
| Kamis, 24 April 2003 | Internasional |
AS-Korut Mulai Berunding
MOSKWA - Wakil Menlu Rusia Alexander Losyukov kemarin mengatakan, Semenanjung Korea masih di ambang bencana, meski AS dan Korut mulai melakukan pembicaraan tentang penyelesaian ketegangan tersebut. "Mungkin saja, perundingan-perundingan besok malah mendatangkan bencana," tulis kantor berita Itar-Tass, mengutip pernyataan Losyukov di Tokyo, setelah melakukan pertemuan dengan para pejabat Jepang, Rabu. Utusan AS dan utusan Korut kemarin mulai berunding di Beijing, dengan tujuan mengakhiri perselisihan mengenai dugaan bahwa Pyongyang mengembangkan program senjata nuklir. Asisten Menlu AS James Kelly mulai mengadakan pembicaraan dengan utusan Korut di ibu kota Cina itu. Tetapi, hanya sedikit kalangan memperkirakan akan ada terobosan dari perundingan tersebut. Lantaran Li Gun, juru runding Korut, dipandang masih terlalu yunior untuk membuat kesepakatan, para diplomat menduga tatap muka formal pertama antara Washington dan Pyongyang (sejak krisis dimulai Oktober lalu) itu kemungkinan hanya menghasilkan rencana untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut. Kelly dan Li melakukan perundingan tertutup di Wisma Tamu Negara Diaoyutai, suatu kompleks taman yang dikelilingi dinding tinggi di Beijing. Cina berusaha menjadi perantara dalam pembicaraan tersebut, namun tidak ada komentar dari para pejabat Cina yang terlibat. Korut menginginkan jaminan keamanan dari AS, serta bantuan dan pengakuan diplomatik. Pyongyang juga membutuhkan kekuatan militer untuk bertahan dari ancaman serangan. Takkan Terjembatani Washington mengatakan Korut, yang oleh Presiden George W Bush dimasukkan dalam "poros kejahatan" bersama Iran dan Irak, harus membatalkan program nuklirnya sebelum AS mengajukan jaminan. Jurang pemisah yang lebar itu kemungkinan tidak dapat dijembatani pekan ini, dan pertemuan-pertemuan di Beijing hanya menandai apa yang mungkin menjadi proses panjang penyelesaian krisis tersebut. Kehadiran Jo Myong-rok (tokoh militer kedua setelah pemimpin Korut Kim Jong-il) di Beijing, mengindikasikan Pyongyang giat mengusahakan jaminan agar AS tidak menyerang Korut, kata para analis Cina. Jo, yang meninggalkan Beijing kemarin siang setelah mengadakan lawatan tiga hari, bertemu dengan Jenderal Guo Boxiong, Menhan Cina Cao Gangchuan, dan kemudian menemui Presiden Hu Jintao. "Kunjungan Jenderal Jo ke Beijing merupakan isyarat sangat penting," kata Profesor Zhu Feng dari Universitas Beijing. "Pyongyang tampaknya mati-matian mengupayakan jaminan keamanan dari AS." Berdasarkan informasi pejabat AS di Beijing, sumber pejabat tinggi Jepang di Tokyo mengatakan delegasi Korut tampak sangat gelisah. "Saya yakin Cina telah memberikan tekanan signifikan pada Korut," kata sumber itu. Tetapi Korut tampaknya tidak mungkin melakukan terobosan berarti. Li mungkin hanya membahas masalah-masalah prosedural, kata seorang diplomat Barat. "Dia hanya punya keleluasaan terbatas untuk berunding." Dan, katanya, keputusan nyata tetap terletak di tangan Kim Jong-il. Jika pertemuan terus berlangsung alot, dan kedua pihak sulit menemukan terobosan, Korut telah bersiap diri dengan sejumlah kemampuannya, terutama kemampuan militer. Angkatan Bersenjata Korut tercatat sebagai militer ke-5 terbesar di dunia. Pasukan aktif 1,14 juta orang, cadangan 7,45 juta, dan pasukan khusus sekitar 100.000 anggota (terbesar di dunia). Sekitar 70 persen tentara Korut disebar di sepanjang 65 kilometer Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korut dan Korsel. (rtr-ben-30) |