
| Kamis, 24 April 2003 | Semarang & sekitarnya |
Rob Meluas akibat Saluran Tak Optimal
SEMARANG TIMUR- Salah satu penyebab meluasnya rob hingga di Jalan Raden Patah adalah tidak optimalnya sistem saluran. Ada berbagai saluran sekunder yang mengakses ke Jalan Pengapon dan Raden Patah. Sebagian berhubungan dengan Kali Banger. Sebagian lagi berhubungan dengan saluran Jalan Mpu Tantular. Berdasarkan pengamatan, saluran yang berhubungan dengan Kali Banger, antara lain dari Pengapon di dekat Pertamina ke arah timur dan berakhir di pompa Kali Banger. Setiap kali air laut pasang, air berbalik ke Kali Banger. Agar air tidak masuk ke saluran sekunder, maka mulut saluran dipasang pintu air. Sedangkan untuk mengeluarkan air, dilakukan dengan pemompaan. Pemasangan pintu air juga dilakukan di mulut saluran sekunder di dekat Jembatan Kali Banger di sebelah barat Jembatan Kaligawe. Namun pintu-pintu air tersebut kini sering tidak bisa menutup rapat, sehingga fungsinya tidak optimal. Selain kondisi pintu air perlu perbaikan, sampah saluran sering pula mengganggu. Hal itulah yang memungkinkan air rob masuk ke saluran sekunder. Ketika air saluran itu limpas, warga termasuk pengguna jalan merasa dirugikan. Sistem Kali Banger, mestinya terpisah dengan sistem Polder Tawang. Pemisahan tersebut sebenarnya sudah dilakukan saat pembangunan Polder Tawang. Saat itu aliran air dari arah Rejomulyo yang menuju ke Polder Tawang diputus. Hal itu agar air dari Rejomulyo bisa masuk ke Kali Banger. Namun karena warga sekitarnya pada saat musim hujan terus-menerus kebanjiran, maka sumbatan itu dijebol lagi. Akibatnya air dari Rejomulyo masuk ke kolam retensi Tawang. Padahal, kolam retensi itu semula dirancang untuk mengendalikan aliran dari sekitar Bundaran Bubakan dan Kota Lama. Air dari kolam retensi, kemudian dibuang melalui rumah Pompa Kalibaru. Akibat pemisahan yang tidak jelas ini, beban pompa bertambah. Hal ini akan sangat terasa ketika terjadi hujan lebat. Saat itulah air kolam retensi tidak bisa cepat tersedot. Akibatnya genangan di bundaran Bubakan dan sekitarnya, tidak bisa segera surut. (G6-73) |