logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 24 April 2003 Internasional  
Line

Arafat-Mahmud Abbas Atasi Perbedaan

RAMALLAH - Presiden Palestina Yasser Arafat dan PM Mahmud Abbas telah berhasil mengatasi perbedaan pandangan di antara mereka mengenai susunan kabinet, kata seorang pejabat senior Palestina, Selasa malam.

"Situasinya kini sudah lebih baik daripada sebelumnya dan kabinet Palestina akan bisa diumumkan dalam waktu 24 jam mendatang," kata pejabat Palestina itu, yang tidak bersedia disebutkan namanya, kepada wartawan.

Perbedaan pandangan antara Arafat dengan Abbas bisa dipersempit setelah Komite Sentral faksi Fatah mengadakan pertemuan Selasa malam lalu, jelasnya.

Sebelum pernyataan itu, seorang asisten dekat PM Abbas mengungkapkan tokoh pembaharuan Palestina itu telah menulis surat pengunduran diri namun belum disampaikan kepada Arafat (73). Abbas masih berharap akan terjadi perkembangan baru.

Sebelumnya, Minggu lalu, proses pembentukan kabinet baru yang akan dipimpin PM Abbas diwarnai perbedaan pendapat antara tokoh yang juga dikenal dengan nama sebutan Abu Mazen tersebut dengan Presiden Arafat.

Abbas bahkan menyampaikan ancaman terbuka untuk mundur, ancaman kedua yang disampaikannya dalam sebulan terakhir. Titik perbedaan sekitar rencana Abbas untuk mengangkat kepala keamanan Jalur Gaza, Mohammad Dahlan, sebagai pemimpin keamanan dalam negeri.

Tuntutan Washington

Abbas diberi batas waktu sampai hari Rabu untuk membentuk kabinet baru, setelah Arafat, berdasarkan undang-undang, harus mengangkat seorang perdana menteri baru untuk membentuk pemerintahan.

Pengangkatan Abbas sebagai perdana menteri bulan lalu itu berdasar tuntutan utama Washington, sebagai prasyarat bagi dukungan Washington terhadap penerapan "Peta Jalan", sebutan bagi proses rencana pembentukan negara Palestina merdeka sekitar tahun 2005.

Presiden AS George W Bush mengatakan dia baru akan mengumumkan "Peta Jalan" internasional bagi proses perdamaian Timur Tengah apabila Abbas mengumumkan kabinet barunya.

Tetapi para pejabat yang dekat dengan perundingan pembentukan kabinet itu mengatakan, kendati banyak pengangkatan telah disetujui, Arafat berulangkali menolak mengangkat Dahlan sebagai pemimpin keamanan dalam negeri.

Dahlan, mantan kolonel pasukan keamanan yang bertugas mencegah serangan terhadap Israel, melepaskan jabatannya tahun lalu - setelah bertikai dengan Arafat. Arafat dituduh oleh Israel dan AS tidak banyak berbuat untuk memerangi "terorisme".

Dahlan dianggap sebagai tokoh keras yang pengangkatannya akan disambut baik oleh AS, yang akan menekan kedua pihak untuk menemukan penyelesaian atas krisis 30 bulan setelah AS berhasil mengendalikan situasi di ibukota Irak, Bagdad.(ant-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA