logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 24 April 2003 Sala  
Line

Ratusan Hektare Padi Terancam Puso

SUKOHARJO- Menjelang kemarau, para petani di Kecamatan Bulu waswas. Mereka khawatir tanaman padi mereka kekurangan air sehingga gagal panen. Menurut keterangan para petani, rata-rata tanaman padi sudah berumur 45 hari dan sudah "bunting".

Bila hingga akhir Mei mendatang hujan tidak turun lagi, padi bakal puso. Upaya petani untuk mengatasi kekurangan air dengan pompa tidak banyak membuahkan hasil.

''Jumlahnya sangat terbatas, tidak cukup dipakai para petani yang jumlahnya ratusan orang,'' tutur seorang petani.

Ketua Pusat Koperasi Kelompok Tani (PKKT) Subari Prathondo mengatakan, luas areal yang kekurangan air 241,5 ha. Sudah lama para petani bergotong-royong membuat sumur pantek 137 buah, sedangkan jumlah mesin diesel pemompa air hanya 44 buah.

''Jelas jumlah itu tidak mencukupi, minimal harus ditambah 20 buah.''

Sayang, kemampuan daya beli petani saat ini sangat rendah. Dia meminta Pemkab ikut memikirkan permasalahan itu dengan meminjami mesin pompa kepada petani. Selanjutnya petani menyewa di bawah koordinasi kelompok tani setempat. ''Tahun 2001 petani menerima bantuan bibit padi. Mungkin kalau ada bantuan lagi, bisa diwujudkan mesin pompa agar lebih bermanfaat.''

Dia mengakui, kondisi tersebut selalu terjadi setiap tahun. Karena itu, cara satu- satunya adalah mengubah pola tanam petani. Untuk mengatasi kekurangan air, petani harus diarahkan untuk menanam palawija. Sebab, bila terus-menerus menanam padi, kebutuhan air tidak mungkin tercukupi.

Bengawan Solo

Kekhawatiran menjelang kemarau juga dialami para petani Desa Ngrombo, Kecamatan Baki. Mereka khawatir tidak dapat menanam padi karena kekurangan air. Semula petani masih bisa menyiasati dengan memompa air dari aliran Bengawan Solo.

''Namun setelah pembangunan tanggul Bengawan Solo terealisasi, petani mulai merasakan dampaknya,'' keluh Lurah Desa Ngrombo Setiadi.

Jarak Bengawan Solo jauh, masih ditambah lagi harus melintasi tanggul. Akibatnya, pompa air tak mampu mengalirkan air secara maksimal. Karena dipaksa terus-menerus, pompa tidak kuat dan akhirnya rusak. Pihaknya lalu mengajak petani membeli mesin pompa dengan cara patungan.

''Kami juga mencoba menyedot air dari Sungai Brambang yang masuk wilayah Klaten.''

Upaya lain, mencoba tanaman palawija. Pihaknya mengajak beberapa petani studi banding ke Klaten yang telah mengembangkan tanaman jagung. Keinginan itu pun kandas. ''Setelah kami bertemu dengan petani jagung di sana, ternyata hasilnya tidak menggembirakan. Saat musim panen harga jatuh sehingga petani rugi.'' (G10-78c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA