logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 25 April 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Hubungan Degayu-Slamaran Putus

  • Jalan Rusak Parah

PEKALONGAN - Jalan desa Degayu-Slamaran sepanjang 3 km rusak parah. Akibatnya, hubungan masyarakat kedua wilayah itu putus sebulan ini. Jalan rusak karena banyak truk pengangkut material melewati jalan itu.

''Dalam sehari tidak kurang dari 30 truk pengangkut material melewati jalan Degayu. Karena itu, dalam waktu singkat jalan rusak parah. Pengemudi kendaraan roda empat dan dua tak mau lewat karena takut terjebak kubangan,'' kata seorang warga.

Ketua RW 1 Desa Degayu, Rohmani, menuturkan jalan itu rusak parah sejak sebulan lalu setelah dilalui truk dan peralatan berat yang mengangkut material pembangunan jembatan di Slamaran berkait dengan penyudetan Kali Banger. ''Satu truk minimal mengangkut 20 ton batu. Akibatnya, jalan cepat rusak,'' kata dia.

Namun pihak proyek tidak tinggal diam. Jalan yang rusak secepatnya ditimbuni batu krosok, sehingga tidak muncul kubangan yang dalam. ''Yang dikeluhkan warga adalah jika terjadi hujan. Jalan menjadi becek,'' katanya.

Sekretaris Desa Degayu, Saip, menyatakan upaya mengatasi kerusakan jalan itu tanggung jawab pemimpin proyek. ''Semestinya termasuk pembangunan selokan di jalan yang mampat,'' katanya.

Masyarakat Degayu memaklumi kerusakan jalan tersebut. Sebab, proyek itu untuk mencegah banjir di Kota Pekalongan. ''Sebelumnya jalan Degayu rusak parah saat pembangunan TPA. Namun setelah proyek selesai, jalan diperbaiki.''

Empat Jembatan

Wakil Pemimpin Bagian Proyek Penyudetan Kali Banger, Margono, dalam sidang di DPRD kemarin menyanggupi memperbaiki jalan yang rusak. Kesanggupan dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani Pemerintah Kota dan pemimpin proyek. ''Pokoknya jalan akan kami perbaiki setelah proyek selesai.''

Kerusakan itu, kata dia, tak terhindarkan karena truk pengangkut material hanya bisa melewati jalan itu. Material yang diangkut berupa batu-batu besar ukuran 70 cm, sehingga kerusakan jalan tidak terhindarkan.

Dalam proyek penyudetan yang menelan dana

Rp 29 miliar itu, kontraktor juga akan membangun empat jembatan di Kuripan Lor, Slamaran, Krapyak, dan di pantai.

Kontraktor juga membangun delapan pintu air untuk mengairi sawah di sekitarnya. ''Pintu air itu akan ditutup jika terjadi banjir, sehingga permukiman masyarakat sekitar tak tergenang air,'' katanya.

Berkait dengan proyek itu, anggota Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Abu Sofyan, meminta pemimpin proyek segera menyosialisasikan pembuatan tanggul sungai agar tidak dijebol warga. Jika penggunaannya tidak diinformasikan, tanggul itu dijebol warga dengan tujuan agar air sungai mengalir ke sawah. Padahal, jika tindakan itu dibiarkan, masyarakat yang merugi karena air akan menggenangi wilayah mereka.

''Karena itu pemimpin proyek harus memberikan penjelasan bahwa kontraktor juga akan membangun pintu air untuk pengairan sawah penduduk,'' katanya. (A15-20g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA