paranggelung, juga sah dijadikan idola anak muda. Kenapa sampai anak-anak muda perkotaan yang bisa mengeruk berbagai info dari internet, tak cuma dari dalang-dalang senior, juga terkecoh? Pertama, ini menunjukkan bahwa dalam hal wayang, internet dan buku-buku tak seberpengaruh dalang. Kedua, ya itu tadi, para dalang, terutama dalang senior meski tak semuanya, selalu menyembunyikan brengseknya Arjuna. Culasnya Arjuna dan segenap orang Pandawa dikasih aling-aling tedheng oleh pada umumnya para dalang senior. Hampir tak lumrah ditampilkan blakblakan bagaimana Arjuna sakit hati karena sebagai lelananging jagad kali pertama ditampik perempuan, Dewi Anggraini, istri Palgunadi. Dan bagaimana si ksatria majenun yang kata banyak orang tanpa cacat itu dengan culas meminta gurunya, Durna, mengusir rekannya sesama murid, Palgunadi alias Bambang Ekalaya. Palgunadi Edan! Masyarakat begitu kagum pada Arjuna. Bagaimana rezim mapan bisa ada yang mengontrol, bisa ada oposisi, kalau masyarakatnya kagum tanpa reserve pada Pandawa, dan Pandawa selalu dikaitkan bawah sadar sebagai kelompok mapan? Kelompok mapan itu kalau pada zaman Pak Harto ya Golkar. Pada zaman Gus Dur ya PKB. Sekarang ya PDI-Perjuangan. Saking membabi butanya pada Arjuna, bisa dipastikan petugas pendaftaran Pemilu di Jawa lebih banyak mencatat nama Permadi dan seabrek alias Arjuna lainnya ketimbang Palguna. Seumur hidup saya cuma punya sejumput nama Palgunadi: pertama, Mas Bram Palgunadi asal Semarang, pelatih di Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa Institut Teknologi Bandung; Mas Bambang Ekalaya, salah satu pemimpin di (dulu) IPTN Bandung dan bisa mendalang; Mas Palgunadi Setiawan yang pernah memimpin Astra. Ya, tapi itu tadi. Lagi-lagi empunya nama Palgunadi atau Bambang Ekalaya cuma segelintir orang. Umumnya latar keluarganya terpelajar. Artinya orangtuanya sudah membaca dan diperkaya oleh banyak karya sastra Jawa dan tak cuma dicekoki oleh pakarti dalang-dalang majenun, yaitu dalang-dalang yang sering kali dianggap pakem tapi sebenarnya menyesatkan masyarakat, yaitu dalang-dalang yang diaanggap serta didudukkan sebagai dalang pakem karena yang mendudukkan senang serta diuntungkan oleh sesatnya masyarakat, lantaran di atas masyarakat terkecoh itulah oposisi mustahil tumbuh. Sumpah, saya plonga-plongo, kok yang diributkan belum lama ini goyang bor Inul Daratista? Kok dalang-dalang yang bikin sesat masyarakat tidak diributkan juga? Mungkin karena gerak erotis Inul lebih kasatmata sehingga gampang dinilai, sedangkan para dalang yang secara subversif alias bawah permukaan mencekoki masyarakat bahwa oposisi itu jelek, tidak langsung terlihat dampaknya. Padahal, menurut pendapat saya, dampaknya sudah byar padhang terterawang jelasnya. Masyarakat tak bisa menghargai oposisi. Adanya pemerintahan koalisi seperti hari ini, bisa saja karena partai-partai ingin dapat jatah duit juga dengan sabetan jadi menteri. Tapi sebagian lagi lantaran partai-partai itu sadar, menjadi oposan tak dihargai oleh orang-orang yang bawah sadarnya sudah terkena polusi para dalang majenun. Pepadi Kini sampailah ajakan tinjau diri saya ajukan kepada Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Semestinya hal berikut saya tuangkan