
| Kamis, 24 April 2003 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Warga Irak Kesulitan Jadi WNIYOGYAKARTA - Salah Kaduri Haza'a, warga Irak yang kini sedang menempuh studi S3 di UGM mengeluhkan kesulitan anaknya menjadi WNI. Padahal anak tersebut merupakan hasil perkawinannya dengan seorang WNI, Dyastriningrum S. "Indonesia masih memegang teguh budaya patriarkhal sehingga seorang anak hasil perkawinan perempuan Indonesia dan pria WNA tak bisa menjadi WNI," tandas Dyastriningrum kepada sejumlah wartawan, Rabu (23/4) kemarin. Budaya tersebut tampak dalam asas yang digunakan bagi kewarganegaraan seseorang, isu sanguinis. Dengan asas itu kewarganegaraan seseorang mengikuti ayahnya. Jelas, perempuan dalam hal ini dinomorduakan, tak ada kesetaraan gender. Menurut dia, pemerintah perlu meninjau kembali peraturan perundangan mengenai kewarganegaraan yang diskriminatif. Dengan adanya emansipasi perempuan, seorang perempuan yang menikah dengan laki-laki WNA memiliki hak untuk anak yang dilahirkan dari rahimnya menjadi WNI sejak lahir. Dyastriningrum sudah sejak tahun 1999 memperjuangkan kesetaraan gender dalam hal kewarganegaraan, namun belum ada tanggapan dari berbagai pihak, termasuk kelompok-kelompok perempuan. Pernah ada yang menjanjikan untuk berjuang bersama tapi sampai sekarang tak jelas kabarnya. Dia menceritakan pengalamannya ketika memperjuangkan kesetaraan gender kewarganegaraan. Ada yang mencemooh dengan mengatakan anak tidak akan jadi kalau tak ada benihnya. "Itu sangat menyakitkan, karena sama saja menganggap rendah perempuan," kritiknya. (D19-74) |