logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 24 April 2003 Berita Utama  
Line

Kasus Mirip QSAR Terulang, Kerugian Rp 253,5 M

MALANG- Lagi, kasus yang nyaris sama dengan PT QSAR terulang. Kali ini terjadi di Malang dan Surabaya. Korbannya lebih merata, mulai masyarakat kecil, pegawai rendahan, pejabat, dosen, anggota dewan, bahkan direktur sebuah sekolah bisnis terkemuka di Malang. Lebih mencengangkan lagi, seorang kepala Kandiknas dituding sebagai pengepul guru-guru untuk ikut arisan tersebut.

Kegiatan yang ditangani PT Pohon Mas Mapan Sentosa (Pomas) dengan Dirut Mohammad Nassa telah menimbulkan kerugian besar.

Sumber di Polresta Malang mengungkapkan, kerugian yang timbul dari arisan Pomas ini Rp 253,5 miliar dengan jumlah nasabah yang mengalami kerugian 39.000 orang di berbagai kota di Jatim.

Kini Mohammad Nassa dikabarkan berada di Jerman, sedangkan adik kandungnya, Yusuf Nassa, yang tinggal di rumah mewah Jalan Titan Asri X/14 sekaligus menjadi wakilnya, sudah beberapa hari lalu menghilang. Sementara itu, Choiri, salah satu leader besar di Malang dan Nur Mufid pun diperiksa polisi.

Perkembangan terbaru, Agus Basuki, Director School of Business (SOB) Malang juga sudah ditahan, karena dia berperan sebagai subleader dengan 400 customer. Kapolresta Malang AKBP Drs Fatkhul Rachman menjelaskan, status Agus Basuki sudah resmi menjadi tersangka.

Sebab, dia menangani arisan kendaraan roda empat. Berdasarkan pengakuan Agus Basuki saat ditemui di Mapolresta, memang sudah ada beberapa yang lancar tapi selebihnya macet.

Sementara bagi subleader yang membawahi beberapa customer, seperti Agus Basuki yang kini didampingi pengacara Wahab Adinegoro SH, bisa memperoleh Taruna atau Aerio hanya dengan uang Rp 39,5 juta meski BPKB masih berada di tangan dealer. "Awalnya lancar sekali, tapi kemudian macet."

Kasiyono, supir pejabat di jajaran Pemkot Malang juga mengaku bingung, sedih, dan susah, karena ikut arisan dengan nilai jutaan rupiah.

Padahal, mengandalkan perolehan dari arisan Pomas, dia sudah kredit motor 17 bulan dengan uang muka Rp 2,8 juta dan angsuran setiap bulan Rp 760.000. Ternyata kendaraan yang baru dibeli Desember 2002 dan angsuran baru berjalan dua bulan, dia mengaku sudah tidak sanggup lagi meneruskan. Sementara itu untuk mencari pembeli yang mau oper kredit, sulitnya setengah mati, apalagi bila melihat nilai angsurannya sangat tinggi.

Di lingkungan Diknas Kota Malang, kalangan guru-guru sudah mengomplain saat ikut arisan Pomas, karena ada ajakan dari Kepala Kandiknas untuk ikut arisan motor. Ternyata hingga sekarang motornya tidak muncul, sementara uangnya tidak ada kabar beritanya.

Kepala Kandiknas Drs Sofwan membantah keras ikut memengaruhi guru-guru untuk ikut arisan tersebut. Bahkan bantahannya itu diperkuat bahwa dirinya tidak ikut Pomas.

Memang pada awal-awal operasinya sudah banyak yang memperoleh motor, mobil, atau uang seperti yang dijanjikan.

Bahkan seorang guru salah sebuah SLTP negeri di Malang, tiap pagi mengajar dengan membawa mobil Taruna yang membuat iri kalangan guru lain.

Bahkan ada yang hanya swasta dengan penghasilan pas-pasan mengalami nasib serupa, bisa membawa Taruna karena dapat melobi banyak anggota masyarakat untuk ikut kegiatan ini.

Sementara itu salah seorang leader, Mohammad Choiri, yang sebelumnya kontak dengan Yusuf Nassa, menuturkan bahwa Yusuf sengaja tinggal di Surabaya karena alasan keamanan. Bahkan Yusuf Nassa membicarakan soal kelanjutan bisnis Pomas, terutama untuk arisan motor Rp 6 jutaan.

Pasalnya, perusahaan itu mengambil 150 unit motor Honda Supra untuk karyawannya dengan harga Rp 6 juta per unit. Perusahaan itu sudah menyerahkan uang Rp 900 juta. Per bulan dijanjikan keluar 10 unit, tapi baru keluar sekali, bulan berikutnya macet. Sejak itu, Nassa tidak tampak batang hidungnya.

Tidak beda jauh dari QSAR, rumah Choiri dan Mohammad Nassa juga didatangi ratusan customer Pomas yang menunggu kepastian informasi pencairan voucher yang sudah molor. Tetangga Nassa di kompleks perumahan Titan Asri mengungkapkan, sejak seminggu lalu Yusuf Nassa, Wakil Dirut Ponmas itu, bersama keluarganya tidak ada di rumah. "Sejak tiga hari lalu, polisi sering menjagai rumah Pak Nassa. Namun, orangnya sudah lama tidak ada."