intern saja. Namun karena saya anggap isinya bisa menyangkut kepentingan umum, saya beberkan saja di sini. Sekalian, dengan menggelar unek-unek di depan umum, siapa tahu makin banyak yang bisa terlibat dan dengan begitu saya juga bisa mendapat banyak masukan jika pendapat-pendapat saya ternyata keliru. Cekak aos: sebenarnya Pepadi beserta sejawatnya, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), didirikan untuk apa? Kalau tujuan berdirinya Pepadi untuk melestarikan seni adiluhung, bisa jadi Pepadi sudah melenceng dari paugeran. Hampir semua pakar kesenian mengakui bahwa besar tidaknya serta langgeng tidaknya karya seni bukan ditentukan oleh konflik kebenaran dan kesalahan di dalam kesenian yang bersangkutan. Seraya, biasanya, mengajukan karya-karya Yunani sebagai contoh, para empu bilang, keagungan dan keabadian karya seni ditandai oleh pertemuan kebenaran dan kebenaran dan kebenaran dan kebenaran. Di tangan swargi Ki Nartosabdho dari Semarang, misalnya, kalau pihak Pandawa sedang berbicara, seolah-olah Pandawa benar. Ketika pihak Kurawa, rivalnya, menanggapi kata-kata Pandawa tadi, ganti seolah-olah Kurawa yang benar. Ditanggapi lagi oleh Pandawa, ganti tampak benar keturununan Pandu itu. Eh, ketika ditanggapi lagi oleh Kurawa, kebenaran seperti bergeser ke pihak anak-anak Destarastra itu. Begitu dan seterusnya. Kebenaran jadi bertumpuk-tumpuk dari berbagai sudut pandang. Saya kurang yakin bahwa Pepadi beserta Senawangi sengaja membina para dalang sehingga bernalar sempit seperti pakai kacamata kuda, yang berakibat masyarakat memihak Pandawa seperti pada bagian tulisan ini sebelumnya. Terbukti, misalnya, Mas Eko Cipto dan Pak Solichin, para pemimpin Pepadi, juga mengakui kehebatan Ki Narto dalam mempertumpang-tindihkan berbagai kebenaran. Tapi, Pak Solichin dan para senior, kalau Pepadi memang tidak membina para dalang jadi majenun, kenapa dunia pedalangan bisa seperti sekarang, yang cepat menvonis oposan Kurawa dan Rahwana sebagai pihak yang melulu salah? Ranggawarsita Atau karena kekhilafan, artinya tanpa sengaja, terjadi pada para dalang sendiri? Misalnya mereka terlampau mendasarkan pewayangan Pustakarajapurwa karya Ranggawarsita, dan berbagai kitab-kitab saduran sebelumnya setelah orang Jawa diinjak-injak Belanda, Portugis, dan lain-lain? Artinya babon lakon-lakon wayang sekarang, yang tak menjunjung tinggi oposisi, yang membela habis-habisan Pandawa, adalah saduran Mahabarata dan Ramayana India ketika mental orang Jawa sudah jadi mental orang kalah, dan disadur oleh orang bermental kalah pula? Bukan kitab macam Astadasaparwa dalam bahasa Jawa kuno, ketika orang Jawa masih gagah-gagahnya? Pantas cerita-cerita yang muncul kemudian, termasuk gubahan atau carangan, tak mendukung oposisi. Selalu yang diagungkan adalah kelompok mapan, dan pada zaman Belanda yang mapan adalah Belanda. Bareng dengan tak adanya dukungan terhadap oposisi, mobilitas sosial vertikal yang mungkin dalam masyarakat demokrasi juga tak ada. Lakon-lakon rakyat menjadi raja, sejak Gareng Dadi Ratu, Bagong Ratu, Petruk Dadi Ratu, dan lain-lain, selalu berakhir dengan kesadaran mereka bahwa mereka tak pantas menjadi ratu! (18c)
- H Sujiwo Tejo, dalang, aktor film, dan penyanyi; tinggal di Jakarta |