Puluhan customer yang membentuk wadah Forum Peduli Korban Pomas (FPKP) nglurug rumah H Moch Choiri di Jalan Ikan Kakap 1 Kota Malang, Senin lalu. Choiri seorang leader Pomas sekaligus Komisaris PT Pomas. Aksi itu untuk menekan agar perusahaan itu menepati janji membayar voucher keuntungan pada minggu ke-4 April, sesuai dengan penjelasan Direktur Drs Muhammad Nassa di media massa.

Massa FPKP pimpinan Agus Mulyono tiba pukul 13.30. Saat enam orang wakil massa hendak menumpahkan unek-uneknya kepada Choiri, pintu gerbang rumahnya dipagar betis petugas. Dialog di teras rumah berlangsung sengit.

"Saya sudah tak punya apa-apa. Mobil-mobil juga habis terjual. Sementara itu, mobil Jaguar saya juga sudah saya kembalikan ke leasing (lembaga pembayaran). Mobil itu kan saya beli dengan kredit," ungkap Choiri, mantan karyawan Bank Umum Nasional (BUN) ini.

Jadi Buron

Sementara itu, enam tim dari aparat reserse dan IPP Polresta Malang dikerahkan memburu Dirut PT Pohon Mas Mapan Sentosa Drs H Muhammad Nassa MBA dan wakilnya Yusuf Nassa yang dinilai paling bertanggung jawab atas kasus ini.

Kakak beradik yang menduduki top leader di Pomas itu sejak dua minggu lalu sudah tidak diketahui keberadaannya. Karena itu, Polresta Malang memasukkan mereka dalam daftar pencarian orang (DPO).

"Kakak beradik itu resmi kami jadikan DPO. Kami sudah beberapa hari ini mencari semua tempat persembunyian mereka baik di Kota Malang maupun Surabaya. Namun belum juga ditemukan," ungkap Kapolresta Malang AKBP Drs Fatkurrahman SH MM kepada wartawan di Mapolresta, baru-baru ini.

Untuk memburu mereka, enam tim unit kecil lengkap (UKL) disebar ke beberapa daerah di Jatim, Bali, dan Jakarta.

"Namun sampai saat ini belum ada titik terang tentang keberadaan mereka," ujar Kapolresta.

Namun, Kapolresta mengaku belum ada rencana menarik anggotanya yang sudah disebar ke berbagai daerah itu, sebelum dapat mengendus keberadaan mereka. "Yang jelas, Yusuf Nassa belum kabur ke luar Jawa atau luar negeri. Namun soal kakaknya, Muhammad Nassa, belum bisa dipastikan apakah dia sudah kabur ke luar negeri atau belum," ujarnya.

Kapolresta memperkirakan Yusuf Nassa masih tinggal dari hotel ke hotel di Surabaya. Karena itu, dia sudah minta bantuan Polda Jatim untuk membantu mengendus keberadaan Yusuf Nassa.

"Anggota kami terbatas. Padahal Polda lebih mengusai medan di Surabaya, sehingga kami langsung koordinasi dengan Polda," ujarnya.

Kapolresta menegaskan, pihaknya tidak main-main dengan kasus kemacetan arisan Pomas ini. Untuk mengusut tuntas kasus itu, Polresta kini menyiapkan 62 penyidik. Selain itu, sarana untuk penyidikan seperti komputer juga ditambah. "Biar pelayanan kami cepat. Karena setiap hari pelapor Pomas terus bertambah, hingga penyidik kewalahan," kata Fatkurrahman.

Tidak hanya itu, lanjutnya, untuk menuntaskan penyidikan polisi diharuskan stand by di Mapolres 24 jam. "Sudah seminggu ini kami lembur tiap malam untuk menuntaskan berkas para pelapor dan tersangka," jelasnya.

Wakil Direktur Reserse Kriminal (Wadir Reskrim) Polda Jatim, AKBP Drs Syahrul Mama melalui Kasat Reserse Ekonomi (Resek) Kompol Drs Wirdhan Deni menyatakan telah mengirim tim ke Malang untuk membantu penyidikan kasus Pomas.

Dia mengemukakan, tugas tim dari Polda hanya mem-back up, sedangkan penanganannya telah diserahkan pada Polwil Malang dan Polwiltabes Surabaya. "Kami telah mengirim empat orang yang dipimpin Kompol Slamet P untuk membantu penyidikan kasus itu," tutur Wirdhan Deni.

Dia mengemukakan, saat ini polisi telah melacak keberadaan pimpinan Pomas di Surabaya. Namun sampai hari ini, polisi masih kesulitan melacaknya. Pasalnya, ucap Wirdhan, kantor Pomas di Surabaya lebih dari satu tempat.

Wirdhan mengungkapkan, untuk dapat memastikan siapa-siapa pimpinan Pomas Surabaya yang layak dijadikan tersangka, pihaknya masih menunggu kembalinya tim dari Malang.

Sementara itu Kasatserse Polwiltabes Surabaya AKBP Drs R Sigit TH melalui Kanit Resek AKP Sumani mengaku belum menerima perintah dari Polda untuk mengambil alih penanganan kasus Pomas di Surabaya. (jo-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA